Iran Bilang Koalisi Amis Targetkan Sipil

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Iran sangat siap melanjutkan serangan rudal terhadap Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Barat, selama diperlukan.

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan, serangan AS dan Israel terhadap fasilitas-fasilitas rudal Iran, gagal menghentikan serangan balasan Iran.

“Mereka baru saja mulai menyerang kami secara membabi buta, dan menargetkan kawasan permukiman, rumah sakit, sekolah, serta infrastruktur, yang merupakan langkah yang sangat berbahaya,” ujar Araghci kepada media AS PBS News, yang disiarkan pada Selasa (10/3/2026).

Dia mengatakan, koalisi Amis (Amerika-Israel) tidak memiliki strategi akhir yang realistis.

Mengomentari pemilihan pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, Araghchi mengatakan hal itu menunjukkan kontinuitas kebijakan Iran yang anti-AS dan anti-Israel, serta stabilitas negaranya.

Dia pun menekankan, perundingan dengan AS bukanlah pilihan, karena Iran sudah merasakan hal pahit ketika melakukan itu.

Araghci pun merasa berkomunikasi dengan AS bukan agenda Iran.

Araghchi mengaitkan pula kenaikan harga energi global dengan perlambatan atau penghentian produksi dan transportasi minyak regional akibat agresi AS-Israel terhadap Iran, seraya mengatakan Iran tidak menutup Selat Hormuz, dan tidak menghalangi navigasi melintasi selat tersebut.

1.300 Lebih Warga Iran Tewas

Lebih dari 1.300 warga sipil tewas dan 9.669 fasilitas sipil hancur di Iran, akibat serangan militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel sejak 28 Februari

Duta besar dan perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amir Saeid Iravani, Selasa (10/3/2026) mengatakan, lokasi-lokasi sipil tersebut meliputi 7.943 rumah tinggal, 1.617 pusat komersial dan layanan, 32 fasilitas medis dan farmasi, 65 sekolah dan lembaga pendidikan, 13 gedung Bulan Sabit Merah, serta beberapa fasilitas pasokan energi.

“Mereka dengan sengaja dan tanpa pandang bulu menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil di seluruh negara saya.”

“Mereka tidak menghormati hukum internasional dan tidak menahan diri dalam melakukan kejahatan ini,” kata Iravani.

Dia juga menyatakan, kawasan permukiman padat penduduk dan infrastruktur sipil penting sengaja dijadikan target.

BACA JUGA: Putin Tawarkan Solusi Hentikan Perang di Iran, Trump Menolak

Angka korban dan kerusakan terus meningkat seiring berlanjutnya serangan militer AS-Israel.

Iravani menyebutkan beberapa contoh serangan terhadap target sipil, termasuk serangan masif terhadap fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran dan kota-kota lain pada Sabtu (7/3/2026) malam, yang melepaskan sejumlah besar polutan berbahaya dan beracun ke atmosfer.

Ledakan tersebut menyebabkan polusi udara yang parah dan risiko kesehatan serius bagi warga sipil, terutama anak-anak, perempuan, lansia, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan serius, kata Iravani, mengutip Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran.

“Serangan-serangan keji ini juga melanggar kewajiban lingkungan internasional, termasuk yang tercantum dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati,” jelasnya.

Iravani menyebutkan beberapa contoh lainnya, termasuk serangan terhadap Bandar Udara Mehrabad di Teheran pada Sabtu pagi, yang menghancurkan atau menyebabkan kerusakan parah pada beberapa pesawat sipil dan fasilitas bandara, serta serangan terhadap fasilitas desalinasi air tawar di Pulau Qeshm di Provinsi Hormozgan, yang mengganggu pasokan air ke 30 desa.

Pada Minggu (8/3/2026) dini hari, pasukan Israel melancarkan serangan teroris yang disengaja terhadap Hotel Ramada di Beirut, Lebanon, yang menewaskan empat diplomat Iran.

“Pembunuhan diplomat secara terarah di wilayah negara berdaulat lain merupakan tindakan teroris yang serius, kejahatan perang, dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” ucapIravani.

Dia mendesak masyarakat internasional segera bertindak untuk menghentikan perang tersebut.

“Kami akan mengambil semua tindakan yang diperlukan demi membela rakyat kami, wilayah kami, dan kemerdekaan kami,” tegas Iravani.

Rancangan Resolusi Pro Amis

Iravani juga memperingatkan rancangan resolusi Dewan Keamanan yang didukung negara-negara Teluk, yang mengecam serangan Iran di kawasan, akan secara permanen merusak reputasi badan tersebut.

Dari naskah yang beredar menjelang pemungutan suara yang dijadwalkan, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dilaporkan mengutuk serangan rudal dan drone Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania, dan menuntut penghentian segera semua serangan.

“Beberapa anggota Dewan berusaha membalikkan peran dan posisi korban dan agresor,” cetus Iravani dalam konferensi pers di markas besar PBB di New York, tentang pemungutan suara yang akan dilakukan Rabu.

Menurut Iravani, rancangan tersebut berusaha memberi penghargaan kepada agresor dan menghukum korban melalui resolusi yang bias dan bermotivasi politik.

“Tindakan seperti itu, jika diadopsi, akan sangat merusak dan melemahkan kredibilitas dan legitimasi Dewan.”

“Jika rancangan diadopsi, itu akan mencoreng kredibilitas dan reputasi Dewan Keamanan.”

BACA JUGA: Mojtaba Khamenei Pimpin Iran, Trump: Kesalahan Besar!

“Jika terjadi, agresor, yaitu Israel dan AS, akan diberi penghargaan dan didorong untuk melakukan tindakan agresi lebih lanjut.”

“Hari ini, itu adalah Iran.”

“Besok, bisa jadi negara berdaulat lainnya.”

“Masyarakat internasional harus bertindak sekarang untuk menghentikan perang berdarah ini terhadap rakyat Iran,” paparnya. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like