NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, negaranya kini menggantikan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam upaya penyelesaian konflik.
Sebab, Trump menilai PBB tidak membantu proses perdamaian.
Trump mengaku senang dengan gencatan senjata yang dicapai Thailand dan Kamboja.
Kedua negara yang terlibat konflik bersenjata itu disebutnya akan kembali hidup dalam damai.
“Mungkin Amerika Serikat telah menjadi PBB yang SESUNGGUHNYA, yang selama ini sangat sedikit membantu,” tulis Trump di platform Truth Social, Minggu (28/12/2025).
Presiden AS ke-45 dan 47 itu menilai PBB tidak membantu penyelesaian konflik mana pun, termasuk perang antara Rusia dan Ukraina.
“PBB harus mulai bertindak aktif dan terlibat dalam PERDAMAIAN DUNIA,” tegas Trump.
Gencatan senjata Thailand-Kamboja mulai diberlakukan pada Sabtu (27/12/2025) pukul 12.00, setelah kedua pihak melakukan perundingan selama beberapa hari.
Sebelumnya, kedua negara yang bertikai itu telah menandatangani perjanjian damai yang disaksikan oleh Trump di Kuala Lumpur pada Oktober lalu.
Namun, ketegangan kembali meningkat sejak awal Desember.
Tidak Punya Tenggat Waktu
Presiden AS Donald Trump menolak mengungkapkan apakah dirinya berharap kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia, dapat tercapai pada akhir 2025.
“Saya tidak punya tenggat waktu.”
“Anda tahu tenggat waktu saya?”
“Mengakhiri perang ini,” kata Trump kepada awak media di awal pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, di kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Minggu (28/12/2025).
Ketika ditanya apakah pembicaraan mereka pada Minggu akan mengarah pada kesepakatan damai, Trump mengatakan nsur-unsur untuk mencapai kesepakatan sudah terlihat, dan krisis Ukraina terbukti sulit diselesaikan.
Sementara, Zelensky mengatakan pembicaraannya dengan Trump akan berfokus pada draf terbaru dari rencana perdamaian berisi 20 poin dan urutan penyelesaiannya.
BACA JUGA: Trump Bilang Perang Rusia-Ukraina Takkan Berakhir Tanpa Izinnya
“Sangat penting bagi tim kami untuk membahas strategi, bagaimana melangkah secara bertahap, dan membawa perdamaian semakin dekat,” ucap Zelensky.
Sebelum pertemuan dengan Zelensky, Trump mengatakan di Truth Social, dirinya telah melakukan percakapan via telepon yang baik dan sangat produktif dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dalam percakapan telepon tersebut, Trump dan Putin sepakat gencatan senjata sementara hanya akan memperpanjang krisis Ukraina, kata Yuri Ushakov, ajudan Presiden Rusia.
Kedua presiden memiliki pandangan yang secara umum serupa, gencatan senjata sementara yang diusulkan oleh Ukraina dan Eropa, dengan dalih menyiapkan referendum atau dalih lainnya, hanya akan memperpanjang konflik dan berisiko memulai kembali pertikaian, tutur Ushakov.
Dalam pembicaraan di Florida, Trump dan Zelensky diperkirakan akan membahas kemungkinan perjanjian gencatan senjata, usulan zona demiliterisasi, pengelolaan PLTN Zaporizhzhia, kendali teritorial wilayah Donbas, serta jaminan keamanan setelah berakhirnya krisis.
Capai Tujuan dengan Kekuatan
Presiden Rusia Vladimir Putin menilai Ukraina tidak menunjukkan keinginan kuat untuk segera berdamai.
Ia menegaskan, Moskow akan mencapai seluruh tujuannya dengan kekuatan, jika Kyiv menolak penyelesaian konflik secara damai.
CNBC dan TASS melaporkan, pernyataan tersebut disampaikan Putin pada Sabtu (27/12/2025).
Perang kedua negara telah berlangsung hampir empat tahun sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh terhadap Ukraina.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu Presiden AS Donald Trump di Florida pada Minggu (28/12/2025).
Pertemuan itu bertujuan membahas kemungkinan penyelesaian konflik.
BACA JUGA: NATO Disebut Sedang Bersiap Perang Lawan Rusia dan Belarusia
Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas pernyataan Putin terkait ancaman penggunaan kekuatan militer.
Rusia mengeklaim pasukannya telah merebut sejumlah kota di wilayah timur Ukraina.
Klaim tersebut disampaikan oleh Kremlin melalui aplikasi pesan Telegram.
Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengatakan situasi di kedua wilayah tersebut masih sulit.
Meski demikian, operasi pertahanan oleh pasukan Ukraina terus berlangsung.
Komando Selatan Ukraina juga melaporkan pertempuran sengit masih terjadi di Huliaipole.
Verifikasi klaim di medan perang tetap menjadi tantangan.
Akses di kedua pihak sangat terbatas, informasi dikendalikan secara ketat, dan garis depan terus berubah cepat. (*)