NarayaPost – Iran siap menyambut pasukan darat Amerika Serikat (AS), jika menginvasi Negeri Para Mullah tersebut.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani mengatakan, Pasukan Garda Revolusi Islam siap menangkap dan membunuh pasukan AS jika memasuki negara itu.
“Beberapa pejabat Amerika menyatakan mereka bermaksud memasuki wilayah Iran melalui jalur darat dengan beberapa ribu pasukan,” kata Ali, dikutip Al Jazeera, Kamis (5/3/2026).
Ali mengingatkan konsekuensi AS jika tetap memaksa masuk negara Republik Islam itu.
Larijani menegaskan negaranya siap dengan skenario apa pun.
Ia mengatakan, putra-putri bangsa yang pernah dipimpin Ruhollah Khomenei dan Ali Khamenei ini bakal terus melanjutkan perjuangan melawan koalisi Amis alias Amerika-Israel.
BACA JUGA: Harga Mahal Nuklir Iran
“Anak-anak Imam Khomeini dan Imam Khamenei yang gagah berani sedang menunggu kalian.”
“Siap mempermalukan para pejabat Amerika yang korup itu, dengan membunuh dan menangkap ribuan orang,” tegas Larijani.
Senada, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pihaknya tak takut menghadapi invasi AS.
“Tidak, kami sedang menunggu mereka,” ucap Araghchi kepada NBC News.
Araghchi mengatakan, serangan darat akan menjadi bencana besar bagi pasukan AS.
Komentar para pejabat itu muncul usai Trump membuka kemungkinan pasukan darat masuk Iran.
“Saya tak merasa gugup soal pengerahan pasukan darat, seperti yang selalu dikatakan setiap presiden, tidak akan ada pasukan darat.”
“Saya tidak mengatakannya.”
“Saya mengatakan mungkin tidak membutuhkannya, (atau) jika memang diperlukan,” tutur Trump kepada New York Times awal pekan ini.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga mengulangi kemungkinan pengerahan pasukan ke negeri Bangsa Arya itu.
Ia mengonfirmasi saat ini tidak ada pasukan AS di Iran, tetapi tetap membuka opsi tersebut.
“Anda tidak perlu mengirimkan 200.000 orang ke sana dan tinggal selama 20 tahun,” cetus Hegseth, dikutip Al Jazeera.
Ingin Pilih Penerus Khamenei
Presiden AS Donald Trump ingin terlibat dalam menentukan penerus pemimpin tertinggi Iran, usai Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan brutal AS-Israel pekan lalu.
Trump merasa punya hak menentukan masa depan Iran.
“Kami ingin terlibat dalam proses pemilihan orang yang akan memimpin Iran di masa depan,” katanya dalam wawancara telepon dengan Reuters, Kamis (5/3/2026).
Trump juga menolak kandidat pengganti Khamenei yang juga anaknya, Mojtaba Khamenei.
Trump menilai Mojtaba sosok yang tak berbobot.
Trump sebelumnya mengatakan telah memilih tiga orang yang sangat bagus sebagai pengganti Khamenei, namun dia enggan merincinya.
BACA JUGA: Spanyol Tolak Bantu AS, Presiden Iran: Nurani Masih Ada di Barat
“Saya tidak akan menyebutkan namanya.”
“Mari kita selesaikan (perang) ini dulu,” cetus Trump kepada New York Times, Senin.
Iran sedang dalam transisi. Selama kursi pemimpin tertinggi kosong, tugas-tugas jabatan ini dipegang dewan sementara.
Dewan tersebut mencakup Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam Hossein Mohseni Ejei, dan ulama dari Dewan Penjaga Konstitusi Ayatollah Alireza Arafi.
Iran punya mekanisme sendiri dalam memilih pemimpin tertinggi.
Pemilihan akan dilakukan badan ulama beranggotakan 88 orang yang disebut Majelis Ahli (Assembly of Expert). Badan ini dipilih publik setiap delapan tahun sekali.
Mereka yang ingin jadi anggota Majelis Ahli harus diperiksa dan disetujui Dewan Penjaga (Guardian Council).
Ini adalah badan pengawas yang anggotanya sebagian ditunjuk pemimpin tertinggi.
Bantah Dipaksa Israel
Donald Trump membantah AS dipaksa oleh Israel untuk menyerang Iran.
Trump juga membantah tindakan AS terdorong rencana Israel yang ingin melenyapkan Iran.
“Tidak. Mungkin saya yang memaksa mereka.”
“Kami sedang bernegosiasi dengan orang-orang gila ini, dan menurut saya mereka akan menyerang duluan.”
“Mereka akan menyerang.”
“Jika kami tidak melakukannya, mereka akan menyerang duluan.”
“Saya sangat yakin akan hal itu,” bantah Trump, Rabu (4/3/2026). (*)