NarayaPost – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria bakal mengusulkan rencana pembangunan bandar antariksa alias spaceport di Biak, Papua, menjadi proyek strategis nasional (PSN).
Arif menegaskan, Indonesia tidak boleh lagi bergantung pada negara lain dalam peluncuran satelit.
“Terkait dengan kebijakan keantariksaan, kami sudah menyampaikan kepada Bapak Presiden terkait persiapan pembuatan bandar antariksa.”
“Naskah akademis sudah disusun, kajiannya, dan saat ini kami menunggu penetapan lokasi secara resmi.”
“Kami akan mengajukan ini menjadi Proyek Strategis Nasional agar bandar antariksa segera terwujud.”
“Jika bandar antariksa ini bisa diwujudkan, tentu ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi keantariksaan Indonesia.”
“Kalau India saja punya, maka seharusnya Indonesia juga harus punya.”
“Memang belum banyak negara berkembang yang memiliki bandar antariksa,” tutur Arif pada acara Anugerah Nurtanio Award dan Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture (NML) 2025, di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, Kamis (27/11/2025).
BRIN, lanjut Arif, telah siap secara teknologi.
“BRIN sudah bisa menghasilkan satelit yang bagus, termasuk persiapan Satelit NEO-1 yang saat ini sedang dipersiapkan untuk diluncurkan pada tahun depan.”
“Jika sudah memiliki bandar antariksa sendiri, khususnya yang diharapkan berlokasi di Biak, maka kita tidak perlu lagi tergantung pada negara lain.”
“Ini akan sangat membanggakan bagi Bangsa Indonesia,” ujarnya.
BACA JUGA: Prabowo Mau Bangun Pusat Pelatihan Olahraga Terbaik
Arif mengungkapkan, kajian sudah dilakukan secara komprehensif, dan ia sedang menyiapkan kunjungan langsung untuk melihat progress di lapangan.
“Kami butuh investasi besar yang melibatkan berbagai pihak.”
“Karena itu, kami terus mendorong agar proyek ini segera ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional, sehingga pendanaan menjadi lebih terstruktur dan terjamin,” imbuhnya.
Ayom Widipaminto, Direktur Fasilitasi Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menjelaskan alasan pemilihan Biak sebagai lokasi utama.
“Biak sangat strategis karena berada di dekat garis khatulistiwa, sehingga peluncuran roket jauh lebih efisien dari segi energi.”
“Kajian ini sebenarnya sudah dimulai sejak era LAPAN, dan kini akan difinalisasi oleh BRIN.”
“Cina dan Rusia sejak dulu sudah menunjukkan ketertarikan ke lokasi tersebut,” ungkap Ayom.
Pendapatan Hingga 200 Juta Dolar AS
Ketua Umum Asosiasi Antariksa Indonesia (Ariksa) Adi Rahman Adiwoso mengungkapkan, Indonesia berpeluang besar meraih pendapatan hingga 200 juta dolar AS per tahun, melalui proyek bandar antariksa (spaceport).
Kata Adiwoso, studi Deloitte pada 2025 memaparkan adanya potensi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB/GDP) di kawasan ASEAN pada bidang antariksa, mencapai 100 miliar dolar AS.
Indonesia, kata dia, diperkirakan menjadi negara dengan peran paling besar dalam potensi ekonomi ini.
“Bandar antariksa itu menurut studi mereka bisa menghasilkan pendapatan (hingga) 200 juta dolar per tahun,” ungkap Adiwoso, Kamis (21/8/2025) lalu.
Ekonomi antariksa, lanjut Adi, merupakan sektor ekonomi baru yang melibatkan multidisiplin, baik kepentingan akademis, pertahanan, komunikasi, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, Adiwoso melihat hal ini sebagai peluang yang sangat besar untuk dimanfaatkan oleh Indonesia, khususnya bagi generasi masa depan bangsa.
BACA JUGA: Tiga KRI Rumah Sakit dan Hercules Siap Diberangkatkan ke Gaza
“Ini sudah waktunya kita lihat dari anak-anak muda-muda, segala macam bisa mulai dibangun di Indonesia.”
“Jadi itu yang kita coba gabungkan,” ucap Adiwoso.
Terpisah, Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN Robertus Heru Triharjanto menjelaskan sejumlah program strategis BRIN, antara lain pengembangan konstelasi satelit penginderaan jauh dan Internet of Things (IoT), serta pembangunan bandar antariksa untuk mendukung peluncuran satelit dari wilayah Indonesia.
BRIN, kata dia, juga mengundang penyedia jasa peluncuran internasional untuk menggunakan wilayah Indonesia sebagai lokasi peluncuran roket.
“Kami ingin menciptakan ekosistem yang memungkinkan swasta terlibat aktif, tidak hanya dalam pemanfaatan data satelit, tetapi juga dalam pengembangan solusi hilir seperti antarmuka pengguna dan layanan informasi,” tutur Robertus Heru Triharjanto. (*)