NarayaPost – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait merespons inisiatif program “gentengisasi” yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Program Industri Genteng ini bertujuan mendorong penggunaan genteng berbahan dasar tanah liat sebagai atap rumah di seluruh Indonesia, menggantikan material seng yang selama ini masih banyak digunakan masyarakat. Menindaklanjuti arahan tersebut, Maruarar memastikan pihaknya akan melakukan peninjauan langsung ke sentra-sentra industri genteng nasional guna mempelajari kesiapan produksi, kualitas, hingga dampak ekonominya.
Presiden Prabowo sebelumnya mengemukakan gagasan gentengisasi sebagai bagian dari upaya memperindah wajah permukiman sekaligus menciptakan hunian yang lebih layak, sehat, dan ramah lingkungan. Dalam rencana tersebut, Koperasi Desa Merah Putih disebut akan dilibatkan secara aktif dalam pengembangan industri genteng di berbagai daerah. Menurut Prabowo, skema koperasi dinilai tepat karena dapat memperkuat ekonomi desa dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.
Menanggapi hal itu, Maruarar Sirait yang akrab disapa Ara menyatakan bahwa gentengisasi merupakan kebijakan strategis yang perlu dipersiapkan secara matang. Ia menegaskan bahwa kementeriannya akan mempelajari secara menyeluruh, mulai dari aspek industri hingga dampaknya terhadap pelaku usaha kecil dan menengah. “Soal gentengisasi, tentu itu sudah arahan Presiden. Kita akan pelajari, kita persiapkan,” ujar Ara saat ditemui di Gedung BRI I, Jakarta Pusat, Rabu (4/1).
BACA JUGA: Trump Tak Berniat Serang Iran, Israel yang Ngebet
Ara mencontohkan sentra industri genteng Jatiwangi di Majalengka, Jawa Barat, yang sejak lama dikenal sebagai produsen genteng berkualitas. Ia berencana mengunjungi kawasan tersebut untuk melihat langsung bagaimana kondisi industri genteng saat ini. “Dulu terkenal itu genteng dari Jatiwangi. Nanti saya akan datang ke sana, saya akan lihat bagaimana industrinya, kualitasnya, kemampuan produksinya, dan juga bagaimana harganya,” katanya.
Lebih jauh, Ara optimistis kebijakan gentengisasi akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM yang bergerak di sektor bahan bangunan tradisional. Menurutnya, program ini berpotensi menghidupkan kembali industri genteng rakyat yang sempat terpinggirkan oleh dominasi material modern seperti seng dan baja ringan. “Saya ingin melihat bagaimana kebijakan Presiden ini bisa benar-benar dirasakan oleh UMKM, oleh industri, dan oleh pengusaha-pengusaha lokal,” ujarnya.
BACA JUGA: OTT KPK di Jakarta Sasar Pejabat Bea Cukai, Kasus Diproses
Sementara itu, Presiden Prabowo menjelaskan alasan di balik dorongan penggunaan genteng tanah liat. Ia menilai atap seng yang masih banyak digunakan di berbagai daerah memiliki sejumlah kelemahan. Selain mudah berkarat, seng juga menyerap panas sehingga membuat hunian menjadi tidak nyaman bagi penghuninya. “Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua atap dari seng,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2).
Prabowo menegaskan bahwa gentengisasi akan menjadi sebuah gerakan nasional. Ia bahkan menyebutnya sebagai proyek besar yang bertujuan menjadikan seluruh atap rumah di Indonesia menggunakan genteng. Menurutnya, industri genteng tidak memerlukan investasi mahal karena peralatan pabrik relatif terjangkau. Hal ini membuka peluang besar bagi koperasi desa untuk terlibat langsung. “Alat-alat pabrik genteng itu tidak mahal. Jadi nanti Koperasi Desa Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” ujarnya.
Selain aspek ekonomi, Prabowo juga menyoroti potensi keberlanjutan industri genteng. Ia mengungkapkan telah menerima masukan dari para ahli bahwa proses produksi genteng dapat memanfaatkan limbah, salah satunya limbah batu bara. Pemanfaatan limbah tersebut dinilai dapat menekan biaya produksi sekaligus mengurangi dampak lingkungan, sehingga gentengisasi tidak hanya memperindah permukiman, tetapi juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan nasional.