NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan semua opsi terkait Iran, termasuk melancarkan serangan kuat dan menentukan.
Mengutip sumber dan pejabat anonim, CNN melaporkan pada Rabu (28/1/2026), jika perintah serangan terhadap Iran dikeluarkan, Trump ingin bisa segera mendeklarasikan kemenangan.
Namun, Trump menyadari serangan terhadap Iran jauh lebih menantang karena kemampuan militernya.
Ibu kota Teheran juga lebih jauh dari pesisir.
Perbedaan lainnya ada di jalur diplomasi.
Hingga kini, pejabat Iran menolak berkomunikasi dengan AS, sedangkan Venezuela diduga sempat menjalin kontak dengan pemerintahan Trump sebelum operasi militer dilancarkan.
BACA JUGA: Trump: Iran, Buatlah Kesepakatan, Waktu Hampir habis!
Pada Rabu, Trump mengatakan sebuah armada besar sedang bergerak menuju Iran dengan cepat.
Ia memperingatkan jika kesepakatan tidak tercapai, serangan AS di masa depan akan berakibat jauh lebih buruk.
Trump sebelumnya menyatakan dukungan terhadap para pengunjuk rasa di Iran dan mengancam akan melancarkan serangan.
Pernyataan itu dikecam Iran, yang menyebutnya sebagai ancaman terhadap kedaulatan Iran.
Pilihan melancarkan serangan dahsyat terhadap Iran dipertimbangkan Trump, setelah pembicaraan terkait program nuklir Teheran gagal.
Mengutip beberapa sumber, New York Times sebelumnya melaporkan perundingan untuk mengurangi ketegangan di Iran pekan lalu tidak membuahkan hasil, karena Teheran terus menolak menyerah pada tuntutan Trump.
Laporan pada Rabu itu menyebutkan, opsi yang saat ini sedang dipertimbangkan Trump termasuk serangan udara terhadap para pemimpin dan pejabat keamanan Iran, serta serangan terhadap fasilitas nuklir dan lembaga pemerintah.
Namun, Trump belum membuat keputusan akhir dan percaya dengan kedatangan kelompok penyerang Amerika yang sebelumnya dikirim ke wilayah tersebut, pilihan militernya akan meluas.
Menyusul ancaman Trump terhadap Iran, tidak ada kontak langsung yang signifikan antara kedua pihak dalam beberapa hari terakhir.
Bujuk Trump
Sekutu AS di Timur Tengah berupaya membujuk Trump agar mengurungkan niat menyerang Iran selama beberapa minggu terakhir.
The New York Times melaporkan, para sekutu AS tersebut, sebagaimana dilaporkan Sputnik pada Kamis, disebut khawatir kemungkinan serangan AS terhadap Iran dapat menyeret seluruh kawasan ke dalam konflik besar-besaran.
Qatar, Arab Saudi, dan Oman membujuk Trump untuk menghindari serangan terhadap Iran, seperti dilaporkan News Nation awal bulan ini, mengutip sumber-sumber terkait.
Negara-negara Teluk tersebut meminta Trump memberi Iran kesempatan.
Protes meletus di Iran pada akhir Desember 2025, di tengah kekhawatiran atas meningkatnya inflasi yang dipicu oleh melemahnya mata uang lokal, rial Iran.
Aksi unjuk rasa semakin intensif sejak sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979.
BACA JUGA: Trump Klaim Iran Ingin Berunding Setelah Kapal Induk Bergerak
Pada hari yang sama, akses internet diblokir di negara tersebut.
Di beberapa kota di Iran, protes berubah menjadi bentrokan dengan polisi ketika para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah.
Terdapat laporan mengenai korban di kalangan aparat keamanan maupun para demonstran.
Pada akhir Desember, Trump mengatakan ia akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran berupaya melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya.
Kemudian, di tengah gelombang protes di Iran, Trump mengancam negara tersebut dengan serangan besar jika ada demonstran yang terbunuh.
Respons Cepat
Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Iran bakal menganggap setiap langkah militer yang diambil AS sebagai tindakan perang.
Ali Shamkhani yang juga merupakan perwakilan pemimpin tertinggi tersebut di Dewan Pertahanan Iran, menyampaikan pernyataan itu dalam unggahan di platform X, seiring tetap tingginya ketegangan antara Iran dan AS di tengah peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah.
Dia mengatakan, serangan terbatas AS terhadap Iran hanya sebuah kiasan.
“Setiap tindakan militer oleh AS dari sumber mana pun dan pada level mana pun akan dianggap sebagai awal perang, dan responsnya akan cepat, habis-habisan, dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Shamkhani.
Dia menekankan, respons Iran akan menyasar pihak agresor, jantung Tel Aviv, dan semua pendukung pihak agresor.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan, angkatan bersenjata Iran yang gagah berani, siaga dan tangguh merespons setiap agresi.
Namun, Araghchi juga mengatakan, pada saat yang sama, Iran selalu menyambut baik kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, setara, dan bebas dari paksaan, ancaman, maupun intimidasi, yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir damai, dan menjamin tidak adanya senjata nuklir. (*)