NarayaPost – Gunung Semeru Erupsi, gunung tertinggi di Pulau Jawa, kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik signifikan. Dalam kurun waktu kurang dari enam jam, tercatat empat kali erupsi terjadi sejak dini hari. Meski demikian, status Semeru masih berada pada Level II atau Waspada, dan Pusat Vulkanologi serta Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan intensif.
BACA JUGA : Briptu Rizka Sintiyani Ditetapkan Sebagai Tersangka Atas Pembunuhan Suaminya
Gunung Semeru Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.54 WIB, meski tidak terlihat secara visual akibat kondisi gelap. Namun, seismograf mencatat letusan berlangsung selama 182 detik dengan amplitudo maksimum 22 mm.
Beberapa jam kemudian, tepat pukul 02.43 WIB, letusan kembali terjadi. Kali ini, kolom abu setinggi 700 meter di atas puncak atau sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut terlihat jelas. Abu berwarna putih hingga kelabu itu bergerak ke arah barat daya, dengan durasi letusan tercatat 164 detik.
Erupsi ketiga muncul pukul 04.44 WIB, menghasilkan kolom abu setinggi 500 meter di atas puncak. Warna abu putih keabu-abuan, dengan durasi letusan 110 detik dan amplitudo mencapai 21 mm.
Sekitar 45 menit setelahnya, tepat pukul 05.28 WIB, Semeru kembali erupsi. Kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak, dengan visual tebal berwarna putih hingga kelabu. Letusan ini berlangsung selama 139 detik, amplitudo maksimum 22 mm, dan abu tersebar ke arah barat daya dan barat.
Meskipun aktivitas erupsi cukup sering, PVMBG menetapkan status Semeru tetap pada Level II (Waspada). Artinya, aktivitas vulkanik berada pada level menengah, sehingga masyarakat di sekitar gunung tidak perlu panik, namun tetap harus meningkatkan kewaspadaan.
PVMBG memberikan rekomendasi resmi:
Kolom abu yang mencapai ratusan meter berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat, terutama di kawasan yang dilalui arah sebaran abu vulkanik. Penduduk diimbau menggunakan masker, melindungi mata dengan kacamata, serta menutup sumber air agar tidak tercemar abu.
Selain itu, hujan yang mengguyur kawasan puncak Semeru dapat memicu banjir lahar hujan. Material vulkanik yang terbawa aliran sungai bisa mengancam jembatan, jalan, serta permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai berhulu Semeru. Warga diminta untuk selalu waspada jika hujan deras terjadi, terutama di malam hari.
PVMBG bersama petugas pos pengamatan terus memantau aktivitas Semeru dengan berbagai instrumen, mulai dari seismograf hingga kamera visual. Setiap data erupsi terekam dan dianalisis untuk memprediksi aktivitas berikutnya.
Pemerintah daerah Lumajang dan Malang juga telah berkoordinasi dengan BNPB serta BPBD untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat secara cepat. Jalur evakuasi dipastikan dalam kondisi siap jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan status.
Selain itu, relawan tanggap bencana terus melakukan sosialisasi ke desa-desa rawan bencana untuk mengingatkan kembali rute evakuasi dan titik kumpul yang aman. Upaya ini bertujuan agar warga tidak kebingungan jika situasi darurat terjadi.
Gunung Semeru dikenal sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia. Hampir setiap tahun, gunung ini mengalami erupsi dengan intensitas berbeda. Pada Desember 2021 lalu, Semeru bahkan memuntahkan awan panas besar yang menelan puluhan korban jiwa dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Dengan pengalaman tersebut, masyarakat di sekitar Semeru diharapkan lebih siap dan disiplin mengikuti arahan resmi. Kesadaran kolektif menjadi kunci untuk meminimalisasi korban apabila terjadi letusan besar.
BACA JUGA : DeepSeek Klaim Latih AI R1 Cuma Rp4,8 Miliar Efisien
Gunung Semeru telah mengalami empat kali erupsi dalam satu hari, dua di antaranya menghasilkan kolom abu hingga 700 meter di atas puncak. Meski aktivitas meningkat, status masih Level II Waspada. Warga tetap diimbau untuk tidak mendekati zona berbahaya, menyiapkan masker, dan selalu mengikuti informasi resmi dari PVMBG maupun pemerintah daerah.
Semeru kembali mengingatkan pentingnya kesiap-siagaan menghadapi bencana alam. Dengan disiplin mengikuti rekomendasi, masyarakat dapat lebih terlindungi dari ancaman erupsi, lahar, maupun awan panas.