NarayaPost – Banjir di Thailand sebabkan 22 orang tewas dan 370.000 warga di 19 provinsi turut terdampak, menurut laporan dari Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand (DDPM). Kejadian ini sejak awal Oktober 2025. Provinsi yang paling terdampak meliputi Uttaradit, Sukhothai, Phitsanulok, Phichit, dan Ayutthaya, di mana hujan lebat berkepanjangan menyebabkan sungai-sungai utama meluap.
Curah hujan yang tinggi akibat musim monsun memperparah kondisi, menyebabkan banjir di area dataran rendah. Tim penyelamat telah dikerahkan ke berbagai wilayah terdampak untuk membantu proses evakuasi dan penyaluran bantuan darurat. Pemerintah juga mengumumkan bahwa lebih dari 109.000 rumah tangga terdampak akan menerima bantuan tunai sebesar 9.000 baht per keluarga.
BACA JUGA: Malaysia Klaim Skandal Naturalisasi Kesalahan Teknis
Otoritas Thailand menyampaikan bahwa meningkatnya debit sungai di wilayah tengah, termasuk sungai Chao Phraya, sebagian besar disebabkan oleh aliran air hujan yang sangat deras dari wilayah utara seperti Chiang Mai, Lampang, dan Phitsanulok. Volume air yang besar dari hulu membuat beberapa sungai meluap dan memperluas genangan ke provinsi-provinsi tengah seperti Ayutthaya, Lopburi, dan Pathum Thani. Pemerintah pusat bekerja sama dengan otoritas lokal dan lembaga seperti Badan Irigasi Kerajaan Thailand untuk mengendalikan arus air dan memperkuat sistem tanggul sementara di titik-titik rawan. Selain itu, jalur evakuasi dan pengiriman logistik ke wilayah terdampak dipercepat untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi di tengah kondisi sulit.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul telah menginstruksikan seluruh kementerian terkait untuk mengambil langkah-langkah darurat secara terkoordinasi, termasuk mempercepat bantuan tunai dan evakuasi medis. Sementara itu, Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt menegaskan bahwa ibu kota dalam kondisi siaga tinggi mengingat potensi limpahan air dari utara dan kemungkinan pasang air laut yang dapat memperparah genangan di beberapa distrik. Pemerintah Bangkok juga telah mengaktifkan sistem pompa dan memperkuat pemantauan di kanal-kanal utama. Meski genangan mulai surut di sejumlah wilayah, prakiraan cuaca dari Departemen Meteorologi Thailand menunjukkan bahwa hujan sedang hingga lebat masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan, sehingga status siaga banjir tetap diberlakukan di provinsi-provinsi berisiko tinggi.
Situasi banjir di Thailand diperburuk oleh kondisi geografis negara tersebut yang memiliki banyak sungai besar dan saluran air yang mengalir dari wilayah pegunungan ke dataran rendah tengah. Ketika curah hujan muson meningkat tajam pada awal Oktober 2025, air dari wilayah utara seperti Chiang Mai, Lampang, dan Phitsanulok memperbesar volume sungai yang mengalir ke provinsi seperti Sukhothai, Ayutthaya, dan Pathum Thani. Aliran air yang deras membuat beberapa tanggul dan saluran pengendali banjir tak mampu menahan tekanan, sehingga mengakibatkan kebocoran dan genangan luas. Menurut Badan Pencegahan dan Mitigasi Bencana Nasional (DDPM), banyak wilayah terdampak mengalami banjir mendadak pada malam hari, membuat warga tidak sempat untuk menyelamatkan barang-barang penting.
Sedangkan dampak ekonomi dan sosial dari banjir ini cukup besar. Kementerian Dalam Negeri Thailand melaporkan bahwa lebih dari 109.000 rumah tangga terdampak, sementara kerusakan terjadi pada ribuan rumah, lahan pertanian, infrastruktur jalan, dan fasilitas publik. Aktivitas ekonomi di beberapa kawasan industri terganggu, dan sektor pertanian menderita kerugian akibat tanaman rusak atau gagal panen. Beberapa sekolah dan kantor pemerintahan juga ditutup sementara. Pemerintah Thailand memperkirakan bahwa total kerugian awal mencapai ratusan juta baht, meskipun angka pastinya masih dalam proses pendataan. Bank for Agriculture and Agricultural Cooperatives (BAAC) menyatakan akan menyiapkan program pinjaman lunak dan bantuan khusus bagi petani terdampak. Sementara itu, prakiraan cuaca masih menunjukkan potensi hujan dalam beberapa hari ke depan, membuat pemerintah mempertahankan status siaga banjir di sejumlah wilayah hingga kondisi dinyatakan aman.
BACA JUGA: Kapten Timnas Indonesia Jay Idzes Habis-habisan Melawan Saudi
Dengan kondisi cuaca yang masih belum stabil, pemerintah Thailand menetapkan status siaga tinggi di sejumlah provinsi, terutama di wilayah tengah dan utara yang rentan terhadap limpahan air dari hulu. Departemen Meteorologi Thailand terus mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat dan gelombang banjir susulan, khususnya di area yang sistem drainasenya belum pulih sepenuhnya. Lembaga-lembaga terkait seperti Badan Irigasi Kerajaan, DDPM, serta otoritas lokal kini bekerja sama untuk mengelola distribusi air, memperkuat tanggul sementara, dan menyiagakan petugas di titik rawan. Tim medis dan relawan juga dikerahkan untuk membantu warga di pengungsian yang jumlahnya terus bertambah. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi resmi, menghindari daerah berisiko tinggi, dan bersiap dengan rencana evakuasi jika diperlukan.
Upaya komunikasi publik menjadi salah satu fokus utama dalam situasi ini. Pemerintah memanfaatkan berbagai kanal informasi, termasuk media sosial, SMS peringatan dini, dan siaran televisi untuk menyampaikan informasi cuaca, jalur evakuasi, serta lokasi-lokasi pusat bantuan. Gubernur Bangkok dan kepala daerah di wilayah terdampak juga aktif memberikan pembaruan situasi secara berkala guna menjaga kepercayaan masyarakat. Meskipun kondisi air di beberapa wilayah mulai surut, risiko banjir susulan tetap tinggi mengingat curah hujan yang belum mereda dan potensi air kiriman dari wilayah hulu. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pemantauan ketat dan memastikan keselamatan warga menjadi prioritas utama hingga situasi benar-benar terkendali.