Hasto Sebut Wacana Pengiriman Tentara Indonesia ke Gaza

Sekretaris Jenderal PDI-Perjuangan, Hasto Kristiyanto.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyoroti rencana pemerintah Indonesia untuk mengirimkan sekitar 8.000 pasukan TNI ke Gaza, Palestina. Menurut Hasto, sejak awal Indonesia memiliki tradisi kuat dalam pengiriman pasukan perdamaian yang selalu dilakukan di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tradisi tersebut, kata dia, bukan sekadar prosedur teknis, melainkan cerminan komitmen Indonesia terhadap tatanan internasional yang adil dan setara.

“Dalam tradisi kita, pengiriman pasukan perdamaian itu sejak dulu selalu melalui PBB. Karena PBB adalah lembaga yang memang dibentuk untuk mengatur sistem internasional agar lebih berkeadilan, agar setiap bangsa punya kedudukan setara, dan juga agar nilai-nilai Pancasila diterima sebagai bagian dari Piagam PBB,” ujar Hasto saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (15/2).

PBB Belum Berhasil Selesaikan Konflik

Hasto menilai, meskipun hingga kini Perserikatan Bangsa-Bangsa belum sepenuhnya berhasil menyelesaikan konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Indonesia tetap seharusnya berjuang melalui mekanisme yang sudah ada. Ia menegaskan, solusi yang diambil bukan dengan membentuk badan baru di luar PBB, melainkan dengan memperkuat konsolidasi negara-negara berkembang yang menjadi mayoritas anggota PBB.

BACA JUGA: Pasukan TNI di Gaza Takkan Terlibat Operasi Tempur

“Ketika PBB tidak berhasil menyelesaikan persoalan di Timur Tengah, maka kita harus menggalang bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang merupakan kekuatan mayoritas di PBB. Bukan membentuk badan baru di luar mekanisme tersebut. Itulah yang diharapkan oleh PDI Perjuangan,” tegasnya.

Hasto Harap Prabowo Konsisten Jalankan Prinsip Politik Luar Negeri

Lebih lanjut, Hasto berharap Presiden Prabowo Subianto tetap konsisten menjalankan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki modal historis yang kuat dalam membangun solidaritas Asia-Afrika dan Amerika Latin, yang pernah dirintis sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

“Kami mengharapkan Presiden Prabowo terus melanjutkan kebijakan politik luar negeri bebas aktif, sekaligus memanfaatkan momentum kekuatan solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika dan Amerika Latin yang pernah digalang Indonesia. Itu bisa menjadi kekuatan efektif untuk mengupayakan perdamaian abadi di Timur Tengah,” jelas Hasto.

Dalam pandangannya, agresi Israel terhadap Palestina merupakan bentuk penjajahan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Oleh karena itu, penyelesaiannya tidak cukup hanya bersifat ad hoc, melainkan membutuhkan perubahan sistem internasional yang lebih adil, dengan PBB sebagai instrumen utamanya. Ia bahkan mendorong Indonesia untuk tampil sebagai pemimpin moral dan politik di level global.

“Indonesia seharusnya menjadi leader, mengambil prakarsa-prakarsa aktif berdasarkan aspek historis yang telah dicapai bangsa ini,” kata Hasto.

Singgung Konsekuensi Anggaran

Selain aspek politik dan kemanusiaan, Hasto juga menyinggung soal konsekuensi anggaran apabila pengiriman pasukan dilakukan di luar kerangka PBB. Ia mengingatkan bahwa kondisi fiskal nasional saat ini memiliki keterbatasan, sehingga setiap kebijakan harus mempertimbangkan efektivitas dan prioritas.

BACA JUGA: Pesawat Siluman B-2 Siaga Antisipasi Negosiasi AS dan Iran Gagal

“Kita lihat saat ini ada keterbatasan fiskal. Untuk pendidikan saja belum merata,” ujarnya. Menurut Hasto, resolusi konflik yang dilakukan melalui PBB, dengan kepemimpinan dan prakarsa Indonesia, akan jauh lebih efektif sekaligus lebih efisien dari sisi biaya negara.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa PDI Perjuangan tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan perdamaian jika PBB telah mengeluarkan resolusi resmi terkait konflik di Gaza. Dalam kondisi tersebut, Indonesia dapat menyiapkan pengiriman pasukan beserta implikasi anggaran yang diperlukan.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa rencana pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza masih dalam tahap pembahasan. Ia menyebut jumlah pasukan yang dipertimbangkan sekitar 8.000 personel, sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia dan mendukung perjuangan rakyat Palestina.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like