Diancam Trump, Presiden Venezuela Ajak Amerika Kolaborasi

Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez menegaskan dirinya memegang kendali pemerintahan Venezuela. Foto: aol.com
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez bakal menghadapi konsekuensi sangat serius, jika menolak bekerja sama dengan AS.

“Jika tidak melakukan hal yang benar, dia akan menghadapi konsekuensi yang sangat serius, mungkin lebih berat daripada Maduro,” ancam Trump dalam wawancara telepon dengan Majalah The Atlantic, Minggu (4/1/2026).

Operasi militer AS di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) berujung pada penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Trump  berjanji akan menegaskan kendali AS atas negara tersebut untuk sementara waktu, termasuk dengan mengerahkan pasukan jika diperlukan.

Setelah penangkapan Maduro, Mahkamah Agung Venezuela menginstruksikan Delcy Rodriguez segera memangku jabatan sebagai presiden sementara.

Trump menuduh Maduro mengawasi pengiriman narkoba ke AS dan mempertahankan kekuasaan secara tidak sah melalui kecurangan pemilu.

Maduro yang kini ditahan di sebuah fasilitas penahanan di New York terkait dakwaan narkotika, membantah tuduhan tersebut.

Pejabat di Caracas pun menyerukan pembebasannya.

Trump menegaskan tidak akan menoleransi apa yang ia sebut sebagai penolakan keras Rodriguez terhadap intervensi bersenjata AS yang berujung pada penangkapan Maduro.

Peringatan keras Trump itu kontras dengan pernyataannya sehari sebelumnya.

Beberapa jam setelah pasukan AS menyerang ibu kota Caracas, Trump memuji Rodriguez.

Dalam konferensi pers usai operasi, ia mengatakan Rodriguez secara pribadi menyatakan kesediaan untuk bekerja sama dengan AS, yang menurutnya akan menjalankan Venezuela untuk sementara waktu.

BACA JUGA: Usai Nicolas Maduro, Trump Bidik Gustavo Petro

“Pada dasarnya dia bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali hebat,” ujar Trump kepada wartawan.

Rodriguez segera menepis pernyataan tersebut.

Ia menegaskan, Venezuela siap mempertahankan sumber daya alamnya dan tim pertahanan negara tetap berkomitmen pada kebijakan Maduro.

“Kami tidak akan pernah lagi menjadi daerah koloni,” tegas Rodriguez.

Trump juga mengisyaratkan tidak akan ragu mengizinkan gelombang kedua aksi militer jika dianggap perlu.

“Pembangunan kembali di sana dan perubahan rezim, apa pun istilahnya, itu lebih baik daripada kondisi yang ada sekarang.”

BACA JUGA: Profil Nicolas Maduro dan Cilia Flores yang Didakwa Narkoteroris

“Tidak mungkin lebih buruk lagi,” tutur Trump.

Dalam pidato Desember 2016 saat masih berstatus presiden terpilih, Trump pernah menyatakan AS akan berhenti menjatuhkan rezim asing yang tidak dipahaminya, mencerminkan penolakan terhadap praktik pembangunan bangsa, dan menegaskan keyakinan Trump, AS seharusnya fokus membangun di dalam negeri ketimbang campur tangan di negara seperti Irak dan Afghanistan.

Ketika ditanya mengapa perubahan rezim di Venezuela berbeda dari intervensi sebelumnya yang ia tentang, Trump merujuk pada mantan Presiden George W Bush.

“Saya tidak melakukan (intervensi di) Irak. Itu Bush.”

“Anda harus bertanya kepada Bush, karena kita seharusnya tidak pernah masuk ke Irak.”

“Itulah awal bencana Timur Tengah,” ucapnya.

Trump juga menyatakan AS harus menegaskan kendali atas Belahan Barat, merujuk pada penafsiran modern Doktrin Monroe abad ke-19 yang menentang kolonialisme Eropa di kawasan tersebut, sebuah pendekatan yang Trump sebut sebagai Doktrin Donroe.

Namun dalam wawancara itu, ia menegaskan keputusan menargetkan Presiden Venezuela didasarkan pada kondisi negara tersebut, bukan semata lokasinya.

“Ini bukan soal belahan bumi. Ini soal negaranya, masing-masing negara,” terang Trump.

Trump juga menegaskan Venezuela mungkin bukan negara terakhir yang menjadi sasaran intervensi AS.

“Kami memang membutuhkan Greenland, itu mutlak,” cetus Trump, sembari menggambarkan wilayah semi-otonom milik Denmark tersebut sebagai kawasan yang dikepung kapal Rusia dan Cina.

Keinginan Trump mengakuisisi Greenland ditolak oleh para pemimpin dan masyarakat pulau tersebut, sebagaimana tercermin dalam sejumlah jajak pendapat.

Ajak Kolaborasi

Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez mengundang Pemerintah AS berkolaborasi dengan Venezuela, setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya.

“Kami mengundang Pemerintah AS untuk berkolaborasi dengan kami dalam agenda kerja sama yang berorientasi pada pembangunan bersama dalam kerangka hukum internasional, guna memperkuat kehidupan bersama yang damai dan berkelanjutan,” ajak Rodriguez di Instagram, Minggu (4/1/2026).

Rodriguez mengatakan, pihaknya memprioritaskan langkah menuju hubungan internasional yang seimbang dan saling menghormati antara AS dan Venezuela, serta antara Venezuela dan negara-negara lain di kawasan, yang didasarkan pada kesetaraan kedaulatan dan prinsip non-intervensi.

“Presiden Donald Trump, rakyat kami, dan kawasan kami pantas mendapatkan perdamaian dan dialog, bukan perang.”

“Ini selalu menjadi pesan Presiden Nicolas Maduro, dan itu pula pesan seluruh Venezuela saat ini,” tutur Rodriguez.

Sebelumnya pada Minggu, Trump menginginkan akses penuh di Venezuela.

“Kami membutuhkan akses penuh.”

“Kami membutuhkan akses ke minyak dan hal-hal lain di negara mereka, yang memungkinkan kami membangun kembali negara tersebut,” beber Trump.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores kini ditahan di Metropolitan Detention Center di Brooklyn, New York.

Pasangan itu menghadapi dakwaan dari federal AS terkait perdagangan narkoba dan dugaan kerja sama dengan kelompok-kelompok yang ditetapkan sebagai organisasi teroris.

Maduro telah membantah tuduhan tersebut, sementara para pejabat di ibu kota Venezuela, Caracas, menyerukan pembebasan pasangan itu. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like