NarayaPost – Presiden Kolombia Gustavo Petro bakal menemui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih, pada 3 Februari 2026.
Petro mengatakan dalam rapat kabinet yang disiarkan secara publik, tanggal tersebut ditetapkan setelah komunikasi diplomatik antara kedua pemerintah, menyoroti pentingnya hal tersebut dalam menangani masalah yang sedang berlangsung antara AS dan Kolombia, khususnya terkait perdagangan narkoba.
Ini akan menjadi pertemuan tatap muka pertama antara kedua pemimpin tersebut sejak Trump kembali menjabat.
Trump sebelumnya menyatakan harapannya akan adanya pertemuan pada Januari, menyebut pencegahan perdagangan narkoba akan menjadi topik utama.
Dia memuji Petro setelah pembicaraan via telepon pada 7 Januari, sembari menekankan keinginan untuk menggelar pembicaraan lebih lanjut di masa mendatang.
AS baru-baru ini meningkatkan tekanan terhadap negara-negara di Amerika Latin terkait masalah narkotika dan keamanan, dengan Trump menargetkan Petro dalam hal-hal yang berkaitan dengan narkotika.
BACA JUGA: Takut Di-Maduro-kan, Presiden Kolombia Bakal Temui Trump
Pada 4 Januari, Trump mengeluarkan ancaman terhadap Petro.
Ia mengatakan, mengambil tindakan terhadap Kolombia adalah hal yang bagus.
Petro menanggapi hal tersebut keesokan harinya di media sosial.
Di hadapan ancaman ilegal Trump, dia siap mengangkat kembali senjata yang tidak seorang pun mau menyentuhnya.
Petro menegaskan, pertemuan bulan depan sangat penting untuk memastikan keselamatan warga Kolombia.
Petro menemui Trump di Washington, karena takut bernasib seperti Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
BACA JUGA: Usai Nicolas Maduro, Trump Bidik Gustavo Petro
Trump pada Jumat (9/1/2026) mengaku menantikan pertemuan dengan Petro pada pekan pertama Februari di Gedung Putih.
Saat ditanya alasan perjalanannya ke AS untuk bertemu Trump, kepada CBS News Petro mengatakan tujuannya adalah untuk menghentikan perang dunia.
Awal bulan ini, Petro mengatakan kepada surat kabar Spanyol El Pais, Trump telah menyampaikan kepadanya melalui panggilan telepon pribadi, AS sedang mempertimbangkan kemungkinan melakukan operasi militer berskala penuh terhadap Kolombia.
Menyusul perkembangan terbaru di Venezuela, Petro mengatakan dirinya sangat khawatir nasib seperti Presiden Venezuela Nicolas Maduro menantinya, atau bahkan menimpa presiden mana pun di dunia.
Namun, Petro menyebutkan kemungkinan intervensi militer tersebut kemudian dibekukan.
Petro juga menyampaikan kekhawatiran terhadap praktik AS yang menggunakan kekuatan untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
Ia menyinggung adanya benturan pandangan antara undang-undang domestik AS dan hukum internasional.
Menurutnya, hukum AS memungkinkan pelaksanaan operasi di luar negeri dengan dalih pemberantasan kejahatan, sementara hukum internasional tidak mengatur tindakan semacam itu.
Petro mengatakan jika terjadi sesuatu di Kolombia seperti di Venezuela, hal itu akan memicu perang saudara dan menimbulkan permusuhan terhadap AS.
Mantan Gerilyawan
Gustavo Petro adalah pemimpin sayap kiri pertama di Kolombia, setelah mengalahkan kaum konservatif pada 2022, dengan menjanjikan perubahan yang akan berfokus pada mengakhiri sejarah panjang kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, dan kemiskinan di negara tersebut.
Rakyat Kolombia sejak lama menolak politisi sayap kiri, karena kekhawatiran mereka lunak terhadap kekerasan.
Petro adalah mantan anggota kelompok gerilya M-19, sebelum beralih ke jalur politik yang lebih tradisional.
Terpilihnya Petro ke jabatan tinggi dengan dukungan di dalam negeri, disambut kekhawatiran oleh kaum konservatif di AS.
Kolombia secara tradisional dianggap sebagai sekutu utama AS di Amerika Latin.
Perjanjian perdagangan bebas antara AS dan Kolombia senilai $33,8 miliar pada 2023, yang mencakup seperempat dari seluruh ekspor Bogota.
Meskipun Kolombia bergantung pada pengeluaran AS, Petro telah mengejar upaya diplomatik kontroversial yang sering kali bertentangan dengan agenda geopolitik Washington.
Petro memulihkan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya, Venezuela, di mana pemimpinnya, Nicolas Maduro, dikritik karena hubungannya dengan musuh utama AS, termasuk Cina, Rusia, proksi Iran di Timur Tengah, dan Kuba.
Petro juga mengambil sikap keras menentang Israel dan memilih hari setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, di mana sekitar 1.200 orang tewas dan 250 diculik ke Gaza, untuk mengkritik Yerusalem karena melakukan tindakan neo Nazi terhadap Palestina.