NarayaPost – Membersihkan reruntuhan di Gaza dengan kecepatan saat ini, dapat memakan waktu hingga tujuh tahun, karena sebagian besar penduduk masih hidup dalam kondisi yang sangat berbahaya.
Dalam pengarahan virtual dari Yerusalem setelah kunjungan terbarunya ke Jalur Gaza, Kepala Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Alexander De Croo pada Selasa (17/2/2026), menggambarkan situasi kemanusiaan di Gaza sebagai yang terburuk yang pernah ia saksikan, selama bertahun-tahun bekerja di bidang pembangunan.
“Ini adalah kondisi kehidupan terburuk yang pernah saya lihat, kondisi yang sangat menyakitkan untuk dijalani,” kata De Croo.
Ia menambahkan, sebanyak 90 persen warga Gaza saat ini hidup di tengah reruntuhan, yang sangat berbahaya.
Ia menjelaskan, upaya pemulihan UNDP berfokus pada tiga bidang utama.
Yang pertama adalah pembersihan puing dan limbah padat.
BACA JUGA: Berisiko Lawan Hamas, MUI Minta Kirim TNI ke Gaza Ditinjau
“Pembersihan puing-puing, kami baru menyelesaikan sekitar 0,5 persen dari total keseluruhan,” ungkapnya.
Ia menekankan perlunya peningkatan wewenang dan kapasitas, guna mempercepat proses pembersihan dan daur ulang puing-puing
Prioritas kedua UNDP, lanjutnya, adalah penyediaan hunian sementara, karena 90 persen populasi tinggal di tempat yang bahkan sulit disebut sebagai tenda.
“Maksud saya, ini benar-benar tenda yang sangat, sangat sederhana,” ucapnya.
UNDP sejauh ini membangun 500 unit hunian pemulihan dan memiliki 4.000 unit siap pakai, namun kebutuhan jauh melampaui pasokan yang ada saat ini.
“Diperlukan antara 200.000 hingga 300.000 unit untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, bukan kehidupan yang seharusnya mereka miliki, tetapi setidaknya lebih baik dari kondisi saat ini,” paparnya.
BACA JUGA: Kirim Tentara ke Gaza, Bela Palestina Atau Legitimasi Genosida?
De Croo menyebut bidang ketiga adalah menghidupkan kembali sektor swasta Gaza yang sebagian besar terhenti.
Program pemulihan mencakup investasi terbatas dan skema padat karya dengan pembayaran tunai.
Untuk memperluas bantuan, De Croo mengatakan UNDP memiliki satu permintaan besar kepada otoritas Israel, yaitu memberikan akses yang lebih luas untuk bahan bangunan, unit hunian, dan dukungan bagi pelaku usaha swasta.
Ia menegaskan, dugaan kekhawatiran keamanan Israel tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi akses yang lebih besar bagi UNDP, organisasi-organisasi PBB lainnya, dan lembaga swadaya internasional.
Israel Terus Halangi Operasi Bantuan Kemanusiaan
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric menyatakan, penjajah Zionis Israel terus menghalangi operasi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, meski telah diberlakukan gencatan senjata sejak Oktober lalu.
Pada konferensi pers yang digelar di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, Dujarric menyampaikan para koleganya melaporkan, operasi kemanusiaan di Gaza masih terus dihalangi.
“Rekan-rekan kami di Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) telah melaporkan operasi kemanusiaan di Gaza terus menemui hambatan yang signifikan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dari sekitar 50 inisiatif bantuan yang dikoordinasikan pada 6-11 Februari, otoritas Israel hanya mengizinkan separuhnya untuk masuk ke Gaza.
Harapan di Ramadan
Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Selasa (17/2/2026) mengucapkan selamat berpuasa kepada seluruh warga Palestina di dalam maupun luar negeri, serta kepada negara-negara Arab dan Islam.
Abbas mengucapkan selamat menunaikan puasa Ramadan kepada rakyat Palestina atas keteguhan mereka di tanah airnya sendiri.
Ia juga menyampaikan harapannya, agar pada momen tersebut aspirasi rakyat Palestina untuk kebebasan dan kemerdekaan, termasuk pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, segera terwujud.
Ia juga meminta warga Palestina memperkuat solidaritas dan persatuan di tengah kondisi sulit yang dihadapi negara mereka, berdoa agar warga Palestina yang meninggal diberikan ampunan, yang terluka diberikan kesembuhan dan yang ditahan diberikan kebebasan.
Abbas juga menyampaikan salam kepada negara-negara Arab dan Islam, sekaligus berharap agar bulan suci Ramadan membawa kebaikan dan keberkahan, mempererat persatuan, dan mendukung aspirasi rakyat untuk pembangunan dan kemajuan. (*)