NarayaPost – Israel tangkap aktivis Flotilla pada Kamis (2/10) dengan mencegat sebuah konvoi kemanusiaan yang terdiri dari lebih dari 40 kapal kecil dan sedang yang mengangkut sekitar 450 aktivis internasional dari berbagai negara. Flotilla ini bertujuan untuk menembus blokade laut Israel terhadap Gaza, sebagai bentuk penolakan terhadap pembatasan akses bantuan dan solidaritas terhadap rakyat Palestina. Sebagian besar kapal diboarding oleh militer Israel di perairan internasional, dan puluhan aktivis termasuk dari Malaysia, Turki, dan Eropa dilaporkan ditahan untuk interogasi di pelabuhan Ashdod. Beberapa kapal lainnya yang masih berada di belakang konvoi dilaporkan telah diperingatkan untuk tidak melanjutkan pelayaran atau akan menghadapi tindakan serupa.
Salah satu kapal dalam konvoi Global Sumud Flotilla, bernama Mikeno, dilaporkan sempat berhasil menerobos blokade dan memasuki perairan teritorial Palestina sebelum akhirnya kehilangan kontak pada malam hari, memicu kekhawatiran atas nasib awak dan penumpangnya. Pemerintah Israel merespons kejadian ini dengan menyebut seluruh upaya flotilla sebagai bentuk “provokasi yang disengaja,” dan menegaskan bahwa setiap bantuan kemanusiaan ke Gaza harus disalurkan melalui jalur yang telah disetujui secara resmi dan wajib melewati pemeriksaan keamanan yang ketat. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari sejumlah organisasi kemanusiaan yang menilai Israel berupaya membatasi akses independen ke Gaza serta menolak simbol solidaritas global yang ditunjukkan oleh kehadiran flotilla tersebut.
BACA JUGA: Konsultan Hukum Jadi Predator Seks di Jaksel, Terancam 15 Tahun Penjara
Pihak Hamas mengecam keras tindakan militer Israel dalam mencegat dan menahan kapal-kapal dalam konvoi dan menyebutnya sebagai “serangan pengkhianatan” dan tindakan pembajakan laut yang melanggar hukum internasional, karena menyasar warga sipil yang membawa misi kemanusiaan secara damai ke Gaza. Hamas menegaskan bahwa insiden ini mencerminkan upaya sistematis Israel untuk mengisolasi wilayah Palestina dan menekan solidaritas global terhadap penderitaan rakyat Gaza. Di sisi lain, pemerintah Turki melalui pernyataan resmi Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) mendesak Israel agar segera membebaskan para aktivis yang ditahan, termasuk beberapa warga negara asing, sambil mengingatkan bahwa insiden semacam ini dapat memperburuk hubungan diplomatik serta memperluas kecaman internasional terhadap kebijakan blokade laut Israel yang dinilai semakin represif.
Sejumlah negara termasuk Spanyol, secara terbuka menyuarakan keprihatinan atas tindakan militer Israel terhadap misi Global Sumud Flotilla. Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa konvoi tersebut bersifat murni kemanusiaan, tidak membawa senjata, dan tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan Israel. Oleh karena itu, mereka mendesak agar otoritas Israel menahan diri dan tidak melakukan intervensi militer terhadap kapal-kapal yang membawa bantuan simbolis untuk rakyat Gaza. Pernyataan ini juga sejalan dengan sikap sejumlah anggota parlemen Eropa yang menilai bahwa tindakan keras terhadap misi kemanusiaan dapat menciptakan ketegangan diplomatik lebih luas dan menghambat upaya internasional dalam mendorong bantuan serta akses kemanusiaan ke wilayah yang terdampak blokade.
