NarayaPost – Ahmad Sahroni melaporkan kepemilikan 28 unit mobil dan motor sebagai bagian dari aset kekayaannya. Angka ini fantastis, dengan total mencapai Rp 38 miliar. Dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang ia setorkan pada 21 Februari 2025 untuk periode 2024, Sahroni tercatat memiliki 23 mobil dan lima motor.
Beberapa kendaraan yang ia miliki termasuk model mewah dengan harga fantastis. Bahkan ada yang nilai satuannya menembus miliaran rupiah. Seluruh aset kendaraan tersebut berstatus “hasil sendiri”.
BACA JUGA: Rasa Kecewa Prabowo Mengetahui Rantis Brimob Melindas Ojol
Jika dijumlahkan, nilai kendaraan Sahroni ini mencapai Rp 38,132 miliar. Namun ternyata, koleksi mobil dan motor tersebut bukan aset terbesarnya. Aset paling besar justru berupa tanah dan bangunan senilai Rp 139,58 miliar.
Selain itu, ia juga memiliki harta bergerak lainnya sebesar Rp 107,73 miliar, kas dan setara kas Rp 78,35 miliar, serta surat berharga senilai Rp 60 juta. Meski begitu, Sahroni tercatat memiliki utang Rp 34,95 miliar. Total kekayaannya menyentuh Rp 328,91 miliar.
Di luar laporan harta, nama Sahroni juga ramai diperbincangkan setelah pernyataannya terkait gaji dan tunjangan anggota DPR.
“Jadi jangan dilihat karena nilai uangnya, wow, fantastis. Nggak, itu biasa sebenarnya. Cuman kan ada orang yang nggak senang, wow gila DPR semau-maunya gitu. Dapet duit senang-enaknya ngelakuin hal. Nggak!” kata Sahroni.
Terbaru, Fraksi Partai NasDem resmi mencopot Sahroni dari posisi pimpinan Komisi III DPR. Mengutip detikNews, ia tidak lagi menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR. Surat penggantian bernomor F.NasDem.758/DPR-RI/VIII/2025 beredar pada Jumat (29/8/2025). Dokumen tersebut ditandatangani oleh Ketua Fraksi Partai NasDem, Viktor Bungtilu Laiskodat, dan juga oleh Sahroni sendiri dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Fraksi.
BACA JUGA: Tuntutan Asosiasi Ojol Setelah Affan Kurniawan Dilindas Rantis
Meski koleksi kendaraan mewah Ahmad Sahroni kerap menjadi sorotan publik, sejatinya ia sendiri menegaskan bahwa harta kekayaan tidak seharusnya dilihat semata dari angka-angka fantastis yang tercatat.
Bagi Sahroni, narasi yang sering dilekatkan kepada anggota DPR sebagai pihak yang hidup “semau-maunya” karena gaji dan tunjangan, justru tidak mencerminkan kenyataan sepenuhnya. Namun, dinamika politik yang menyertainya tampak berjalan lebih cepat dari sekadar persoalan harta.
Pencopotannya dari jabatan pimpinan Komisi III DPR oleh Fraksi Partai NasDem menunjukkan bahwa posisi politik bisa berubah sewaktu-waktu, seiring dengan strategi dan keputusan partai. Dengan total kekayaan yang mencapai ratusan miliar rupiah, Sahroni kini bukan hanya diperbincangkan karena deretan asetnya, tetapi juga karena posisinya yang bergeser dalam konstelasi politik Senayan.