NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai operasi militer terhadap Kuba tidak diperlukan.
Hal itu katakan saat menjawab pertanyaan wartawan, apakah AS akan melakukan operasi serupa penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beberapa waktu lalu?
“Saya tidak ingin menjawab itu.”
“Mengapa saya harus menjawabnya?”
“Jika memang terjadi, itu bukan operasi yang sulit, seperti yang bisa Anda bayangkan.”
“Namun, saya pikir itu tidak akan diperlukan,” kata Trump di atas Air Force One, Senin (16/2/2026).
Pemerintah AS, kata Trump, sedang melakukan pembicaraan dengan Kuba.
“Marco Rubio (Menteri Luar Negeri AS) sedang berbicara dengan Kuba sekarang, dan mereka seharusnya benar-benar membuat kesepakatan, karena ini adalah masalah kemanusiaan.”
“Ini benar-benar ancaman kemanusiaan,” imbuh Trump.
Trump menyebut Kuba sebagai negara gagal.
“Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti.”
“Namun Kuba dan kami sedang berbicara.”
BACA JUGA: Kuba Siap Lawan Amerika Hingga Tetes Darah Terakhir
“Sementara itu, ada embargo, tidak ada minyak, tidak ada uang,” tuturnya.
AS kembali memberlakukan blokade terhadap Kuba, dan menyatakan niatnya menggulingkan pemerintahan komunis negara tersebut dengan berbagai cara.
Washington juga memberlakukan embargo terhadap pengiriman bahan bakar ke negara kepulauan itu, yang sebelumnya telah menghadapi kekurangan pasokan yang parah.
AS sebelumnya berhasil menghentikan pasokan minyak ke Kuba dari Meksiko dan Venezuela, dan dalam kasus terakhir, pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Washington juga mengumumkan niatnya memberlakukan bea masuk impor yang setara terhadap barang-barang dari negara yang memasok bahan bakar ke Kuba.
Siap Dialog
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel terbuka berdialog dengan AS, seiring negara kepulauan Karibia itu menyiapkan langkah-langkah mencegah krisis energi.
Dalam sebuah pengarahan darurat, pada Kamis (5/2/2026), Diaz-Canel membahas tekanan ekonomi dari AS yang semakin intens, dan telah mengisolasi negara itu dari sekutu-sekutu lamanya, serta mengganggu pengiriman minyak.
“Kuba bersedia untuk terlibat dalam dialog dengan AS,” ucapnya di hadapan media nasional dan internasional.
Diaz-Canel menegaskan, pembicaraan harus berlangsung tanpa tekanan, tanpa prasyarat, pada posisi yang setara, dan dengan penghormatan terhadap kedaulatan, kemerdekaan, dan hak menentukan nasib sendiri.
Dia mengatakan, pemerintah komunis bersiap menghadapi potensi kekurangan minyak dan menyoroti kemajuan di bidang energi terbarukan, dengan mencatat taman surya fotovoltaik menyumbang 1.000 megawatt ke jaringan listrik nasional, yang mewakili peningkatan sebesar 7 persen.
Kuba menghadapi kekurangan minyak akibat kombinasi dari sanksi AS yang semakin diperketat, runtuhnya pemasok utamanya Venezuela setelah perubahan politik, serta penargetan berikutnya terhadap pemasok alternatif seperti Meksiko.
“Kuba bukan negara teroris.”
“Tidak ada pasukan atau pangkalan militer asing di Havana.”
“Satu-satunya pangkalan militer milik negara lain di Kuba adalah yang dioperasikan oleh AS,” tegasnya.
Pidato tersebut menandai pernyataan publik pertama Diaz-Canel mengenai meningkatnya ketegangan dengan Washington sejak Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan besar-besaran di Caracas, yang mengakibatkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sekutu Kuba, dan istrinya, Cilia Flores.
Setelah penangkapan Maduro, di mana ia dan Flores ditahan dan dibawa ke New York City, tempat mereka kini ditahan, AS memutus pasokan minyak Venezuela ke Kuba, yang sebelumnya merupakan sebagian besar impor energi pulau tersebut.
Pemerintahan Trump kemudian memperketat tekanan ekonomi terhadap Kuba, dengan menetapkan tarif terhadap negara mana pun yang memasok atau menjual minyak ke negara kepulauan tersebut.
BACA JUGA: Menlu Kuba: Kami Takkan Menyerah pada Ancaman Amerika
Hal itu berakibat pada pembatasan aliran minyak dari mitra seperti Meksiko, yang hingga baru-baru ini menyediakan minyak mentah dan turunannya.
Presiden AS Donald Trump yakin Washington dan Havana dapat mencapai kesepakatan untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Kuba.
“Ini tidak harus menjadi krisis kemanusiaan.”
“Saya pikir mereka (otoritas Kuba) mungkin akan datang kepada kami dan ingin membuat kesepakatan, sehingga Kuba dapat bebas kembali.”
“Mereka akan datang kepada kami, mereka akan membuat kesepakatan,” cetus Trump.
Trump juga ingin memberikan kesempatan kepada warga AS keturunan Kuba, untuk mengunjungi keluarga mereka di tanah kelahiran.
“Saya mengenal banyak orang dari Kuba, tetapi saat ini kami memiliki banyak orang di AS yang ingin kembali ke Kuba.”
“Kami ingin mengupayakan hal itu.”
“Banyak orang yang tinggal di negara kami diperlakukan dengan sangat buruk oleh Kuba, mereka semua memilih saya dan kami ingin mereka diperlakukan dengan baik,” beber Trump. (*)