Israel tanglap aktivis Flotilla memicu kecaman luas dari komunitas internasional. Dilansir daro AP News, gelombang protes dan demonstrasi solidaritas muncul di sejumlah kota besar dunia, termasuk Roma, Istanbul, dan Buenos Aires, di mana para aktivis, warga sipil, dan organisasi kemanusiaan turun ke jalan menuntut pembebasan para aktivis yang ditahan serta penghentian blokade atas Gaza. Banyak di antara mereka membawa bendera Palestina dan poster bertuliskan pesan anti-penjajahan. Sementara itu, otoritas Israel menyatakan bahwa seluruh aktivis yang ditangkap akan diproses secara hukum di pelabuhan Ashdod, sebelum dideportasi ke negara asal masing-masing. Pernyataan ini tidak meredakan kritik global, yang menyebut tindakan Israel sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional terhadap misi sipil non-kekerasan yang membawa bantuan simbolis untuk wilayah yang sedang diblokade.
Pada misi Global Sumud Flotilla, Angkatan Laut Israel mencegat lebih dari 40 kapal yang membawa sekitar 450 aktivis internasional, menurut laporan Reuters dan AP, dalam upaya untuk menembus blokade laut Israel terhadap Gaza. Beberapa kapal di‑boarding oleh pasukan Israel di perairan internasional, dan aktivis‑aktivis di kapal itu kemudian ditahan dan dibawa ke pelabuhan Ashdod untuk proses hukum dan kemungkinan deportasi melalui otoritas imigrasi. Organisasi kemanusiaan mengecam intersepsi ini sebagai tindakan tidak proporsional terhadap misi bantuan perdamaian.
Di antara aktivis yang ditahan dalam misi Global Sumud Flotilla, terdapat 23 warga Malaysia termasuk figur publik seperti penyanyi Heliza Helmi dan penyiar Nur Hazwani, yang dikonfirmasi oleh Sumud Nusantara Command Centre (SNCC) sedang ditahan di pelabuhan Ashdod. Israel dilaporkan menggunakan unit komando laut elit Sayeret Matkal untuk melakukan boarding terhadap kapal‑kapal flotilla tersebut, serta menerapkan tindakan agresif seperti penyemprotan air bertekanan tinggi dan gangguan komunikasi (radio atau GPS) terhadap kapal peserta sebagai bagian dari operasi intersepsi. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyatakan kecaman keras terhadap tindakan Israel itu, menegaskan bahwa misi flotilla bersifat kemanusiaan dan mendesak pembebasan semua aktivis Malaysia yang ditahan dengan menggunakan segala cara diplomatik yang sah.
BACA JUGA: Pakar UGM Nilai KPU Batalkan Pembatasan Akses Dokumen Capres-Cawapres Sudah Tepat
Sementara itu, delegasi pemerintah Turki mengonfirmasi bahwa 48 aktivis berkewarganegaraan Turki turut ditahan dalam operasi intersepsi yang dilakukan Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla. Ankara mengecam keras tindakan tersebut sebagai intervensi yang tidak sah di perairan internasional, dan mendesak Israel agar segera membebaskan para warganya tanpa syarat. Pemerintah Turki juga menyatakan bahwa langkah Israel melanggar norma hukum laut internasional serta membahayakan misi sipil yang bersifat kemanusiaan. Dalam pernyataannya, otoritas Turki menegaskan akan membawa kasus ini ke forum internasional jika tidak ada tanggapan dalam waktu dekat.
Israel tangkap aktivis Flotilla menjadi babak terbaru dalam ketegangan kemanusiaan yang terus membayangi Jalur Gaza dan wilayah sekitarnya. Penahanan ratusan aktivis dari berbagai negara, termasuk penyitaan kapal dan perlakuan keras selama proses intersepsi, telah memicu reaksi keras dari komunitas internasional. Seruan pembebasan tanpa syarat datang dari berbagai negara dan lembaga, sementara kecaman terhadap pendekatan militer Israel terhadap misi sipil semakin meluas. Insiden ini bukan hanya menggugah simpati, tetapi juga mempertegas pentingnya jalur aman dan netral bagi bantuan kemanusiaan.