NarayaPost – Eks Pekerja Migran Bisa Jadi Mentor di Kopdes Merah Putih. Pemerintah terus mendorong inovasi pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Salah satu langkah terbaru datang dari kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) dengan Kementerian Ketenagakerjaan serta Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Kolaborasi ini membuka peluang bagi eks pekerja migran untuk menjadi bagian dari Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih), baik sebagai anggota aktif maupun mentor bagi masyarakat sekitar.
Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk pengakuan terhadap kontribusi besar para pekerja migran bagi ekonomi nasional. Menurutnya, para pekerja migran memiliki pengalaman dan disiplin kerja yang berharga untuk ditularkan kepada pelaku usaha di tingkat desa. “Eks pekerja migran memiliki pengetahuan dan jaringan internasional yang bisa membantu koperasi berkembang. Kami ingin mereka tidak hanya kembali ke desa, tetapi juga membawa semangat baru untuk menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Ferry dalam konferensi pers di Jakarta.
BACA JUGA : BKSAP DPR Pastikan Bantuan dari Rakyat Indonesia Sampai kepada Warga Palestina
Ia menambahkan, pemerintah berkomitmen agar koperasi tidak hanya menjadi wadah simpan pinjam, tetapi juga pusat pembelajaran kewirausahaan di desa. Melalui Kopdes Merah Putih, mantan pekerja migran dapat menjadi mentor, membimbing anggota koperasi dalam hal manajemen usaha, pengelolaan keuangan, serta pemasaran produk lokal. Program ini diharapkan menjadi jembatan antara pengalaman luar negeri para pekerja migran dengan potensi ekonomi desa di Indonesia.
Kepala BP2MI Benny Rhamdani menilai kerja sama ini menjadi jawaban konkret atas tantangan yang dihadapi pekerja migran setelah pulang ke tanah air. Banyak di antara mereka, kata Benny, yang memiliki modal finansial namun kesulitan mengelola usaha karena minimnya pendampingan. “Kami tidak ingin para pahlawan devisa ini kembali ke rumah hanya dengan tabungan yang cepat habis. Mereka harus punya wadah untuk berdaya dan berkontribusi. Kopdes Merah Putih adalah salah satu jawabannya,” ujarnya.
Melalui program ini, pemerintah menargetkan ratusan koperasi desa bisa menjadi pusat pelatihan dan pengembangan ekonomi produktif. Eks pekerja migran yang tergabung di dalamnya akan diberi pelatihan lanjutan agar mampu menjadi mentor dan agen perubahan di komunitasnya. Pendampingan tidak hanya diberikan pada aspek manajemen, tetapi juga teknologi produksi, pemasaran digital, dan pengelolaan rantai pasok lokal.
Ferry Juliantono menjelaskan, Kemenkop UKM akan melibatkan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) untuk membantu permodalan koperasi dan usaha mikro yang dijalankan anggota. Pemerintah juga menyiapkan mekanisme pelatihan daring agar eks pekerja migran dari berbagai daerah tetap bisa mengikuti program ini tanpa harus datang ke pusat pelatihan. “Kami ingin setiap koperasi di desa menjadi inkubator ekonomi. Para eks pekerja migran akan jadi penggerak, bukan sekadar anggota pasif,” kata Ferry.
Langkah ini disambut baik oleh berbagai pihak. Sejumlah ekonom menilai, integrasi pekerja migran ke dalam sistem koperasi dapat mempercepat pembangunan ekonomi desa. Mereka memiliki kemampuan adaptif dan daya juang yang tinggi karena pengalaman bekerja di luar negeri. Dengan pola koperasi, modal sosial itu dapat diubah menjadi gerakan ekonomi kolektif.
Program ini juga dianggap sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang meminta agar pemberdayaan ekonomi desa dilakukan melalui pendekatan kolaboratif. Kopdes Merah Putih menjadi contoh konkret sinergi lintas sektor: pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat desa bekerja bersama untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri.
Dari sisi lapangan, sejumlah daerah mulai mempersiapkan pilot project program ini. Di Jawa Tengah, misalnya, sejumlah koperasi yang beranggotakan mantan pekerja migran sudah memproduksi produk ekspor seperti makanan olahan dan kerajinan tangan. Di Lombok, eks pekerja migran perempuan kini membentuk unit usaha bersama di bawah bimbingan Kopdes Merah Putih untuk memproduksi tenun dan olahan hasil laut.
Bagi banyak pekerja migran yang telah lama merantau, bergabung dengan koperasi memberikan rasa memiliki yang baru. Mereka tidak lagi bekerja untuk negara lain, melainkan membangun komunitasnya sendiri. Salah satu mantan pekerja migran asal Kendal, Jawa Tengah, mengaku bergabung dengan koperasi karena ingin berbagi pengalaman tentang pengelolaan keuangan dan etos kerja yang ia pelajari selama bekerja di luar negeri.
Masyarakat di sekitar kawasan juga merasakan dampaknya. Koperasi diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran ekonomi yang inklusif, terutama bagi perempuan dan anak muda. Pemerintah menargetkan, hingga akhir tahun depan, sebanyak 10 ribu eks pekerja migran akan bergabung dalam jaringan Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia.
BACA JUGA : Masuki Puncak Musim Hujan, BMKG Imbau Masyarakat Siaga Banjir dan Tanah Longsor
Program ini tidak hanya bertujuan ekonomi, tetapi juga sosial. Banyak pekerja migran yang sekian lama terpisah dari keluarga kini menemukan kembali ruang sosial untuk berkontribusi. Dengan menjadi mentor koperasi, mereka bisa mengembalikan kepercayaan diri dan peran aktif di masyarakat.
Langkah ini juga dinilai sebagai wujud nyata dari konsep ekonomi Pancasila, di mana koperasi menjadi sarana pemerataan kesejahteraan rakyat. Pemerintah berharap program ini mampu memperkuat ketahanan ekonomi desa dan mengurangi ketimpangan antara wilayah urban dan rural. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, lembaga keuangan, dan komunitas pekerja migran, Kopdes Merah Putih diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi baru yang tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat desa, tetapi juga memperkuat kemandirian bangsa.