NarayaPost – Pemerintah Republik Islam Iran mengeluarkan kecaman keras terhadap Israel atas Pembunuhan Komandan Hizbullah. Hal ini diketahui setelah terbongkarnya fakta bahwa seorang komandan militer penting dari Hizbullah tewas dalam serangan udara di pinggiran Beirut, Lebanon. Iran menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati dan sebagai serangan langsung terhadap kedaulatan Lebanon.
Menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran, pembunuhan yang menimpa komandan itu bukan hanya tindakan militer biasa, melainkan “kejahatan yang tidak bisa ditoleransi,” dan disebut sebagai “serangan biadab rezim Zionis” yang memperburuk situasi keamanan regional. Iran menyerukan agar dunia internasional, termasuk PBB, mengambil langkah tegas menghadapi tindakan tersebut dan meminta pertanggungjawaban dari pemerintah Israel.
BACA JUGA : Ada 700 Aduan Lebih ke Kemendagri, Ini yang Jadi Sorotan!
Sumber intelijen Lebanon menyebut bahwa komandan tersebut adalah Haytham Ali Tabatabai, yang dikenal sebagai figur kunci dalam struktur militer Hizbullah. Ia dilaporkan tewas dalam serangan udara yang menghantam kawasan perkotaan di selatan Beirut sebuah wilayah yang selama ini menjadi basis operasional kelompok perlawanan Lebanon. Korban jiwa turut bertambah di antara warga sipil dan pejuang Hizbullah lainnya.
Dalam komentarnya, Iran menegaskan bahwa penargetan terhadap Tabatabai yang terjadi di wilayah Lebanon jelas menyalahi norma internasional. “Pembunuhan di wilayah suveran Lebanon merupakan pelanggaran terhadap integritas teritorial dan menghancurkan dasar-dasar diplomasi damai,” kata juru bicara Kemenlu Iran. Pernyataan itu juga menyinggung bahwa tindakan Israel tersebut bisa memicu eskalasi militer lebih luas.
Lebih jauh, Iran menuding bahwa pembunuhan ini juga merupakan upaya untuk melemahkan Poros Perlawanan di kawasan, yang mencakup aliansi antara Hizbullah, Iran, dan kelompok lainnya. Menurut Teheran, dengan tewasnya Tabatabai maka struktur komando Hizbullah akan terdampak dan hal ini diharapkan oleh Israel agar membatasi perlawanan terhadap agresi berikutnya. Iran mengingatkan bahwa para pemimpin Hizbullah bukanlah target biasa melainkan bagian dari dinamika geopolitik yang lebih besar.
Reaksi dari Iran juga disertai kecaman terhadap dukungan militer serta intelijen yang diberikan oleh Israel kepada operasi semacam ini. Teheran menyebut bahwa dukungan eksternal terhadap Israel memperkeruh konflik di Timur Tengah dan menambah daftar panjang korban non-kombatan serta kerusakan infrastruktur sipil. Dalam hal ini, Iran menyerukan agar Dewan Keamanan PBB segera menggelar sesi darurat untuk merespon insiden yang dikhawatirkan membuka babak baru dalam peperangan regional.
Sementara itu, wilayah Lebanon khususnya selatan Beirut telah beberapa kali menjadi medan konflik dan serangan udara antara Israel dan Hizbullah. Gencatan senjata yang ditetapkan pada November 2024 tampak rapuh setelah insiden ini. Komandan Tabatabai tercatat sebagai pimpinan militer senior Hizbullah yang tewas dalam serangan sejak perjanjian gencatan senjata tersebut diberlakukan. Banyak analis menilai bahwa kematiannya menjadi simbol bahwa garis merah antara konflik dan perang terbuka kembali dilewati.
Situasi pasca pembunuhan komandan Hizbullah, kemudian memunculkan kecemasan di kalangan wilayah regional. Dengan meningkatnya tensi antara Iran dan Israel, banyak pengamat menyoroti potensi konflik yang jauh lebih besar, bukan hanya di antara kedua negara tetapi juga di wilayah Lebanon, Suriah, dan jalur dukungan Hizbullah. Iran beberapa jam setelah peristiwa tersebut sudah menyatakan bahwa mereka akan “menyiapkan respons tegas” melalui kanal yang ada, dan ancaman pembalasan oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) pun ikut mengemuka.
Di Beirut sendiri, warga di wilayah yang terdampak serangan menyampaikan rasa takut dan keprihatinan. Suara bom, ledakan di permukiman dan rumah-rumah warga sipil menjadi gambaran nyata bahwa konflik ini bukan hanya antar militer, namun telah merambah ke kehidupan sehari-hari warga biasa. Lembaga kemanusiaan menyatakan bahwa selain korban militer, terdapat pula kaum perempuan dan anak-anak yang terdampak serangan tersebut suatu aspek yang sangat dikecam oleh pemerintahan Iran dalam pernyataannya.
Dampak diplomasi pun ikut bergulir. Negara-negara Arab dan sekutu Iran memberikan dukungan moral bagi Lebanon dan Hizbullah, sementara Israel menegaskan bahwa aksi militernya merupakan bagian dari operasi melawan jaringan militer yang memerlukan penindakan. Kendati demikian, diplomasi secara formal masih harus berjalan agar konflik tidak meluas menjadi perang terbuka. Iran tetap memposisikan diri sebagai pelindung Hizbullah dan Poros Perlawanan, yang dalam pandangan mereka adalah garis pertahanan terhadap agresi Israel.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa pembunuhan Tabatabai dan reaksi Iran menunjukkan dua hal utama: pertama, kerentanan wilayah Lebanon dalam konflik Israel-Hizbullah; kedua, bahwa Iran ingin menunjukkan bahwa dukungannya kepada kelompok milisi bukan sekadar simbolik, tetapi bisa dilegitimasi sebagai bagian dari strategi geopolitik luas yang mencakup Suriah, Irak, dan Yaman. Hal ini menjadikan insiden sebagai momen peralihan dalam dinamika zaman perang proksi di Timur Tengah.
Di sisi keamanan, internals militer Hizbullah kini tengah bersiap menghadapi kemungkinan respons militer yang lebih besar. Waktu akan sangat menentukan langkah mana yang diambil oleh Israel, Iran, dan Hizbullah. Apakah serangan ini akan direspon secara terbuka dengan skala besar ataukah akan dijalankan melalui serangan terukur yang menjaga agar tidak memicu perang total? Pertanyaan-pertanyaan ini kini menjadi bagian dari analisis peta konflik kawasan.
BACA JUGA : Pemerintah Afghanistan Ancam Lakukan Serangan Balasan ke Pakistan
Bagi masyarakat internasional, insiden ini kembali membuka dilema panjang tentang bagaimana Mekanisme gencatan senjata dan pengawasan internasional berjalan di kawasan yang sangat rentan. Pembunuhan seorang komandan militér dalam wilayah yang secara hukum negara berdaulat seperti Lebanon menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana negara harus bergerak ketika terjadi pelanggaran terhadap aturan yang mengatur konflik dan internasional?
Akhirnya, pembunuhan komandan Hizbullah dan kecaman dari Iran bukan hanya soal satu peristiwa militer. Ini adalah titik kritis yang bisa memicu perubahan cepat pada peta kekuatan di Timur Tengah. Seluruh pihak militer, diplomasi, masyarakat sipil kini dalam ketegangan yang semakin nyata. Publik di seluruh dunia kini menanti, apakah langkah diplomatik bisa meredam eskalasi ataukah konflik akan meningkat menuju dimensi yang lebih besar.