NarayaPost – Iran memprediksi perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel bakal berakhir sebelum 21 Maret 2026.
Yahya Rahim Safavi, penasihat senior militer untuk mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memprediksi, perang akan berakhir sebelum perayaan Tahun Baru Nowruz.
“Anggapan saya perang ini akan berakhir sebelum Nowruz (Tahun Baru Iran yang dirayakan pada 21 Maret),” kata Safavi, Kamis (12/3/2026), seperti dikutip Kantor Berita ISNA.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan ada lagi yang tersisa untuk diserang di Iran.
Trump juga mengatakan AS tidak bermaksud untuk segera menghentikan operasi militer terhadap Iran.
Namun, kepada RIA Novosti, seorang sumber politik Iran mengaku tak bisa memastikan kapan konflik di Timur Tengah akan berakhir.
BACA JUGA: Iran Bersedia Kembali ke Meja Perundingan dengan Tiga Syarat
“Tidak mungkin menyebut hari atau jam pasti gencatan senjata.”
“Hal ini akan jelas ketika pihak lawan menyadari biaya yang ditimbulkan sangat besar,” ujar sumber itu.
Ia menekankan pentingnya bagaimana perang akan berakhir.
“Jalannya permusuhan dan cara berakhirnya akan menjadi faktor penentu bagi masa depan,” tambahnya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, satu-satunya cara mengakhiri konflik di Timur Tengah adalah pengakuan hak sah Tehran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional agar agresi tidak terulang.
Kendalikan Selat Hormuz
Angkatan Bersenjata Iran kembali menegaskan mereka mengendalikan Selat Hormuz yang strategis, dan tidak akan mengizinkan AS maupun negara-negara yang terlibat dalam serangan baru-baru ini terhadap Iran, melintasi jalur perairan vital tersebut.
“Tanpa keraguan atau kelalaian apa pun, Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan bijaksana pasukan angkatan laut pemberani Garda Revolusi.”
“Agresor Amerika dan sekutu mereka tidak berhak untuk melintas di sini,” kata Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Central Headquarters, unit yang bertanggung jawab mengawasi operasi militer, Kamis.
Iran sebelumnya juga mengumumkan telah menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang berasal dari negara yang terkait dengan serangan AS dan Israel ke Teheran.
Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute maritim paling penting di dunia bagi pengiriman energi global.
Terpisah, UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kontainer terkena objek tak dikenal,’ sekitar 65 kilometer di utara Jebel Ali Port di Uni Emirat Arab, yang membuat kebakaran kecil di atas kapal.
BACA JUGA: Iran Siapkan Banyak ‘Kejutan’ untuk Amerika dan Israel
Dalam pernyataannya, organisasi pemantauan keamanan maritim tersebut mengatakan kapten kapal melaporkan kapal kontainer tersebut terkena objek yang belum teridentifikasi, dan memicu kebakaran kecil di atas kapal.
Tingkat kerusakan secara keseluruhan belum dapat dipastikan karena kondisi gelap.
Organisasi itu menambahkan, seluruh awak kapal dilaporkan selamat, dan sejauh ini tidak ada dampak lingkungan yang terdeteksi.
Menurut pernyataan tersebut, pihak berwenang telah meluncurkan penyelidikan terkait insiden itu, serta mengimbau kapal-kapal di wilayah tersebut untuk berlayar dengan hati-hati dan melaporkan aktivitas mencurigakan kepada UKMTO.
Perkembangan itu terjadi ketika Iran terus melancarkan serangan balasan di tengah serangan bersama yang dilakukan AS dan Israel.
Belum Siap
Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, militer AS belum siap mengawal kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
“Kami belum siap.”
“Semua aset militer kami saat ini difokuskan untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran dan industri manufaktur yang menyediakan kemampuan ofensif mereka,” ungkap Wright kepada CNBC.
Operasi AS terhadap Iran, lanjut Wright, akan menjadi operasi yang berlangsung dalam beberapa pekan, bukan beberapa bulan.
Ketika ditanya apakah Angkatan Laut Amerika akan mengawal beberapa kapal melalui selat tersebut pada akhir Maret, Wright mengatakan kemungkinan besar akan demikian.
“Itulah yang sedang dikerjakan militer,” cetusnya.
Terluka
Pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei mengalami luka tetapi dalam kondisi yang baik, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.
“Dia (Mojtaba) terluka, tetapi kondisinya baik.”
“Saya tidak tahu kapan dia akan menyampaikan pidato pertamanya (sebagai pemimpin tertinggi Iran),” kata Baghaei kepada surat kabar Corriere della Sera, Kamis
Terkait syarat gencatan senjata, Baghaei mengatakan pihaknya saat ini fokus pada upaya perlindungan integritas teritorial dan kedaulatan Negeri Para Mullah itu.
“Pada Juni 2025, setelah 12 hari, AS dan Israel mengatakan, ‘Mari kita berhenti’; dan kami berhenti.”
“(Ajakan) Gencatan senjata itu adalah sandiwara lucu.”
“Itulah mengapa seluruh negeri sekarang bertekad untuk membela diri,” ucap Baghaei. (*)