NarayaPost – Perbaikan jalan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus dikebut menjelang arus mudik Lebaran Idulfitri. Pemerintah memfokuskan penanganan agar jalur nasional tersebut semakin aman, khususnya bagi pengendara sepeda motor yang diperkirakan akan memadati ruas Pantura selama musim mudik.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menilai perhatian terhadap pemotor menjadi krusial karena karakteristik perjalanan mereka berbeda dengan pengguna mobil. Jika mobil memiliki alternatif melalui jalan tol, pemudik roda dua praktis hanya mengandalkan jalur arteri nasional seperti Pantura.
“Untuk mobil mungkin oke ya, tapi untuk motor kemudian hujan plus penerangan jalannya itu misalnya tidak nyala karena satu dan lain hal saya khawatir. Makanya saya minta teman-teman di Jabar, Jateng dan Jatim untuk lebih memastikan bahwa jalan-jalan nasional kita itu lebih ramah untuk pemotor,” kata Dody di Semarang.
BACA JUGA: Presiden FIFA Sebut Pemain yang Rasis Harus Dihukum Berat
Ia menegaskan, proses patching atau penambalan jalan berlubang harus terus dilakukan agar permukaan jalan lebih rata dan aman dilalui. Lubang dan gelombang di badan jalan menjadi risiko besar bagi pengendara motor, terlebih saat kondisi hujan dan visibilitas terbatas pada malam hari.
Selain perbaikan infrastruktur, Dody juga mengingatkan pentingnya kesiapan individu pemudik. Ia meminta pengendara memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum berangkat, termasuk rem, ban, lampu, dan mesin. Tak kalah penting, kondisi fisik pengendara juga harus benar-benar siap.
“Kondisi motornya yang benar-benar super ready, kemudian fisiknya juga harus super kuat dan manakala berkendaraan mohon berhenti sebelum lelah, karena kalau sudah berhenti pada saat lelah pun itu berbahaya,” ujarnya.
Menurut Dody, salah satu penyebab kerusakan berulang di jalur Pantura adalah maraknya kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL). Jalan nasional pada dasarnya tidak dirancang untuk menopang beban berlebih secara terus-menerus. Sejak awal, desain infrastruktur logistik Indonesia lebih mengandalkan moda kereta api, kapal laut, serta distribusi melalui jalan tol.
“Sementara ya harus kita akui jalan nasional kita tidak pernah didesain dari awal untuk sanggup menahan beban seberat itu,” katanya. Meski demikian, ia tidak serta-merta menyalahkan pengusaha angkutan barang. Menurutnya, persoalan ODOL berkaitan erat dengan efisiensi biaya logistik yang menuntut pengangkutan barang dalam jumlah besar sekali jalan.
Di wilayah Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU menjalankan program preservasi Pantura melalui skema multi years contract (MYC) 2025–2027. Sejumlah paket pekerjaan ditangani oleh PPK 1.2, 1.3, dan 1.4 dengan total panjang puluhan kilometer dari Brebes hingga Semarang. Penanganan mencakup perbaikan perkerasan, pelebaran terbatas, hingga penataan titik krusial menjelang arus mudik 2026.
Pada paket PPK 1.2, ruas Pekalongan–Batang-Plelen sepanjang 17,006 km dan Pemalang–Pekalongan sepanjang 9,717 km mendapat prioritas penanganan di beberapa titik strategis. Nilai kontrak masing-masing mencapai Rp 251,21 miliar dan Rp 174,78 miliar.
Sementara PPK 1.3 menangani ruas Weleri–Kendal–Semarang sepanjang 20,197 km dengan nilai Rp 250,29 miliar, difokuskan di segmen Lingkar Bodri hingga Lingkar Weleri yang menjadi simpul penting menuju Semarang.
Adapun PPK 1.4 mengelola ruas Tegal-Slawi-Prupuk-Wangon dan Pejagan-Ketanggungan-Prupuk Tahap 2 dengan total nilai lebih dari Rp 399 miliar. Segmen ini menjadi akses utama dari dan menuju Tol Trans Jawa.
BACA JUGA: Wapres ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia
Di Jawa Timur, preservasi dilakukan di ruas Bulu-Tuban-Lohgung, Gresik-Sadang-Lohgung, Tuban-Babat-Lamongan-Gresik, hingga Surabaya-Sidoarjo-Kota Pasuruan. Anggaran yang dialokasikan bervariasi, mulai dari puluhan hingga lebih dari Rp 60 miliar per paket. Penanganan juga berlanjut di koridor Pasuruan-Probolinggo, Probolinggo-Paiton-Situbondo, hingga Situbondo-Ketapang-Banyuwangi untuk mendukung konektivitas menuju Pelabuhan Ketapang.
Sementara di Bali, jalur logistik utama Gilimanuk-Negara-Denpasar hingga kawasan Taman Tirta mendapat alokasi anggaran terbesar, mencapai Rp 101,87 miliar.
Melalui berbagai paket preservasi tersebut, pemerintah berharap jalur Pantura semakin mantap dan aman dilalui. Dengan perbaikan infrastruktur yang berkelanjutan serta kesiapan pemudik, arus mudik Lebaran diharapkan berjalan lebih lancar dan selamat.