Begini Cara Israel Rancang Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Israel dan Amerika Serikat (AS) membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, pada serangan pertama Operasi Kemarahan Epik, Sabtu (28/2/2026).

Sejak itu, perang segitiga tersebut terus berlanjut hingga hari ini.

Membunuh tokoh nomor satu di Iran yang berkuasa selama lebih dari dua dekade bukanlah hal mudah, bahkan bagi AS dan Israel.

Israel dikabarkan membajak ponsel hingga kamera orang-orang di Iran, untuk mengintai dan Khamenei.

Financial Times melaporkan pada Minggu (1/3/2026), aksi ini dilakukan Israel selama bertahun-tahun dengan menargetkan kamera-kamera lalu lintas, terutama yang mengarah ke kompleks kediaman supreme leader itu.

Israel mengawasi gerak-gerik pemimpin Iran itu, melalui kamera lalu lintas tersebut.

Negara Yahudi itu juga menggunakan analisis jaringan sosial, metode untuk mengumpulkan hubungan dalam kumpulan data besar, demi mengidentifikasi target dan struktur pengambilan keputusan di tubuh pemerintahan Iran.

Pada pagi hari ketika serangan, Israel disebut mendisrupsi belasan menara telepon seluler di dekat kediaman Ali, untuk mencegah tim pengawalnya menerima peringatan.

Israel dan AS menyerang kompleks kediaman Khamenei pada Sabtu (28/2/2026), hingga menewaskan Khamenei dan keluarganya.

Israel menjatuhkan tak kurang dari 30 bom presisi di lokasi tersebut.

Israel disebut mengetahui lokasi Khamenei hari itu dari intelijen Mossad dan konfirmasi dari AS.

Senjata yang digunakan Israel dikabarkan adalah rudal Sparrow, yang mampu menyerang target kecil sekalipun dari jarak lebih dari 1.000 kilometer, di luar jangkauan efektif pertahanan udara Iran.

BACA JUGA: Iran Bilang Trump Ubah Slogan America First Jadi Israel First

Menurut laporan, kurangnya tindakan pencegahan dari pihak Iran menjadi salah satu alasan mengapa Khamenei meninggal.

Khamenei selama ini dilaporkan bersembunyi di dalam bunker jika ada konflik yang mengancam.

Seorang sumber mengatakan, Khamenei tidak sedang berada di bunkernya ketika serangan terjadi.

Sebab, jika ia berada di salah satu dari dua bunkernya, Israel tidak akan mudah menjangkaunya.

Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, istri Khamenei, juga meninggal akibat serangan brutal AS dan Israel tersebut.

Tasnim, media semi Pemerintah Iran, melaporkan Mansoureh sempat koma sebelum meninggal.

Mansoureh juga dilaporkan mengalami luka serius.

Iran juga mengumumkan anak perempuan Khamenei, menantu, dan cucunya, ikut meninggal.

Menteri Pertahanan dan Panglima Pasukan Garda Revolusi Islam Iran juga jadi wafat.

Di hari pertama AS-Israel menyerang, Iran langsung membalas.

Iran juga membalas serangan dengan skala lebih besar dari sebelumnya, usai Khamenei dinyatakan meninggal.

Mereka menargetkan Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Pahlawan Sekaligus Tiran

Kematian Khamenei mengubah Iran, juga Timur Tengah.

Khamenei wafat di usia 86 tahun.

Kekuasaannya selama 26 tahun pun tamat.

Selama memimpin Iran, Khameni dicap pahlawan sekaligus tiran oleh warga dan oposisi.

Bagi loyalis, Khamenei dianggap sebagai pahlawan dan membawa perubahan.

Namun, bagi oposisi dia adalah tiran.

Khamenei menjadi orang nomor satu di Iran pada 1989, setelah pelopor revolusi Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal.

Meski Khomeini adalah pelopor ideologi Revolusi Islam, tapi Khamenei lah yang memperkuat Iran menjadi seperti sekarang.

Dia membentuk aparat militer dan paramiliter, sehingga membuat ciut musuh-musuhnya.

Khamenei meyakini AS memusuhi Iran, dan Revolusi, Republik Islam dan Nasionalisme tak terpisahkan.

Di bawah visi itu pula lah, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) berubah dari pasukan paramiliter menjadi lembaga keamanan, politik, dan ekonomi yang kuat, serta punya pengaruh di kawasan.

Khamenei juga mempromosikan ‘ekonomi perlawanan,’ untuk menumbuhkan kemandirian dalam menghadapi sanksi AS yang berat, terus skeptis kepada Barat, dan fokus pada pertahanan.

BACA JUGA: Harga Mahal Nuklir Iran

Selama memimpin Iran, kekuasaan dia diuji berkali-kali.

Pada 2009, warga ramai-ramai turun ke jalan memprotes pemilihan umum yang curang.

Kemudian pada 2022, protes massal kembali menguar di Iran.

Saat itu, warga tumpah ruah ke jalan usai perempuan bernama Mahsa Amini tewas setelah ditangkap petugas keamanan Iran.

Saat itu, demonstran menuntut transparansi dan kebebasan ekspresi.

Demonstrasi itu berujung kisruh, dan pihak berwenang Iran menuding unjuk rasa disusupi agen Israel dan AS.

Warga Iran kembali menggelar demonstrasi massal pada akhir Desember 2025.

Mulanya, mereka memprotes inflasi yang melangit dan menuntut perbaikan ekonomi.

Namun, demo berujung ricuh.

Tuntutan meluas menjadi pergantian rezim Khamenei.

Sasilitas umum juga dibakar.

Pemerintah Iran kembali menuduh agen Israel dan AS terlibat.

Seolah memanfaatkan situasi, Presiden AS Donald Trump mengancam menggempur Iran, jika mereka tak berhenti menangkap dan membunuh demonstran. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like