NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tak membutuhkan hukum internasional.
Ia mengatakan, hanya moralitasnya sendiri yang dapat mengekang kebijakan agresifnya.
“Saya tidak membutuhkan hukum internasional.”
“Saya tidak berniat menyakiti orang,” kata Trump kepada The New York Times, Kamis (8/1/2026).
Ketika ditanya apakah ia perlu mematuhi hukum internasional, Trump mengaku perlu, tetapi tergantung pada definisi hukum internasional Anda.
Hukum internasional adalah seperangkat aturan dan norma yang mengatur hubungan antar-negara, termasuk konvensi PBB dan perjanjian multilateral.
Pengabaian hukum internasional dapat membawa konsekuensi bencana bagi seluruh komunitas global, termasuk AS.
Trump menggunakan kekuatan militer demi mencapai tujuan kebijakan luar negerinya.
Pada Sabtu (3/1/2026), AS menyerang Venezuela, lalu menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.
Segera setelah serangan itu, Trump mengatakan AS akan menguasai Venezuela dan mengeksploitasi cadangan minyak negara yang sangat besar, meskipun pemerintahannya menyebut akan bekerja sama dengan Presiden sementara, Delcy Rodríguez.
Pemerintahan Trump mengatakan akan mendikte kebijakan kepada pemerintah sementara, dan berulang kali mengancam gelombang kedua aksi militer, jika tuntutan AS tidak dipatuhi.
“Jika dia tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro,” ancam Trump kepada Rodríguez, Minggu (4/1/2026).
BACA JUGA: Iran Siap Perang Jika Dipaksa
Donald Trump kemudian membatalkan gelombang kedua serangan AS ke Venezuela.
Trump mengatakan, Washington dan Caracas kini bekerja sama, termasuk dalam pembangunan kembali infrastruktur energi negara Latin tersebut.
“Saya telah membatalkan Gelombang Kedua Serangan yang sebelumnya diharapkan, yang tampaknya tidak akan diperlukan.”
“Namun, semua kapal akan tetap berada di tempatnya untuk keselamatan dan keamanan,” tulis Trump di Truth Social.
Trump mengatakan setidaknya USD100 miliar akan diinvestasikan di Venezuela oleh perusahaan minyak besar, dan bertemu perwakilan raksasa minyak AS di Gedung Putih.
Trump lantas memuji pembebasan sejumlah besar tahanan politik oleh Venezuela, yang disebutnya sebagai isyarat yang sangat penting dan cerdas.
BACA JUGA: Daftar 66 Organisasi Internasional yang Ditinggal Pergi Amerika
Pada Selasa malam, Caracas mulai membebaskan sejumlah tahanan penting, termasuk politisi oposisi, sebagai isyarat untuk mencari perdamaian.
Di antara yang pertama dibebaskan adalah Enrique Marquez, mantan kandidat presiden, dan Biagio Pilieri, seorang pengusaha dan mantan anggota parlemen Venezuela, yang ditahan di fasilitas penahanan di ibu kota yang dikenal sebagai El Helicoide.
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares kemudian mengonfirmasi, lima tahanan warga Spanyol telah dibebaskan dan sedang dalam penerbangan kembali ke negara asal mereka.
Awal pekan ini, Trump juga mengisyaratkan AS mungkin akan melakukan serangan terhadap Presiden Kolombia Gustavo Petro, dan meningkatkan kampanyenya untuk mencaplok Greenland dari Denmark.
Pada Juni 2025, Trump bergabung dengan perang Israel yang tidak beralasan melawan Iran, memerintahkan pengeboman tiga situs nuklir utama negara itu.
Baru-baru ini, Trump mengancam jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, AS akan datang untuk menyelamatkan mereka.
Donald Trump mengatakan AS akan menyerang Iran dengan sangat keras, jika negara itu mulai membunuh para pengunjuk rasa.
“Jika mereka mulai membunuh orang, yang cenderung mereka lakukan saat kerusuhan, mereka sering mengalami kerusuhan.”
“Jika mereka melakukannya, kami akan menyerang mereka dengan sangat keras.”
“Mereka sudah diperingatkan dengan sangat tegas, bahkan lebih tegas daripada yang saya sampaikan kepada Anda sekarang.”
“Jika mereka melakukan itu, mereka akan menanggung akibat yang sangat berat,” ucap Trump dalam wawancara dengan The Hugh Hewitt Show, Kamis (8/1/2026).
Asisten Trump, Stephen Miller, mengkritik tatanan internasional pasca-Perang Dunia II, dengan mengatakan mulai sekarang, AS akan tanpa penyesalan menggunakan kekuatan militernya untuk mengamankan kepentingannya di Belahan Barat.
“Kita adalah negara adidaya, dan di bawah Presiden Trump, kita akan bertindak sebagai negara adidaya,” tegas Miller kepada CNN pada Senin (5/1/2026). (*)