NarayaPost – Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran diduga menyerang dua kapal tanker bahan bakar di sekitar Selat Hormuz pada Rabu (11/3). Insiden tersebut dilaporkan menewaskan satu awak kapal asing dan memicu gangguan besar terhadap aktivitas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Laporan dari otoritas pelabuhan, perusahaan keamanan maritim, hingga firma manajemen risiko menyebutkan serangan itu terjadi setelah sejumlah proyektil menghantam beberapa kapal di wilayah Teluk. Setidaknya empat kapal lain dilaporkan lebih dulu terkena proyektil sebelum dua kapal tanker menjadi sasaran serangan utama.
Menurut laporan Reuters, serangan terbaru terhadap kapal-kapal yang memiliki kaitan dengan Amerika Serikat dan Eropa tersebut menandai meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan pasukan Amerika Serikat serta Israel di kawasan Timur Tengah. Sejak pertempuran antara pihak-pihak tersebut meningkat pada akhir Februari, sedikitnya 16 kapal telah dilaporkan menjadi korban serangan di sekitar Teluk dan Selat Hormuz.
BACA JUGA: Beras RI Akan Segera Ekspor ke Malaysia-Papua Nugini
Dua kapal tanker yang diserang pada Rabu malam adalah Safesea Vishnu berbendera Kepulauan Marshall dan Zefyros berbendera Malta. Kedua kapal tersebut sebelumnya memuat bahan bakar di Irak sebelum menuju area pemuatan kapal-ke-kapal yang berada di perairan teritorial negara tersebut.
Menurut dua pejabat pelabuhan Irak, kapal Safesea Vishnu disewa oleh perusahaan Irak yang bekerja sama dengan State Organization for Marketing of Oil (SOMO). Sementara itu kapal Zefyros mengangkut produk kondensat dari Basra Gas Company. Serangan terhadap kedua kapal tersebut menyebabkan kebakaran besar di atas kapal dan memaksa awak kapal melakukan evakuasi darurat.
Ketegangan yang meningkat di kawasan Teluk juga berdampak pada aktivitas pelayaran. Jalur pelayaran di Teluk dan sepanjang Strait of Hormuz dilaporkan sempat terhenti setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Kondisi ini turut mendorong lonjakan harga minyak global hingga mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.
Sebelumnya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) telah memperingatkan bahwa jika serangan terhadap Iran terus berlanjut, mereka tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak dikirim dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, Israel, maupun sekutunya.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan merespons dengan serangan yang lebih keras jika Iran mencoba memblokir ekspor minyak dari kawasan tersebut. Trump juga menyatakan perusahaan minyak seharusnya tetap menggunakan Selat Hormuz karena, menurutnya, hampir seluruh kekuatan angkatan laut Iran telah melemah.
Serangan terhadap kapal tanker juga berdampak langsung pada operasional pelabuhan di Irak. Otoritas setempat memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas pelabuhan minyak setelah insiden tersebut, meskipun pelabuhan komersial lainnya masih tetap beroperasi.
Kantor berita negara Irak melaporkan keputusan tersebut diambil oleh otoritas pelabuhan yang berada di bawah General Company for Ports of Iraq. Direktur jenderalnya, Farhan al-Fartousi, mengatakan sebuah kapal milik perusahaan pelabuhan Irak berhasil menyelamatkan 25 awak dari dua kapal yang diserang.
Meski demikian, tim penyelamat masih terus melakukan pencarian terhadap beberapa awak kapal yang dilaporkan hilang. Seorang pejabat keamanan pelabuhan menyatakan pihaknya telah menemukan jasad seorang awak kapal asing di perairan sekitar lokasi kejadian.
BACA JUGA: Iran Siapkan Banyak ‘Kejutan’ untuk Amerika dan Israel
Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebagian awak kapal yang berhasil dievakuasi telah dipindahkan ke lokasi aman.
Selain dua kapal tanker tersebut, beberapa kapal lain juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat proyektil yang tidak diketahui asalnya. Kapal kontainer ONE Majesty berbendera Jepang dilaporkan mengalami kerusakan ringan ketika berlabuh di Teluk, sementara kapal curah Star Gwyneth berbendera Kepulauan Marshall juga mengalami kerusakan pada bagian lambung kapal.
Serangan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan ini mempertegas risiko besar bagi industri pelayaran global. Dengan meningkatnya konflik di sekitar Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—situasi keamanan maritim di kawasan tersebut kini menjadi perhatian utama komunitas internasional.