NarayaPost – Jarak tempuh menjadi salah satu poin jual utama bagi mobil listrik. Namun, sebuah studi terbaru dari Australian Automobile Association (AAA) mengungkap fakta mengejutkan: jarak tempuh mobil listrik di dunia nyata lebih pendek dari klaim resmi pabrikan.
Di seluruh dunia, produsen mobil listrik selalu mencantumkan kapasitas baterai dan jarak tempuh maksimal yang dapat dicapai dalam sekali pengisian penuh. Standar pengukuran yang digunakan beragam, termasuk WLTP (Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure) yang populer di Indonesia, NEDC (New European Driving Cycle), dan CLTC yang banyak dipakai di China.
Namun, pengujian AAA yang dilakukan sejak 2022 dengan dukungan dana 14 juta Dollar Australia (sekitar Rp 148,7 miliar) membuktikan bahwa angka jarak tempuh dalam kondisi pemakaian nyata seringkali jauh di bawah klaim resmi.
BACA JUGA : Simbol Harmoni Makan Siang Gibran dan Dasco Jadi Sorotan
Dalam uji coba di sekitar Geelong, Victoria, Australia, puluhan model mobil listrik dari berbagai merek terkenal dites dengan metode yang mencakup penggunaan sirkuit, jalan tol, hingga jalan pemukiman. Beberapa mobil yang diuji meliputi BYD Atto 3, Kia EV6, Tesla Model 3, dan Smart #3.
Michael Bradley, Managing Director AAA, menjelaskan bahwa perbedaan jarak tempuh ini muncul karena standar pengujian pabrikan dilakukan dalam kondisi laboratorium atau ideal yang sulit diterapkan di dunia nyata. Faktor seperti kondisi jalan, kecepatan, suhu, penggunaan AC, dan gaya berkendara nyata sangat mempengaruhi konsumsi energi dan jarak tempuh mobil listrik.
Selain itu, standar pengujian juga berbeda antara wilayah, sehingga hasil klaim bisa bervariasi tergantung metode yang digunakan, seperti WLTP atau NEDC.
Menariknya, AAA juga melakukan pengujian terhadap kendaraan berbahan bakar bensin dan solar. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 77% kendaraan bermesin pembakaran ini memiliki konsumsi bahan bakar yang lebih boros dibanding klaim pabrikannya. Jadi, fenomena klaim ideal yang berbeda dengan kondisi nyata bukan hanya dialami oleh mobil listrik, tapi juga kendaraan konvensional.
AAA menegaskan bahwa penelitian ini bertujuan memberikan gambaran yang lebih realistis bagi konsumen agar bisa membuat keputusan yang tepat ketika memilih kendaraan listrik. Dengan semakin banyaknya mobil listrik yang masuk ke pasar Australia dan global, transparansi informasi menjadi kunci utama.
“Konsumen harus mendapat informasi yang jujur dan jelas agar tidak kecewa setelah pembelian,” kata Bradley.
Informasi lengkap terkait standar uji mobil listrik dan hasil pengujian AAA dapat diakses langsung di situs resmi AAA: Australian Automobile Association – EV Range Test.
Untuk pembaca di Indonesia yang ingin memahami standar pengujian baterai dan jarak tempuh mobil listrik, Anda bisa melihat artikel terkait di laman Kementerian ESDM Indonesia.
BACA JUGA : Lansia Korea Selatan Nggak Mau Pensiun, Masih Terus Ingin Bekerja
Pengujian yang dilakukan AAA di Australia membuka mata publik bahwa jarak tempuh mobil listrik dalam kondisi nyata cenderung lebih rendah dibanding klaim pabrikan. Selisih ini berkisar antara 5% hingga 23% tergantung merek dan model kendaraan. Meski demikian, mobil listrik tetap menawarkan keunggulan ramah lingkungan yang signifikan.
Para calon pembeli disarankan untuk mempertimbangkan data nyata ini sebagai referensi dan tidak hanya terpaku pada angka klaim resmi agar tidak mengalami kekecewaan.