NarayaPost – Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengungkapkan tanda-tanda Israel sedang mencari kesempatan menyerang Iran.
Fidan memperingatkan langkah tersebut dapat semakin menggoyahkan stabilitas kawasan.
“Saya harap mereka menemukan jalan berbeda.”
“Tetapi kenyataannya, Israel khususnya, sedang mencari kesempatan untuk menyerang Iran,” ungkap Fidan kepada stasiun televisi Turki NTV, Sabtu (24/1/2026).
Fidan mengaku telah menyampaikan kekhawatiran tersebut secara langsung kepada para pejabat Iran, selama kunjungannya baru-baru ini ke negara tersebut.
“Ketika saya pergi ke Teheran beberapa hari lalu, saya memberi tahu mereka semua tentang proses tersebut sebagai teman mereka.”
BACA JUGA: Donald Trump: Iran Tidak Boleh Punya Nuklir!
“Anda tahu, seorang teman mengatakan kebenaran yang pahit,” imbuh Fidan.
Turkiye Today melaporkan, peringatan Fidan muncul setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam sebuah panggilan telepon pada Kamis, Turki menentang intervensi asing apa pun di Iran, dan menghargai perdamaian dan stabilitas negara tetangganya.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada kantor berita Reuters pada Jumat, Teheran akan memperlakukan setiap serangan oleh musuh-musuhnya sebagai perang habis-habisan.
Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump mengaku telah mengirimkan armada kapal angkatan laut menuju wilayah Teluk dengan Iran sebagai targetnya.
“Jika Amerika melanggar kedaulatan dan integritas teritorial Iran, kami akan merespons.”
“Peningkatan kekuatan militer ini, kami harap tidak dimaksudkan untuk konfrontasi nyata, tetapi militer kami siap untuk skenario terburuk.”
“Inilah sebabnya mengapa semuanya dalam keadaan siaga tinggi di Iran.”
“Kali ini kami akan memperlakukan setiap serangan, terbatas, tidak terbatas, terarah, kinetik, apa pun sebutannya, sebagai perang habis-habisan melawan kami, dan kami akan merespons dengan cara sekeras mungkin untuk menyelesaikan ini.”
“Sebuah negara yang terus-menerus berada di bawah ancaman militer dari AS, tidak punya pilihan selain memastikan semua yang dimilikinya dapat digunakan untuk melawan.”
“Dan jika memungkinkan, memulihkan keseimbangan terhadap siapa pun yang berani menyerang Iran,” tutur pejabat senior Iran kepada Reuters.
Media AS melaporkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan kelompok kapal serangnya telah dialihkan dari Laut Cina Selatan ke Timur Tengah, dan diperkirakan akan tiba di wilayah Teluk dalam beberapa hari mendatang.
Militer AS terakhir kali melakukan pengerahan besar-besaran kekuatan angkatan laut pada Juni 2025, untuk mendukung perang 12 hari Israel melawan Iran dan sebagai persiapan serangan AS terhadap program nuklir Iran.
Puncak Kesiapan
Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, komandan Divisi Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bersumpah negaranya pasti akan memberikan tanggapan tegas terhadap ancaman dan retorika Presiden AS Donald Trump.
“Trump banyak bicara, tetapi dia harus yakin dia akan menerima jawabannya di lapangan,” ucapnya, di sela pertemuan para petinggi IRGC, bertepatan dengan Hari Garda Nasional, Jumat.
Mousavi menegaskan, Divisi Dirgantara telah mencapai tingkat kesiapan pertahanan tertinggi, siap untuk menghancurkan setiap agresi terhadap Iran.
Ia menyatakan, produksi perangkat keras dirgantara di berbagai sektor telah meningkat secara signifikan sejak perang 12 hari yang terjadi di negara itu pada Juni lalu.
Kerentanan yang diidentifikasi selama perang telah sepenuhnya ditangani dan diperbaiki.
“Divisi Dirgantara IRGC saat ini berada di puncak kesiapannya,” tegas Mousavi.
BACA JUGA: Menlu Iran: Fasilitas Bisa Dihancurkan, tapi Tekad Tak Bisa Dibom
Presiden AS Donald Trump mengatakan pihaknya sedang memantau situasi di Iran dengan saksama.
Media-media AS melaporkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln diperintahkan bergerak dari Laut Cina Selatan ke Timur Tengah.
“Kami mengawasi Iran.”
“Anda tahu kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga.”
“\Kami memiliki kekuatan besar yang menuju Iran.”
“Saya lebih suka tidak melihat apa pun terjadi, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat,” beber Trump kepada wartawan di Air Force One, saat pulang dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Jumat (23/1/2026). (*)