Israel Lanjutkan Perang Lawan Iran Hingga Tiga Minggu Lagi

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Israel bakal melanjutkan perang melawan Iran hingga bulan depan.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Brigjen Effie Defrin mengatakan, pihaknya akan bertempur setidaknya selama tiga minggu ke depan, untuk menghancurkan ribuan target di Iran.

“Kami punya ribuan target di depan.”

“Kami siap dengan rencana setidaknya hingga hari raya Paskah Yahudi, sekitar tiga minggu dari sekarang, (untuk terus bertempur dengan Iran) dengan berkoordinasi dengan Amerika Serikat (AS),” kata Defrin, Sabtu (14/3/2026).

Israel, lanjutnya, bahkan sudah menyiapkan rencana terhadap Iran untuk tiga pekan pasca-perang dihentikan.

Ia mengatakan, saat ini tujuan utama Negeri Zionis adalah melemahkan rezim Iran secara signifikan, terutama mengenai kemampuan Teheran meluncurkan dan memproduksi rudal.

BACA JUGA: Perang Koalisi Amis Vs Iran Berlanjut Beberapa Pekan Lagi

The Times of Israel melaporkan, sejumlah pejabat Israel menerangkan perang AS-Israel versus Iran saat ini berbeda dari perang Israel vs Iran pada Juni 2025.

Tahun lalu, Israel hanya berupaya memusnahkan senjata nuklir Iran yang menjadi ancaman nyata saat itu.

Tahun ini, Israel ingin menghilangkan sepenuhnya ancaman strategis terhadap bangsa Yahudi.

IDF kini mengincar seluruh industri pertahanan Iran, termasuk kemampuan rudal balistik, di samping program nuklir Teheran.

Industri pertahanan Iran diketahui memproduksi berbagai sistem senjata dan komponen, antara lain rudal balistik, sistem pertahanan udara, senjata-senjata angkatan laut, kemampuan siber, hingga satelit mata-mata.

Menurut IDF, perang ini telah merusak lebih dari 1.700 aset industri militer Iran.

IDF juga memperkirakan sekitar 4.000 hingga 5.000 tentara Iran tewas dalam serangan ini.

Takkan Pakai Senjata Nuklir

Presiden AS Donald Trump mengatakan, Israel tidak akan pernah menggunakan senjata nuklir terhadap Iran.

“Israel tidak akan melakukan itu.”

“Israel tidak akan pernah melakukannya,” kata Trump, Senin (16/3/2026).

David Sacks, ‘pemimpin AI’ Gedung Putih yang ditunjuk oleh Trump, dikabarkan mengatakan dalam siniar (podcast) All-In pekan lalu, dirinya khawatir soal kemungkinan Israel mengeskalasi perang AS-Israel versus Iran, menggunakan senjata nuklir.

“Israel bisa mengalami kerusakan serius.”

“Lalu, Anda harus khawatir soal kemungkinan Israel mengeskalasi perang dengan mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir, yang tentunya akan menjadi bencana,” tutur Sacks dalam siniar tersebut.

Mengeluh

Trump mengeluhkan negara-negara yang selama ini dilindungi AS, tapi enggan mengirimkan kapal penyapu ranjau ke Selat Hormuz.

“Banyak negara telah memberi tahu saya mereka sedang menuju lokasi, beberapa sangat antusias, beberapa tidak.”

“Beberapa adalah negara yang telah kami bantu selama bertahun-tahun.”

“Kami ingin tahu, ‘Apakah Anda memiliki kapal penyapu ranjau?’ Mereka menjawab, ‘Kami lebih suka tidak terlibat.'”

“Selama 40 tahun, kami melindungi Anda, dan Anda tidak ingin terlibat dalam hal yang sangat kecil,” ungkap Trump, Senin (16/3/2026).

Pada Sabtu, Trump meminta Cina, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz.

BACA JUGA: Selat Hormuz Terbuka untuk Semua Negara, Kecuali Musuh Iran

Trump mengatakan AS tidak membutuhkan bantuan negara lain dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.

“Saya tak mendesak mereka, karena sikap saya adalah, kami tidak membutuhkan siapa pun.”

“Kami adalah negara terkuat di dunia.”

“Kami memiliki militer terkuat di dunia.”

“Kami tidak butuh mereka,” cetus Trump.

Dalam beberapa kasus, lanjut Trump, ia meminta bantuan bukan karena kebutuhan, melainkan untuk mengetahui bagaimana reaksi negara-negara tersebut.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi tersebut memicu penghentian de facto lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Gangguan itu juga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like