NarayaPost – Gempa besar guncang Filipina, 8 orang tewas disertai kerugian infrastruktur. Gempa besar yang mengguncang wilayah tenggara Filipina pada Jumat (10/11/2025), merupakan salah satu peristiwa seismik paling signifikan di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Gempa pertama berkekuatan 7,4 skala Richter terjadi pada pukul 09.43 waktu setempat, berpusat di bawah laut sekitar 20 km dari pantai Manay, Davao Oriental, di Pulau Mindanao. Hanya beberapa jam kemudian, gempa susulan dengan kekuatan sekitar 6,8 mengguncang wilayah yang sama. Para ahli menyebut kejadian ini sebagai gempa “doublet”, yaitu dua gempa besar yang terjadi berdekatan dalam waktu dan lokasi, menunjukkan adanya pelepasan energi beruntun dari zona sesar aktif. Kedua gempa ini berasal dari aktivitas subduksi lempeng Filipina, wilayah yang memang dikenal sebagai salah satu zona gempa paling aktif di dunia.
Fenomena gempa serupa juga pernah terjadi di wilayah ini. Pada tahun 2019, Filipina mengalami beberapa gempa besar di Mindanao yang menyebabkan puluhan orang tewas dan kerusakan luas. Namun, gempa doublet yang terjadi kali ini tergolong lebih kuat dan merusak, mengingat kedalaman dangkal dan lokasinya yang dekat dengan kawasan padat penduduk. Zona Davao Oriental dan pesisir timur Mindanao memang berada di sepanjang garis patahan aktif yang terus dipantau otoritas geologi setempat. Peristiwa ini mengingatkan kembali pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana di negara-negara dengan risiko gempa tinggi seperti Filipina.
BACA JUGA: Media Partner: Strategi Tingkatkan Citra & Jangkauan Brand
Menurut laporan resmi dan catatan dari berbagai media, terdapat total 8 orang tewas akibat gempa ganda yang mengguncang wilayah tenggara Filipina. Korban jiwa sebagian besar berasal dari wilayah Davao Oriental, termasuk warga yang tertimpa reruntuhan bangunan, longsoran tanah, serta beberapa yang meninggal akibat serangan jantung saat gempa terjadi. Selain korban jiwa, puluhan rumah mengalami kerusakan berat hingga hancur total. Fasilitas publik seperti sekolah, kantor pemerintah, serta beberapa rumah ibadah juga mengalami keretakan struktural. Jembatan kecil dan akses jalan di beberapa titik terputus akibat pergeseran tanah. Data sementara menyebutkan bahwa sekitar 106.794 orang terdampak di wilayah Davao dan Caraga, dengan 11.488 orang harus mengungsi ke pusat-pusat evakuasi akibat rumah yang tak lagi layak huni.
Sedangkan kerugian materiil yang ditimbulkan oleh gempabesar di Filipina ini tergolong signifikan, meskipun estimasi nilai pastinya masih dalam proses perhitungan oleh otoritas Filipina. Infrastruktur transportasi yang rusak memperlambat distribusi bantuan ke sejumlah wilayah terdampak, terutama daerah pedalaman yang hanya bisa diakses lewat jalur darat. Di samping itu, beberapa desa dilaporkan mengalami pemadaman listrik dan kehilangan akses air bersih sejak gempa pertama terjadi. Gangguan pada jaringan telekomunikasi juga memperumit koordinasi antara tim penyelamat dan relawan di lapangan. Pemerintah Filipina menyatakan bahwa tim tanggap darurat telah diterjunkan ke lokasi-lokasi terdampak untuk mempercepat pemulihan akses dan layanan dasar bagi warga.
Presiden Ferdinand Marcos Jr segera mengeluarkan pernyataan darurat dan memerintahkan operasi penyelamatan dan penilaian kerusakan di provinsi Davao Oriental dan sekitarnya. Dikutip dari Reuters, Pemerintah Filipina mengaktifkan badan penanggulangan bencana nasional (NDRRMC) untuk mengoordinasikan respon lokal, mengerahkan tim SAR, serta menyediakan bantuan medis, tenda, makanan, dan keperluan dasar untuk korban. Evakuasi warga di pesisir diinstruksikan saat peringatan tsunami dikeluarkan. Sekolah-sekolah dan kantor pemerintahan di daerah yang terdampak ditangguhkan sementara untuk mempercepat proses penanganan.
BACA JUGA: Menkeu Purbaya Tak Respon soal Peluang Maju Jadi Cawapres
Kementerian Infrastruktur dan energi juga diperintahkan melakukan inspeksi darurat pada jaringan listrik, jembatan, dan fasilitas penting agar risiko kecelakaan beruntun dapat diminimalkan. Presiden Marcos menegaskan bahwa prioritas utamanya adalah menyelamatkan nyawa dan memastikan distribusi bantuan secepat mungkin ke wilayah terpencil. Dalam pidato publik, ia menyatakan bahwa pemulihan akan dilakukan secara bertahap dan meminta kerjasama lembaga internasional jika diperlukan.
Gempa besar yang mengguncang Filipina pada Oktober 2025 menjadi pengingat serius akan tingginya kerentanan kawasan Asia Tenggara terhadap aktivitas seismik. Dengan dampak lintas batas yang turut dirasakan hingga wilayah Indonesia, khususnya Sulawesi Utara dan Papua, penting bagi negara-negara di kawasan ini untuk terus memperkuat sistem mitigasi bencana, mempercepat koordinasi lintas negara, serta meningkatkan edukasi publik tentang kesiapsiagaan menghadapi gempa dan tsunami. Kejadian ini juga menegaskan kembali pentingnya investasi pada sistem peringatan dini dan infrastruktur tangguh untuk mengurangi dampak korban dan kerugian di masa depan.