Iran Siapkan Banyak ‘Kejutan’ untuk Amerika dan Israel

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Iran punya banyak ‘kejutan’ untuk Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengejek operasi militer Presiden AS Donald Trump dengan sandi Epic Fury (amukan besar), sebagai Epic Mistake (kesalahan besar).

Dalam unggahan di X, Araghchi mengatakan klaim AS Iran berencana menyerang Washington merupakan kebohongan belaka.

Kebohongan itu, kata dia, sengaja dipakai Trump untuk meluncurkan serangan terhadap Negeri Para Mullah itu, dengan menggunakan uang pajak warga AS.

“Klaim Iran berencana menyerang AS atau pasukan AS, baik secara preventif maupun preemptif, adalah kebohongan belaka.”

“Satu-satunya tujuan kebohongan itu adalah untuk membenarkan Operasi Epic Mistake, sebuah kesialan yang diatur Israel dan dibiayai warga biasa Amerika,” tulis Araghchi, Rabu (11/3/2026).

BACA JUGA: Putin Tawarkan Solusi Hentikan Perang di Iran, Trump Menolak

Dalam unggahan lainnya, Araghchi mengatakan Trump telah berkhianat kepada Republik Islam dan warga AS, karena meletuskan perang ini.

Ia berujar, warga AS sudah menolak perang, tapi Trump malah meluncurkan serangan sewenang-wenang.

Serangan itu bahkan dilakukan saat AS dan Iran sedang dalam negosiasi nuklir yang sudah menunjukkan progresif positif.

“Trump telah mengkhianati diplomasi dan rakyat Amerika yang memilihnya,” tulis Araghchi.

Araghchi berpendapat serangan berlarut-larut AS saat ini tampaknya dilakukan karena Trump menginginkan minyak negeri Bangsa Arya itu.

“Sembilan hari setelah Operasi Epic Mistake dimulai, harga minyak telah berlipat ganda dan semua komoditas meroket.”

“Kami tahu AS sedang merencanakan sesuatu terhadap situs minyak dan nuklir kami, dengan harapan dapat menahan guncangan inflasi yang besar,” tulisnya.

Aragchi menegaskan, negaranya sepenuhnya siap (melawan).

“Kami juga punya banyak kejutan yang menanti,” imbuhnya.

Pakai Hulu Ledak Minimal Satu Ton

Iran bersumpah akan semakin gencar membombardir dan ‘meratakan’ kota-kota di Israel termasuk Tel Aviv.

Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Majid menegaskan kepada Mousavi, negerinya tidak akan lagi menggunakan rudal dengan hulu peledak kurang dari satu ton.

Iran akan memakai semua stok rudalnya yang memiliki hulu ledak minimal satu ton, untuk melancarkan gempuran masif ke Israel.

Majid mengatakan, rudal-rudal tersebut akan diarahkan ke Israel dan fasilitas militer AS yang tersebar di Timur Tengah.

IRGC juga mengatakan sempat meluncurkan sejumlah rudal balistik ‘kelas berat’ berjenis hipersonik dengan daya ledak tinggi, ke target-target di Israel.

Rudal-rudal tersebur antara lain Ghadr, Emad, dan Fattah, bahkan termasuk rudal Kheibar dalam serangan ke-34 Operation True Promise 4.

Rudal-rudal tersebut lolos dari cegatan rudal sistem pertahanan udara Iron Dome hingga THAAD milik AS, hingga menghunjam Israel.

Kini semua rudal kelas berat itu yang akan diluncurkan Iran untuk ‘meratakan’ wilayah Israel, terutama fasilitas militer mereka.

Serangan gencar ke Israel merupakan bagian dari janji IRGC yang akan terus menggempur Israel dan tidak membuka lagi ruang negosiasi, sekaligus menjawab klaim Trump, perang memasuki masa-masa akhir.

Trump juga sebelumnya mengatakan berakhirnya peperangan tergantung keputusannya dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

IRGC langsung menjawab klaim tersebut, perang baru akan berhenti jika mereka menghendaki perang selesai.

