NarayaPost – Iran menyatakan siap menjalani perang panjang, yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Komandan Keamanan Iran Ali Larijani mengatakan, militer mereka sudah terlatih menjalani perang panjang.
Pemerintahnya juga tidak peduli dengan uang yang harus dikeluarkan untuk perang melawan Israel dan AS.
“Iran, tidak seperti Amerika Serikat, sudah siap menjalani perang yang panjang.”
“Iran akan membela diri tanpa mempedulikan biaya apa pun,” tulis Larijani di X, Senin (2/4/2026).
Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS, bersama pasukan Israel, membombardir negeri Bangsa Arya tersebut.
BACA JUGA: Iran Bilang Trump Ubah Slogan America First Jadi Israel First
Tujuannya, kata Presiden AS Donald Trump, untuk menghancurkan kemampuan militer negara itu.
Sebagai balasan, negara yang dahulu bernama Persia itu menembakkan rudal ke target di Israel dan ke fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Trump sebelumnya mengatakan, serangan Israel-AS sejak Sabtu (28/2/2026), telah menewaskan sekitar 48 pimpinan negara Islam Syiah itu, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Trump mengeklaim perang melawan Republik Islam itu tidak akan berlangsung lama.
Trump memprediksi Israel dan AS bisa menaklukkan Iran hanya dalam 4-5 minggu.
“Prosesnya selalu empat minggu.”
“Sekuat apa pun negara itu, ini (AS) negara besar, akan memakan waktu empat minggu atau kurang.”
“Ya, kami berencana (perang) empat hingga lima minggu.”
“Tidak akan sulit.”
“Kami memiliki amunisi dalam jumlah besar.”
“Anda tahu, kami memiliki amunisi yang disimpan di seluruh dunia di berbagai negara,” tutur Trump kepada Daily Mail.
Murni Bela Diri
Jerman, Prancis, dan Inggris menyatakan siap melawan Iran, dan mendukung perlawanan negara-negara Teluk.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan, langkah tiga negara Eropa itu tidak memiliki arti, lantaran Republik Islam tersebut tidak pernah mengusik kepentingan mereka.
“Langkah tersebut tidak memiliki arti, dikarenakan kami bukan pihak yang menyerang kepentingan mereka.”
“Kami berada dalam posisi membela negara, dan masyarakat kami lah yang sedang terbunuh saat ini.”
“Dan tentu saja kami tidak pernah menyerang negara manapun,” kata Boroujerdi dalam jumpa pers di kediamannya di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Boroujerdi menegaskan, aksi negaranya saat ini murni bentuk bela diri atas serangan AS dan Israel.
“Kami hanya memberikan reaksi terhadap serangan yang terjadi kepada negara kami,” tegasnya.
Prancis, Jerman, dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu.
Mereka menyatakan siap membela kepentingan mereka, serta mendukung kepentingan sekutu di negara Teluk.
Ketiga negara itu menegaskan akan mengambil tindakan defensif guna menghancurkan kemampuan militer Negeri Persia itu.
“Serangan sembrono Iran telah menyasar sekutu dekat kami, dan mengancam personel militer serta warga sipil kami di seluruh kawasan.”
“Kami akan mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingan kami dan sekutu kami di kawasan ini.”
BACA JUGA: Durasi Perang AS-Israel Versus Iran Bisa Empat Minggu
“Melalui pengaktifan tindakan defensif yang diperlukan dan proporsional, untuk menghancurkan kemampuan Iran dalam menembakkan rudal dan drone,” begitu pernyataan bersama Prancis, Jerman, dan Inggris, seperti dikutip AFP.
Iran meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah, usai digempur AS dan Israel sejak Sabtu.
Teheran menargetkan fasilitas militer AS di Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, hingga Arab Saudi.
Negara-negara Teluk tersebut mengecam serangan Teheran yang memasuki wilayah mereka.
Arab Saudi Cs lantas membuat pernyataan bersama pada Minggu yang mengindikasikan siap melawan Iran.
“(Kami) akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk membela keamanan dan stabilitas serta untuk melindungi teritori, warga negara, dan penduduk, termasuk opsi untuk menanggapi agresi ini,” isi pernyataan bersama tersebut.
Iran sejak awal menegaskan akan menyerang pangkalan AS di wilayah Timur Tengah apabila diserang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menekankan, serangan itu ditujukan untuk membalas AS, bukan menyerang negara-negara tetangga.
“(Iran) tidak memiliki masalah dengan negara-negara tetangga di Teluk Persia.”
“Iran mempertahankan hubungan bertetangga yang baik dengan mereka semua,” cetus Araghchi. (*)