NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih sakit hati karena tidak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian 2025.
Padahal, dia mengeklaim telah mendamaikan delapan perang dan konflik, sejak menjabat Presiden AS untuk periode kedua.
“Ingat juga, saya seorang diri menghentikan 8 perang.”
“Dan Norwegia, anggota NATO, dengan bodohnya memilih untuk tidak memberi saya Hadiah Nobel Perdamaian,” tulis Trump di Truth Social, dikutip pada Sabtu (10/1/2026).
Bagi Trump, yang terpenting adalah menyelamatkan jutaan nyawa manusia.
Pada awal Desember lalu, Trump menyebut dirinya berhak mendapat Hadiah Nobel Perdamaian atas setiap perang dan konflik yang dia damaikan.
BACA JUGA: Trump Klaim Akhiri Perang Pakai Kebijakan Dagang dan Tarif
“Saya seharusnya mendapat Hadiah Nobel untuk setiap perang (yang didamaikan), tapi saya tidak ingin serakah,” cetus Trump, saat rapat kabinet di Gedung Putih.
Komite Nobel di Norwegia memberikan hadiah bergengsi tersebut kepada pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado, karena dianggap memperjuangkan demokrasi di negara Amerika Latin tersebut.
Gedung Putih sempat memprotes keputusan Komite Nobel itu karena menganggap Trump lebih layak mendapatkannya.
Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung saat itu mengatakan, Komite Nobel lebih memprioritaskan politik daripada perdamaian, setelah mengumumkan Machado sebagai pemenang.
Namun, Cheung menegaskan Trump akan terus berusaha mendamaikan konflik di seluruh dunia dan mengakhiri perang, walaupun tanpa Hadiah Nobel Perdamaian.
Komite Nobel menjelaskan telah menutup pengajuan nominasi sejak Januari 2025, bulan yang sama saat Trump dilantik sebagai presiden, sehingga namanya tidak masuk dalam bursa.
Bela Demokrasi Venezuela
Nobel Perdamaian 2025 diberikan kepada pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado, atas perjuangannya membela demokrasi di negaranya.
Komite Nobel menilai Machado pantas menerima Nobel Perdamaian, berkat kerja tanpa lelahnya memajukan hak-hak demokrasi rakyat Venezuela, dan atas perjuangannya mewujudkan transisi dari kediktatoran menuju demokrasi secara adil dan damai.
Machado dianggap sebagai contoh keberanian rakyat sipil yang paling luar biasa di Amerika Latin.
Terlebih, saat itu tanah airnya dianggap semakin terjerumus ke dalam otoritarianisme serta krisis kemanusiaan dan ekonomi.
Komite Nobel memandang Machado sebagai tokoh kunci yang mempersatukan kelompok oposisi Venezuela dengan tujuan bersama, yaitu tuntutan pemilu bebas dan pemerintahan yang representatif.
“Inilah inti dari demokrasi: Adanya kemauan yang sama untuk membela pemerintahan rakyat meski terjadi perselisihan pendapat.”
BACA JUGA: Donald Trump: Amerika Serikat PBB yang Sesungguhnya
“Ketika demokrasi terancam, semakin penting untuk mempertahankan titik temu ini,” kata Komite Nobel.
Komite Nobel mengatakan, Machado sudah bergerak membela pemilu yang bebas dan adil sejak 20 tahun lalu, serta terus bersuara mendukung pemajuan HAM dan pengadilan yang independen.
Setelah Machado diskualifikasi dalam pemilu presiden Venezuela pada 2024, kelompok oposisi Venezuela bersatu memobilisasi simpatisan mereka sebagai pemantau pemilu, untuk memastikan pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil.
Atas perannya membela demokrasi di Venezuela, Machado disebut telah memenuhi tiga kriteria yang disyaratkan pencetus Hadiah Nobel, Alfred Nobel, untuk dapat memenangkan Nobel Perdamaian.
Ia telah menyatukan oposisi Venezuela, tak pernah lelah dalam melawan militerisasi masyarakat Venezuela, dan teguh dalam perjuangannya demi transisi damai menuju demokrasi, jelas Komite Nobel.
Komite Nobel menyatakan Machado menunjukkan demokrasi adalah alat menuju perdamaian.
Ia juga melambangkan harapan hak-hak rakyat akan dipenuhi, dan kehidupan yang bebas akan terwujud di masa depan.
“Dalam sejarahnya yang panjang, Komite Nobel Norwegia menghargai para wanita dan pria pemberani yang menantang penindasan, yang membawa harapan perdamaian di sel penjara, di jalan dan lapangan kota, dan yang menunjukkan melalui tindakan, perlawanan damai dapat mengubah dunia,” tutur Komite Nobel.
Dituduh Dukung Genosida di Gaza
Namun, banyak pihak menyoroti pernyataan-pernyataan lama Machado yang mendukung Israel dan Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, seraya menuduhnya mendukung genosida di Gaza.
Dalam salah satu unggahan lama yang kembali beredar, Machado menulis, “Perjuangan Venezuela adalah perjuangan Israel,” serta menyebut Israel sebagai “sekutu sejati kebebasan.”
Anggota parlemen Norwegia Bjornar Moxnes mengungkapkan, Machado pernah menandatangani dokumen kerja sama dengan Partai Likud pada 2020, dan menilai hal itu tidak sejalan dengan tujuan pemberian penghargaan Nobel.
Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) juga mengecam penetapan Machado, menyebutnya sebagai keputusan yang tidak berperikemanusiaan, dan menilai langkah tersebut merusak reputasi Komite Nobel.
Machado sebelumnya juga dikritik atas suratnya pada 2018 yang ditujukan kepada para pemimpin Israel dan Argentina, yang meminta dukungan untuk membongkar rezim kriminal Venezuela. (*)