NarayaPost – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali merayu sejumlah presiden Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Iran. Namun, hanya Donald Trump yang termakan rayuan Bibi, sapaan Netanyahu.
Hal itu diungkapkan oleh bekas Menteri Luar Negeri AS John Kerry.
Kata Kerry, permintaan Netanyahu tersebut ditolak oleh deretan presiden AS sebelum Donald Trump, termasuk George W Bush.
Dalam wawancara di program The Briefing with Jen Psaki, Jumat (10/4/2026), Kerry mengaku terlibat dalam banyak diskusi dengan Netanyahu.
“Dia (Netanyahu) ingin kami menyerang (Iran),” ungkap Kerry, dilansir Anadolu.
BACA JUGA: Iran Curiga Israel Serang Lebanon Agar Netanyahu Tak Dibui
Menurut Kerry, Netanyahu mengajukan proposal serangan tersebut secara langsung kepada para pemimpin AS sebelumnya, namun menemui jalan buntu.
Para presiden AS seperti Barrack Obama, Joe Biden, dan George W Bush, lanjut Kerry, menolak desakan Netanyahu untuk menyerang Iran.
Donald Trump menjadi satu-satunya presiden AS yang akhirnya menyetujui langkah militer ini, dan menuruti ajakan Netanyahu.
Kerry menjelaskan, Netanyahu mempresentasikan argumen rinci yang ia sebut sebagai presentasi empat poin.
Proposal tersebut mengeklaim serangan militer dapat membunuh jajaran kepemimpinan, memicu perubahan rezim, serta menghancurkan kekuatan militer Iran.
Keputusan Trump menyetujui desakan Netanyahu tersebut berujung pada serangan ofensif gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Setelah 40 hari berperang, pada Rabu (8/4/2026) lalu, Pakistan, bersama Turki, Cina, Arab Saudi, dan Mesir, mengamankan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara Washington dan Teheran.
Kedua belah pihak setuju bertemu di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026), guna merundingkan perdamaian jangka panjang.
Tiga Kasus Korupsi
Benjamin Netanyahu menjadi perdana menteri pertama Israel yang didakwa melakukan korupsi.
Namun, persidangannya terus mengalami penundaan karena situasi konflik di Timur Tengah terkait Israel hingga saat ini.
Pada 2019, Netanyahu didakwa atas sejumlah tuduhan.
Tuduhan itu adalah penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan.
Sidang korupsi Netanyahu dimulai pada 2020 mencakup tiga kasus, yakni kasus 1000, 2000, dan 4000.
Netanyahu dituduh menerima berbagai hadiah mahal dari miliarder, termasuk James Packer dan Arnon Milchan.
Jaksa menyebut hadiah itu meliputi sampanye senilai sekitar US$195.000 (sekitar Rp3,337 miliar), serta perhiasan untuk istrinya senilai sekitar US$3.100 (sekitar Rp53 juta).
Sebagai balasan, Netanyahu diduga memberikan bantuan politik, termasuk mendorong kebijakan yang menguntungkan Milchan.
Ia juga dilaporkan meminta John Kerry saat menjabat Menteri Luar Negeri AS untuk membantu Milchan mendapatkan visa ke Negara Paman Sam.
Netanyahu juga diduga bernegosiasi dengan pemilik surat kabar Israel Arnon Mozes, yang mengendalikan surat kabar Yedioth Ahronoth.
Ia dituduh menawarkan pembatasan terhadap media pesaing, sebagai imbalan atas pemberitaan yang lebih menguntungkan dirinya.
Kasus paling serius, Netanyahu diduga memberikan perlakuan istimewa dalam regulasi kepada perusahaan telekomunikasi Israel, Bezeq.
BACA JUGA: Menteri Pertahanan Pakistan Sebut Israel Negara Kanker
Sebagai imbalannya, ia disebut memperoleh pemberitaan positif dari situs berita Walla yang dimiliki pihak terkait perusahaan tersebut.
Mengutip Reuters, insentif atau nilai keuntungan yang didapatkan Netanyahu dalam kasus ini diperkirakan mencapai sekitar US$500 juta (sekitar Rp8,5 triliun).
Sejak sidang dimulai pada 2020, Netanyahu terus meminta penundaan.
Ia bahkan mengajukan permintaan dibebaskan dari dakwaan korupsi yang ia sangkal, kepada Presiden Israel Isaac Herzog.
Pada Oktober 2025, Netanyahu muncul di Pengadilan Distrik Tel Aviv untuk bersaksi dalam persidangan kasus korupsinya.
Sidang Netanyahu sebelumnya ditangguhkan selama sebulan karena hari libur Yahudi dan perjalanannya ke New York untuk menghadiri sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sidang Netanyahu pada akhirnya selesai lebih cepat, karena berdalih sedang sakit.
Hakim mengabulkan permintaannya untuk mempersingkat sidang setelah Netanyahu mengeluh batuk dan pilek.
Sidang kasus korupsi Netanyahu akan dilanjutkan Minggu (12/4/2026).
Sidang ini telah berlangsung lama namun belum juga menemui akhir.
“Dengan dicabutnya keadaan darurat dan kembalinya sistem peradilan untuk bekerja, sidang akan dilanjutkan seperti biasa,” demikian pernyataan pengadilan Israel. (*)