“Kamilah yang akan menentukan akhir perang.”

“Situasi dan status masa depan kawasan ini sekarang berada di tangan angkatan bersenjata kami.”

“Pasukan Amerika tidak akan mengakhiri perang,” tegas IRGC pada Selasa (10/3/2026).

Perang Atrisi

Para pengamat militer menyebut Iran sedang menggunakan strategi perang atrisi, yaitu strategi untuk menguras ekonomi AS dan Israel.

Fokus perang ini adalah perang berlarut-larut yang dirancang untuk menimbulkan biaya ekonomi dan psikologis yang tinggi, tanpa harus terlibat dalam perang konvensional terbuka secara langsung.

Strategi ini menggunakan poros perlawanan (proksi) dan taktik asimetris.

Pakar keamanan Timur Tengah dari lembaga kajian Royal United Services Institute (RUSI) Inggris HA Hellyer mengatakan, pendekatan militer Teheran saat ini bukan untuk mengalahkan AS atau Israel dalam perang konvensional, melainkan untuk membuat konflik menjadi berlarut-larut, tersebar secara regional, dan mahal secara ekonomi.

Hal senada disampaikan Nicole Grajewski, asisten profesor di Centre for International Studies (CERI) Sciences Po, Prancis.

Menurutnya, strategi Teheran dengan perang atrisi, yaitu pendekatan militer yang bertujuan melemahkan lawan dengan menguras sumber daya dan menimbulkan kerugian berkelanjutan, sampai kemampuan bertempur lawan melemah.

Hal itu didukung fakta harga yang ditanggung AS dan Israel dalam serangan ke negara yang dahulu bernaa Persia itu, memakan dana yang fantastis.

Beberapa hari setelah AS melancarkan operasi militer besar, biaya perang yang harus ditanggung pembayar pajak AS mulai menjadi sorotan, dengan nilai diperkirakan mencapai sekitar Rp15 triliun per hari.

Dari sisi biaya rudal, Iran lebih hemat dibandingkan AS dan Israel.

Negara itu selama ini mengandalkan drone Shahed 136 yang cukup murah.

Satu unit Shahed 136 hanya berharga sekitar US$20.000 dolar atau berkisar Rp338 juta.

Laman Scientific American menjelaskan, harga Shahed 136 diperkirakan berada pada kisaran US$20.000-US$50.000, atau setara Rp338 juta hingga Rp845 juta.

BACA JUGA: Amerika Bilang Serangan Terhadap Iran Baru Permulaan

Biaya yang mahal justru ada pada rudal pencegatnya.

Analis JINSA (Jewish Institute for National Security of America) menunjukkan, serangan rudal Iran seringkali masif.

Teheran mengandalkan taktik salvo attacks (serangan serentak masif) untuk menjenuhkan sistem pertahanan udara seperti Iron Dome dan Arrow di Israel.

“Pada awal 2026, Iran dilaporkan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone sebagai respons terhadap serangan AS-Israel.

Serangan besar-besaran Iran menguras sumber daya Israel dan AS.

Sistem rudal pertahanan udara Arrow-3 berharga US$3 juta per unit atau mencapai angka Rp50 miliar.

Peneliti dari Gulf International Forum (gulfif.org) mengatakan, karena kekurangan kekuatan militer konvensional untuk menghadapi Washington dan Tel Aviv secara langsung, Teheran menggunakan strategi perang asimetris yang dirancang untuk melambungkan biaya musuh.

Strategi ini terlihat jelas di dua bidang utama.

Pertama, Iran meningkatkan serangannya terhadap infrastruktur ekonomi penting di Teluk, menargetkan fasilitas minyak dan gas di Arab Saudi dan Qatar.

Kedua, Iran berupaya mengganggu Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dunia.

Dengan menyerang infrastruktur energi, kapal tanker minyak, dan menyatakan selat tersebut sebagai zona perang, Teheran bertujuan memberikan tekanan ekonomi pada negara-negara Teluk dan komunitas internasional yang lebih luas, dengan harapan mendorong Washington untuk melakukan de-eskalasi. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like