NarayaPost – Kementerian Haji dan Umrah terus memperkuat komitmennya dalam memastikan kualitas layanan dapur haji bagi jemaah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci. Komitmen tersebut diwujudkan melalui supervisi dan pengecekan langsung dapur aktif yang berlokasi di kawasan Safwat Al Wessam, Walyal Ahd District, Makkah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan berjalan optimal, higienis, serta sesuai dengan selera jemaah asal Indonesia.
Menteri Haji dan Umrah, Moch. Irfan Yusuf, menegaskan bahwa layanan konsumsi merupakan salah satu aspek vital dalam penyelenggaraan ibadah haji. Menurutnya, kualitas makanan berpengaruh langsung terhadap kenyamanan dan kondisi fisik jemaah, yang pada akhirnya berdampak pada kekhusyukan mereka dalam menjalankan rangkaian ibadah. Oleh karena itu, pemerintah memberikan perhatian serius mulai dari pemilihan bahan baku hingga makanan siap disajikan.
Dalam keterangannya pada Minggu (15/2), Irfan menyampaikan bahwa penggunaan beras dan bumbu langsung dari Indonesia menjadi bagian penting dari strategi pelayanan konsumsi. Kebijakan ini diterapkan untuk menghadirkan rasa yang familiar dan sesuai dengan lidah Nusantara. Dengan cita rasa yang tidak jauh berbeda dari makanan sehari-hari di Tanah Air, jemaah diharapkan tetap merasa nyaman meski berada jauh dari rumah.
BACA JUGA: Kirim Tentara ke Gaza, Bela Palestina Atau Legitimasi Genosida?
“Penggunaan bumbu dan beras dari Indonesia adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan rasa yang familiar bagi jemaah, sehingga mereka tetap nyaman dan fokus dalam menjalankan ibadah,” ujar Irfan. Ia menambahkan bahwa aspek rasa tidak bisa dipisahkan dari kualitas layanan, karena makanan yang sesuai selera dapat membantu menjaga selera makan jemaah, terutama bagi mereka yang berusia lanjut.
Selain kualitas bahan dan rasa, aspek dalam dapur haji yang masuk dalam kategori juga kebersihan menjadi perhatian utama dalam supervisi tersebut. Seluruh area penyimpanan bahan makanan diperiksa secara detail untuk memastikan kondisi tetap bersih, higienis, dan memenuhi standar keamanan pangan internasional. Proses penyimpanan bahan mentah, pengolahan, hingga pengemasan dipastikan tidak menimbulkan potensi kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan jemaah.
BACA JUGA: Sidang Etik Eks Kapolres Bima Terkait Narkoba Digelar Kamis
Pengecekan juga dilakukan secara menyeluruh pada area dapur, mulai dari kesiapan peralatan memasak, alur kerja petugas, hingga sistem pengemasan (packing) makanan. Fasilitas dapur dituntut mampu memenuhi kebutuhan konsumsi sesuai dengan jumlah jemaah haji Indonesia yang cukup besar, baik dari sisi kapasitas produksi maupun ketepatan distribusi ke pemondokan jemaah. Ketepatan waktu pengiriman dinilai krusial agar makanan dapat diterima dalam kondisi layak dan hangat.
Lebih lanjut, Irfan menekankan pentingnya konsistensi dalam penerapan standar layanan. Menurutnya, pelayanan konsumsi tidak cukup hanya memastikan makanan tersedia setiap hari, tetapi juga harus menjaga kualitas, kebersihan, rasa, serta ketepatan distribusi secara berkelanjutan. “Pelayanan konsumsi bukan hanya soal makanan tersedia, tetapi bagaimana kualitasnya terjaga, rasanya sesuai selera jemaah Indonesia, dan distribusinya tepat waktu,” tegasnya.
Supervisi langsung ini mencerminkan keseriusan Kementerian Haji dan Umrah sebagai bentuk upaya untuk memberikan sekaligus menghadirkan pelayanan prima yang terstandar dan berorientasi pada kepuasan jemaah. Dengan pengawasan ketat dan evaluasi berkelanjutan, pemerintah berharap seluruh jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk, tanpa terkendala persoalan konsumsi selama berada di Tanah Suci.