Iran Lebih Banyak Serang Negara Teluk, Israel Jarang!

Militer-Militer Iran, yang justru banyak targetkan serangan ke negara-negara GCC.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Sejak awal perang gabungan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 28 Februari, negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) justru menjadi pihak yang paling terkejut. Alih-alih berada di luar konflik, mereka malah berubah menjadi sasaran balasan keras dari Teheran.

Situasi ini terasa janggal karena negara-negara GCC tidak terlibat dalam serangan awal tersebut, bahkan tidak diajak berkonsultasi. Namun hanya sehari setelah konflik dimulai, tepatnya 1 Maret, keenam negara anggota GCC sudah berada di bawah serangan.

Laporan dari Stimson Center yang berbasis di Washington pada Rabu menggambarkan eskalasi ini dengan tegas: “Konflik AS-Israel-Iran, yang kini memasuki minggu keempat, telah berkembang menjadi perang yang mengerikan dan semakin meningkat, yang tidak diinginkan oleh satu pun anggota GCC.”

BACA JUGA: Proses Pemulihan Andrie Yunus Bisa Dua Tahun

Pola Serangan Iran Bukan Targetkan Instalasi Militer

Lebih mengkhawatirkan, pola serangan Iran menunjukkan bahwa target utamanya bukan semata instalasi militer. Infrastruktur sipil justru menjadi sasaran yang paling terdampak. Pada hari pertama saja, rudal atau puing hasil intersepsi menghantam berbagai ikon di Uni Emirat Arab, seperti Bandara Dubai, hotel Burj Al-Arab, Pelabuhan Jebel Ali, hingga Palm Jumeirah.

Pada hari itu, Iran meluncurkan 137 rudal dan 209 drone ke wilayah UEA, dalam upaya yang dinilai jelas untuk merusak reputasi negara tersebut sebagai pusat wisata dan investasi global.

Negara GCC lain seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar juga tidak luput dari serangan sejak awal konflik. Meski Iran mengklaim hanya menargetkan fasilitas militer terkait AS, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Dalam beberapa hari berikutnya, sasaran meluas ke kilang minyak Ras Tanura, fasilitas Aramco, hingga ladang minyak Shaybah di Arab Saudi.

Kemenhan Arab Saudi Sebut Drone Berhasil Dicegat

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut sebagian besar drone berhasil dicegat sebelum mencapai target, termasuk yang mengarah ke Riyadh. Namun ketegangan tetap terasa di masyarakat.

“Saya baru saja berjalan keluar bersama anak saya ketika tiba-tiba kami mendengar ledakan,” kata seorang warga Yordania di Riyadh kepada AFP pada 28 Februari. “Orang-orang di sekitar kami melihat ke langit, mencoba memahami apa yang terjadi. Ini bukan sesuatu yang Anda harapkan terjadi di Riyadh.”

Dampak konflik ini bahkan menjangkau Oman, yang sebelumnya berperan sebagai mediator dalam pembicaraan Iran-AS. Sejak 3 Maret, negara itu juga mengalami serangan terhadap infrastruktur minyak dan fasilitas sipil lainnya.

Drone Rudal Iran Catat Serangan 4.391

Data terbaru menunjukkan ketimpangan dampak yang mencolok. Sejak 28 Februari, negara-negara GCC telah menerima 4.391 serangan drone dan rudal Iran, setara dengan sekitar 83 persen dari total serangan yang diluncurkan.

Sebaliknya, Israel hanya menjadi target 930 serangan atau sekitar 17 persen, meskipun menjadi pihak yang memulai konflik dan secara aktif membombardir Iran selama sebulan terakhir.

Angka ini memunculkan pertanyaan serius tentang motif Iran, yang selama puluhan tahun menyebut Israel sebagai musuh utama. UEA menjadi negara yang paling terdampak dengan 2.156 serangan dan 11 korban jiwa.

Strategi Iran Tekan Geopolitik

Pengamat menilai strategi Iran bukan semata balasan militer, melainkan tekanan geopolitik. Direktur Council for Arab-British Understanding, Chris Doyle, mengatakan kepada Arab News: “sangat jelas bahwa Iran telah menargetkan bagian penting dari infrastruktur sipil. Jadi klaim seperti itu tidak dapat dipercaya.”

Ia menambahkan bahwa tujuan Iran adalah bertahan dalam konflik yang dianggap sebagai ancaman eksistensial. Dengan keterbatasan kekuatan konvensional dibanding AS dan Israel, Iran memperluas medan konflik ke berbagai negara.

“Tujuan penargetan ini adalah agar AS mencari jalan keluar lebih cepat dan memaksa mereka kembali ke meja perundingan,” tambahnya.

Sementara itu, New Lines Institute melalui direkturnya, Caroline Rose, menilai strategi Teheran bertujuan “menunjukkan kemampuannya untuk dengan cepat mengguncang keamanan di seluruh kawasan.”

Namun strategi ini berpotensi menjadi bumerang. Alih-alih menekan AS, beberapa negara GCC justru mulai membuka kembali ruang bagi kehadiran militer AS, bahkan mempertimbangkan keterlibatan lebih jauh dalam konflik.

BACA JUGA: KY Buka Pendaftaran Hakim Agung 2026, Ini Syaratnya

Dewan HAM PBB Setujui Resolusi GCC-Yordania

Pada Rabu, Dewan HAM PBB menyetujui resolusi yang diajukan negara GCC dan Yordania yang mengutuk tindakan Iran sebagai “keji” serta menuntut ganti rugi.

Dalam pernyataan bersama, negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania mengecam keras “serangan terang-terangan Iran, yang merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan, integritas wilayah, hukum internasional, hukum humaniter internasional, dan Piagam PBB.”

Mereka juga menegaskan: “Kami menegaskan kembali hak penuh untuk membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB, yang menjamin hak negara untuk mempertahankan diri secara individu maupun kolektif dalam menghadapi agresi, serta hak untuk mengambil semua langkah yang diperlukan guna melindungi kedaulatan, keamanan, dan stabilitas kami.”

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like