NarayaPost – Iran menegaskan tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, AS memang menyampaikan pesan kepada Teheran melalui berbagai perantara, tetapi it bukan berarti sedang berlangsung negosiasi di antara keduanya.
Pada Selasa (24/3/2026) lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, menjadi bagian dalam tim negosiasi AS dengan Iran.
Proses negosiasi dilanjutkan pada Minggu, dan Trump mengeklaim itu menunjukkan niat serius Teheran untuk menemukan cara dalam menyelesaikan konflik.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah telah mengadakan pembicaraan dengan AS.
Araghchi juga mengatakan, pemerintah enggan bernegosiasi dengan AS, dan ingin melanjutkan perlawanan.
BACA JUGA: Amerika dan Iran Bakal Berunding di Pakistan Akhir Pekan Ini
“Saat ini, kebijakan kami adalah melanjutkan perlawanan,” tegas Araghchi.
Iran, lanjutnya, bersedia negosiasi jika AS mau menghentikan seluruh perang secara permanen, dan mengganti rugi kerusakan yang disebabkan Negeri Paman Sam.
Negeri Para Mullah itu pun menolak usulan AS untuk gencatan senjata.
Pejabat Republik Islam yang enggan disebutkan namanya mengatakan, usulan AS yang berisi 15 poin tak masuk akal dan maksimalis.
“Itu bahkan tak indah di atas kertas,” kata pejabat itu, dikutip Al Jazeera, Rabu (25/3/2026).
Poin usulan AS di antaranya meminta negara kaya minyak itu menghentikan pengayaan uranium, meminta seluruh material uranium, dan membuka akses tanpa hambatan ke Selat Hormuz.
BACA JUGA: Donald Trump Ingin Kelola Selat Hormuz Bareng Ayatollah Iran
Pejabat senior di bidang keamanan juga mengatakan, penyelesaian perang akan bergantung sepenuhnya pada syarat dan jangka waktu yang ditetapkan Teheran, bukan Washington.
Dia menegaskan, negaranya tak akan membiarkan Trump mendikte jalannya peristiwa dan menentukan nasib negara itu.
Operasi pertahanan, kata dia, akan terus berlanjut hingga tuntutan terpenuhi.
“Iran akan mengakhiri perang ketika mereka memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syarat terpenuhi,” kata pejabat itu kepada media pemerintah, yang dikutip TRT World.
Berikut ini syarat lebih rinci yang diajukan Iran untuk gencatan senjata:
1. Penghentian pertempuran secara permanen dan penghentian pembunuhan terhadap pejabat;
2. Jaminan tak ada perang lain;
3. Penghentian permusuhan secara menyeluruh di semua lini yang melibatkan kelompok-kelompok sekutu di kawasan Timur Tengah;
4. Ganti rugi dan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan dalam perang saat ini; dan
5. Pengakuan kedaulatan dan kendali Iran atas Selat Hormuz.
Takut Dibunuh
Presiden AS Donald Trump mengeklaim delegasi Teheran diam-diam ikut bernegosiasi tetapi enggan mengakuinya, karena takut dibunuh.
Trump mengeklaim delegasi Negeri Bangsa Arya itu sebenarnya sangat ingin mencapai kesepakatan dan sedang bernegosiasi dengan AS.
“Tapi mereka takut mengatakan, karena mereka menduga akan dibunuh orang-orang mereka sendiri.”
“Mereka juga takut akan dibunuh oleh kami (pihak AS),” kata Trump dalam jamuan makan malam bersama anggota Partai Republik, Rabu (25/3/2026), dikutip AFP.
Komentar Trump muncul usai Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan ogah negosiasi saat pertempuran membara.
Iran memandang negosiasi dengan AS saat ini sama dengan mengakui kekalahan.
Pernyataan itu juga muncul saat sejumlah negara menawarkan diri menjadi mediator seperti Pakistan, Turki, hingga Mesir.
Pakistan dilaporkan sudah menyampaikan proposal ke Iran, dan Turki sudah berkomunikasi dengan kedua pihak.
Namun, tak ada rincian lebih lanjut apakah proposal yang disampaikan ke Iran sama dengan usulan AS soal 15 poin atau berbeda.
Sementara, media pemerintah Iran mengutip pejabat, menjelaskan Teheran sudah meninjau proposal 15 poin usulan AS dan menanggapi secara negatif. (*)