NarayaPost – Iran membantah berupaya memulai kembali perundingan dengan Amerika Serikat (AS).
Iran menegaskan tidak akan terlibat pembicaraan dengan AS.
Melalui platform X, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menanggapi laporan yang menyebut Iran meluncurkan inisiatif baru untuk bernegosiasi dengan AS.
Merujuk pada laporan Al Jazeera yang mengutip The Wall Street Journal, Larijani mengeklaim berupaya melanjutkan negosiasi dengan Washington melalui Oman.
“Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS,” katanya.
Dalam unggahan terpisah, Larijani juga menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran.
BACA JUGA: Iran Takkan Berhenti Balas Serangan Sampai Musuh Kalah Telak
Ia mengkritik Trump karena dinilai menyeret kawasan ke dalam kekacauan dengan ilusi kosong.
“Kini ia khawatir akan jatuhnya lebih banyak tentara Amerika.”
“Dengan delusinya sendiri, ia telah mengubah slogan ‘America First’ menjadi ‘Israel First,’ dan mengorbankan pasukan Amerika demi ambisi kekuasaan Israel,” tutur Larijani.
Ia juga menuduh Trump membuat tentara Amerika dan keluarga mereka membayar harga melalui kebohongan baru.
Serangan militer gabungan AS-Israel pada Sabtu, dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Teheran membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan sejumlah negara Teluk.
Tiga personel militer AS dilaporkan tewas, dan lima lainnya mengalami luka serius
Terorisme
Iran menuding AS dan Israel melakukan aksi terorisme dan pembunuhan berencana (assassination) terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Dalam pernyataan pada Minggu (1/3/2026), Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan serangan gabungan kedua negara itu pada Sabtu (28/2/2026) melanggar prinsip dan norma hukum internasional, termasuk Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Tindakan teroris oleh AS dan rezim Zionis (Israel), yang melakukan pembunuhan terencana terhadap Pemimpin Tertinggi serta pejabat tinggi lainnya melalui agresi militer terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan nasional negara (Iran), merupakan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap seluruh prinsip dan norma internasional,” ujar pernyataan itu.
Menurut Pemerintah Iran, penggunaan kekuatan militer terhadap pimpinan negara berdaulat tidak dapat dibenarkan dalam sistem hukum internasional.
Serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu dini hari waktu setempat, menyasar sejumlah wilayah strategis, termasuk ibu kota Teheran.
Sejumlah rudal menghantam kawasan dekat kediaman Khamenei dan istana kepresidenan.
BACA JUGA: Bahrain Hingga Arab Saudi Jadi Sasaran Serangan Balasan Iran
Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya meninggal dalam serangan itu.
Eskalasi terjadi di tengah perundingan tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi Oman, mengenai pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi.
Putaran ketiga perundingan tersebut berlangsung di Jenewa pada Kamis (26/2/2026).
Agresi Vs Bela Diri
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan, kehilangan sejumlah komandan militer, tak membuat kemampuan militer negara itu mengalami perubahan.
“Kami memang kehilangan beberapa komandan, itu fakta, dan nama-namanya sudah diumumkan.”
“Namun fakta lainnya adalah tidak ada yang berubah dalam kemampuan militer kami,” ucap Araghchi, Minggu.
Saat ditanya mengenai kemungkinan penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat melalui perundingan, Araghchi mengatakan Teheran memiliki pengalaman pahit dalam bernegosiasi dengan Washington.
Ia menambahkan, tindakan yang dilakukan Amerika Serikat merupakan bentuk agresi.
“(Sementara) apa yang kami lakukan adalah tindakan membela diri.”
“Ada perbedaan besar antara keduanya,” imbuhnya.
560 Tentara AS Diklaim Tewas
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim sedikitnya 560 personel militer AS tewas dan luka-luka dalam serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di seluruh Timur Tengah.
“Pangkalan militer AS di Bahrain diserang oleh dua rudal balistik, dan pangkalan-pangkalan lain juga digempur serangan tanpa henti, yang sejauh ini mengakibatkan 560 tentara Amerika tewas atau luka-luka,” sebut pernyataan tersebut, seperti dikutip kantor berita Fars.
Laporan itu juga menyebutkan empat serangan pesawat tak berawak terhadap pangkalan angkatan laut Bahrain, yang menyebabkan kerusakan serius pada pusat komando dan dukungan.
Menurut IRGC, Teheran menargetkan pangkalan angkatan laut AS Ali Al-Salem di Kuwait, mengganggu operasinya, serta tiga objek pangkalan angkatan laut Mohammed Al-Ahmad di sana. (*)