NarayaPost – Hamas menyetujui pertukaran tawanan dan akhiri perang di Gaza pada awal Oktober 2025, setelah melalui serangkaian negosiasi intensif yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat. Kesepakatan ini diumumkan pada 3 Oktober 2025 di Doha, dan mencakup komitmen Hamas untuk membebaskan seluruh tawanan Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, sebagai bagian dari kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang di Gaza. Sebagai imbalannya, Israel setuju untuk menghentikan operasi militer secara bertahap, membebaskan ratusan tahanan Palestina, serta melonggarkan blokade atas wilayah Gaza guna mempercepat distribusi bantuan kemanusiaan dan proses rekonstruksi.
Mekanisme pelaksanaan kesepakatan dirancang dalam beberapa tahap, dimulai dengan penghentian serangan aktif diikuti dengan pembebasan tawanan secara bertahap, serta pengawasan ketat dari komunitas internasional. Walau belum mencakup perlucutan senjata secara penuh, kesepakatan ini dipandang sebagai titik awal paling konkret sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023 lalu dan berpotensi membuka jalan menuju penyelesaian politik jangka panjang di Palestina.
BACA JUGA: Kekayaan RI Ingin Dikuasai Warga Asing, Ini Kata Prabowo
Dalam kesepakatan yang disampaikan pada awal Oktober 2025, Hamas secara prinsip menyetujui untuk membebaskan seluruh tawanan Israel yang masih mereka tahan sejak konflik meletus pada 7 Oktober 2023. Pembebasan ini mencakup tawanan yang masih hidup maupun jenazah tawanan yang telah meninggal selama masa penahanan. Langkah ini merupakan bagian dari tahap akhir dalam rencana gencatan senjata permanen yang diusulkan Amerika Serikat dan dimediasi oleh Qatar serta Mesir. Di sisi lain, pemerintah Israel setuju untuk membebaskan sejumlah besar tahanan Palestina, termasuk narapidana yang menjalani hukuman jangka panjang serta warga Gaza yang ditahan selama operasi militer dua tahun terakhir. Proses pembebasan ini akan dilakukan secara bertahap dan diawasi oleh pihak ketiga internasional, dengan harapan dapat menurunkan ketegangan secara signifikan di kedua belah pihak.
Sebagai bagian dari imbalan diplomatik atas kesepakatan ini, Israel juga akan menghentikan seluruh operasi militer di Jalur Gaza dan secara bertahap melonggarkan blokade yang telah memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut sejak lama. Langkah pelonggaran ini mencakup pembukaan jalur distribusi bantuan, izin masuk barang kebutuhan pokok, serta perizinan bagi lembaga kemanusiaan dan tim medis untuk masuk dan bekerja di Gaza. Namun, meskipun kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam menuju akhir konflik, satu isu besar masih menggantung, Hamas belum sepakat untuk menyerahkan atau melucuti persenjataannya. Aspek perlucutan senjata (disarmament) belum menjadi bagian dari kesepakatan saat ini dan masih menjadi pokok perdebatan dalam fase diplomasi berikutnya. Hal ini memunculkan tantangan baru bagi upaya perdamaian jangka panjang dan menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang akan mengatur Gaza pasca konflik.
Kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang dicapai antara Hamas dan Israel pada awal Oktober 2025 disambut dengan optimisme oleh para mediator internasional, termasuk Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan tegas yang menyerukan agar Israel segera menghentikan serangan udara dan darat di Jalur Gaza guna menciptakan kondisi yang aman bagi pembebasan tawanan secara menyeluruh. Trump menegaskan bahwa tidak ada lagi alasan untuk menunda pelaksanaan kesepakatan setelah Hamas menyatakan kesediaannya membebaskan seluruh tawanan Israel. Dalam pernyataannya di Washington, Trump juga menyampaikan bahwa proses kemanusiaan dan bantuan internasional tidak boleh terganggu oleh kalkulasi militer di lapangan. Menurutnya, kredibilitas kedua pihak, terutama Israel sebagai mitra strategis Amerika, dipertaruhkan di mata dunia internasional jika kekerasan terus berlangsung.
BACA JUGA: Tata Kelola Pelaksanaan MBG Akan Dinaungi Aturan Resmi
Namun di tengah harapan damai, pemerintah Israel tetap menekankan bahwa pelucutan senjata Hamas adalah syarat utama untuk penyelesaian konflik jangka panjang. Meski Israel menyatakan kesediaannya untuk menjalankan fase awal dari kesepakatan yakni penghentian sementara operasi militer dan pembebasan tahanan Palestina. Para pejabat tinggi Israel menegaskan bahwa gencatan senjata tidak bisa dianggap final tanpa adanya jaminan perlucutan penuh senjata milisi di Gaza. Hal ini menjadi titik krusial yang masih diperdebatkan, karena dalam dokumen kesepakatan saat ini, Hamas belum menyatakan komitmen terhadap disarmament. Sebagian analis menilai bahwa ketidaksepakatan soal senjata bisa menjadi hambatan utama dalam implementasi penuh kesepakatan, dan kemungkinan menghambat transisi menuju perdamaian yang lebih permanen.
Meski kesepakatan ini disambut positif, sejumlah tantangan serius masih membayangi implementasinya. Verifikasi terhadap komitmen kedua pihak terutama pembebasan tawanan dan penghentian serangan milite belum memiliki mekanisme yang jelas dan transparan. Selain itu, belum ada kepastian soal siapa yang akan bertanggung jawab dalam memantau penarikan pasukan Israel dan mengawasi fase rekonstruksi Gaza. Secara politik, masa depan wilayah Gaza pun belum jelas, apakah akan tetap di bawah kontrol Hamas, diserahkan ke Otoritas Palestina, atau dikelola melalui mekanisme internasional. Rekonsiliasi internal Palestina juga masih rapuh, mengingat hubungan yang renggang antara Hamas dan Otoritas Palestina, yang dapat menghambat pembentukan pemerintahan terpadu pasca-konflik. Tanpa kepastian atas isu-isu ini, proses damai tetap berada di jalur yang rawan gagal.