Narayapost – Bandara California Tanpa Pengatur Lalu Lintas Saat Shutdown AS. Pemerintahan Amerika Serikat kembali menghadapi kekacauan akibat shutdown anggaran yang sudah berlangsung sejak awal Oktober 2025. Dampak paling mencolok muncul di sektor transportasi udara, ketika Bandara Hollywood Burbank di California sempat beroperasi tanpa satu pun petugas pengatur lalu lintas udara atau air traffic control (ATC).
Kejadian langka ini berlangsung selama hampir enam jam, dari pukul 16.15 hingga 22.00 waktu setempat. Selama periode itu, menara kontrol di bandara tidak dijaga oleh personel FAA (Federal Aviation Administration) karena sebagian petugas harus dirumahkan sementara akibat penghentian anggaran pemerintah federal. Situasi ini menimbulkan kepanikan ringan di kalangan penumpang dan operator maskapai.
BACA JUGA : Badai Angin Landa Gunung Everest, Ratusan Pendaki Dievakuasi
Pihak otoritas penerbangan Amerika, Federal Aviation Administration (FAA), membenarkan bahwa operasional pengawasan udara di Burbank dialihkan sementara ke pusat kendali jarak jauh di San Diego.
“Kami memastikan pengawasan tetap dilakukan melalui radar dan sistem komunikasi jarak jauh. Meski begitu, kami tidak menutup mata bahwa kapasitas layanan menjadi terbatas,” ujar juru bicara FAA, Kristen Alsop, dalam keterangan resminya di Washington.
Akibat kekosongan petugas tersebut, sejumlah penerbangan mengalami penundaan cukup signifikan. Data otoritas bandara mencatat rata-rata keterlambatan mencapai hampir dua jam, sementara beberapa penerbangan bahkan harus dijadwal ulang. Meski teknologi radar dan sistem otomatis masih berfungsi, kehadiran petugas ATC di menara pengawas tetap dianggap tak tergantikan demi menjaga keselamatan.
Shutdown yang terjadi di Amerika Serikat kali ini disebabkan oleh kegagalan Kongres menyetujui rancangan anggaran untuk tahun fiskal baru. Sekitar 900 ribu pegawai federal terpaksa dirumahkan tanpa bayaran, termasuk ribuan petugas penerbangan. Kondisi tersebut menekan operasional bandara di berbagai wilayah, dari California hingga New York.
Menteri Transportasi Amerika Serikat, Sean Duffy, mengakui bahwa situasi kekurangan tenaga sudah mulai berdampak pada jadwal penerbangan di sejumlah kota besar.
“Kami mengalami penurunan kehadiran petugas hingga 50 persen di beberapa wilayah. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, kami akan mempertimbangkan pembatasan penerbangan demi menjaga keselamatan penumpang,” ujar Duffy.
Serikat pekerja pengatur lalu lintas udara, National Air Traffic Controllers Association (NATCA), juga melayangkan kritik keras terhadap pemerintah federal. Mereka menilai shutdown kali ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem penerbangan nasional ketika politik menghambat pendanaan publik.
“Sistem ini sudah lama kekurangan sumber daya manusia. Shutdown hanya memperparah situasi. Ini bukan sekadar masalah gaji, tapi soal keselamatan publik,” tulis pernyataan resmi NATCA.
Dampak shutdown tidak hanya terasa di California. Beberapa bandara besar lainnya seperti Denver, Las Vegas, dan Phoenix juga melaporkan keterlambatan penerbangan akibat kekurangan staf ATC dan petugas keamanan. Di sejumlah lokasi, antrean di pos pemeriksaan keamanan menjadi lebih panjang karena pegawai yang tetap bekerja tanpa gaji mulai kewalahan.
Gubernur California, Gavin Newsom, tak tinggal diam. Ia menyebut kejadian di Bandara Burbank sebagai contoh nyata dampak buruk kebuntuan politik di Washington.
“Menara pengatur lalu lintas udara di Burbank benar-benar kosong selama berjam-jam. Ini tidak bisa dibiarkan. Infrastruktur vital seperti bandara tidak boleh lumpuh hanya karena perebutan kekuasaan politik,” tegas Newsom dalam konferensi persnya di Sacramento.
Pengamat penerbangan dari Colorado State University, Jeffrey Price, menilai situasi ini sebagai alarm serius bagi dunia penerbangan Amerika.
“Shutdown berkepanjangan bisa memicu efek domino yang besar. Penundaan kecil bisa berlipat menjadi gangguan besar. Sistem penerbangan AS sedang diuji ketahanannya,” jelas Price.
Peristiwa ini bukan yang pertama. Shutdown serupa pernah terjadi pada 2018–2019 saat masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Kala itu, ribuan petugas bandara mogok bekerja karena tidak menerima gaji selama berminggu-minggu, menyebabkan antrean panjang dan keterlambatan di bandara-bandara besar.
Seorang petugas ATC di Los Angeles yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa tekanan mental menjadi tantangan utama.
“Kami bisa bertahan beberapa hari tanpa bayaran, tapi sistem tidak bisa terbang tanpa kami. Setiap menit di udara membutuhkan koordinasi manusia, bukan hanya radar,” ujarnya.
Sementara itu, masyarakat pengguna penerbangan mulai merasakan dampaknya secara langsung. Seorang penumpang asal California, Eleanor Scott, mengaku khawatir namun tetap memahami kondisi sulit yang dihadapi para petugas.
“Saya terkejut mendengar menara kontrol sempat kosong. Tapi saya juga paham para petugas bekerja dalam tekanan besar. Mereka pantas mendapatkan dukungan, bukan hanya kritik,” katanya.
Shutdown pemerintahan AS kini memasuki minggu kedua, dan belum ada tanda-tanda kesepakatan di Kongres. Banyak pihak memperingatkan bahwa jika situasi ini terus berlanjut, efeknya akan semakin meluas ke sektor ekonomi, perdagangan, dan keamanan nasional.
Meski FAA menyebut keselamatan penerbangan masih terkendali berkat sistem radar cadangan dan pengawasan jarak jauh, para pakar menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup. Operasi udara modern tetap membutuhkan koordinasi manusia di lapangan untuk menjamin keamanan penuh.
BACA JUGA : Waspadai Hoaks BBM: Uji Oktan & Batas Isi Palsu
Bagi banyak pihak, peristiwa di California menjadi cermin bahwa stabilitas politik memiliki dampak langsung terhadap keselamatan publik. Shutdown bukan hanya istilah birokrasi, melainkan situasi nyata yang bisa menonaktifkan layanan vital sebuah negara.
Shutdown kali ini menjadi pelajaran penting bahwa efisiensi birokrasi dan keamanan nasional tidak bisa berjalan tanpa sinergi politik. Dan seperti yang diungkapkan oleh seorang petugas FAA, “Ketika politik berhenti, radar masih berputar, tapi kepercayaan publik mulai mati perlahan.”