Berdasarkan data perdagangan RTI Business pukul 11.32 WIB, melemah 7% ke level 8.351,81. Hingga saat ini, tercatat 760 saham melemah, 29 saham menguat, dan 15 saham stagnan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna, mengaku akan melakukan segala upaya untuk mengembalikan IHSG. Kerja sama dengan sejumlah pihak terkait juga akan dilakukan otoritas BEI.
“Tentu kita akan follow up secepatnya,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, BEI mengaku telah melakukan diskusi bersama MSCI. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyebut diskusi bersama MSCI juga melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Kustodian Sentral Efek (KSEI).
Sebelumnya, BEI telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan penyampaikan data free float di website resmi pihaknya. Meski begitu, BEI mengaku terbuka jika keterbukaan informasi ini belum cukup memenuhi ketentuan MSCI.
“Sebelumnya, kami telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan penyampaikan pengumuman data free float di website BEI. Namun jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” ungkap Kautsar dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).
Meskipun penurunan tajam IHSG menciptakan kekhawatiran dalam jangka pendek, para pelaku pasar dan regulator melihatnya sebagai bagian dari dinamika pasar modal yang sehat. Koreksi pasar seringkali terjadi sebagai respons terhadap evaluasi ulang kondisi ekonomi dan ekspektasi investor, dan tidak jarang diikuti oleh fase pemulihan ketika sentimen kembali menguat.
Berbagai faktor yang mungkin juga menjadi pemicu tekanan pada pasar saham, termasuk sentimen negatif global, aksi jual bersih investor asing (net sell), serta persepsi pasar terhadap kondisi ekonomi domestik dan global. Tingginya volatilitas indeks mencerminkan bahwa pada saat itu mayoritas saham tercatat melemah signifikan di seluruh sektor utama.
BACA JUGA : Susunan Terbaru Upacara Bendera di Sekolah, Ada Ikrar Pelajar
Organisasi pasar modal Indonesia, seperti BEI, terus menegaskan bahwa fundamental pasar modal domestik tetap kuat dengan dukungan perusahaan-perusahaan tercatat yang memiliki kinerja operasional baik. Hal ini diharapkan akan membantu pasar modal Indonesia untuk pulih dan tumbuh kembali setelah fase tekanan pasar berakhir.
Penurunan IHSG hingga sekitar 7 % merupakan salah satu momen volatil dalam sejarah pasar modal Indonesia, namun langkah strategis yang diambil oleh BEI, termasuk edukasi investor, penerapan circuit breaker, serta koordinasi dengan regulator lainnya, menjadi kunci dalam menenangkan pasar dan menjaga kepercayaan investor. Para pelaku pasar diimbau untuk tetap tenang, melakukan diversifikasi investasi, serta memahami bahwa koreksi adalah bagian alami dari siklus pasar modal.