Jejak yang Tersisa: Menelusuri Komunitas Yahudi di Surabaya

SANYO DIGITAL CAMERA
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Di balik layar laptop, peta Kota Surabaya terpampang jelas di layar monitor. Sebuah titik di kawasan Kayoon memicu rasa ingin tahu, di sanalah dulu berdiri jejak satu-satunya sinagoge di Indonesia.

Menurut sejumlah arsip, bangunan itu pernah menjadi pusat kehidupan komunitas Yahudi di Surabaya, komunitas yang kini nyaris lenyap dari percakapan publik.

Komunitas Yahudi Terbentuk Awal Abad 20

Melansir laman History of the Jews in Indonesia, komunitas Yahudi di Surabaya terbentuk pada awal abad ke-20, terutama setelah kedatangan para imigran asal Irak dan Eropa Timur ke Hindia Belanda. Disana, mereka mendirikan asosiasi bernama Israelitische Gemeente van Soerabaia pada tahun 1923, lengkap dengan pekuburan dan tempat ibadah sendiri.

BACA JUGA: Ancaman Trump Bila Israel Nekat Caplok Blok Barat!

Bangunan yang kemudian dikenal sebagai Sinagoge Surabaya mulai difungsikan sebagai tempat ibadah oleh komunitas Yahudi pada akhir 1940-an, tak lama setelah berdirinya negara Israel. Dari catatan sejarah itu, Surabaya pernah menjadi salah satu simpul penting kehidupan Yahudi di Asia Tenggara, bersanding dengan komunitas kecil di Batavia dan Manado.

Bangunan di Jalan Kayoon (diperkirakan nomor 4–6) mulai difungsikan sebagai sinagoge oleh komunitas Yahudi Surabaya pada akhir 1940-an, meski dokumen pembelian tidak tersedia untuk publik.

Namun, berdasarkan laporan Inside Indonesia (2013), keberadaan komunitas ini mulai meredup sejak dekade 1950-an. Banyak dari mereka meninggalkan Indonesia akibat perubahan politik dan meningkatnya sentimen anti-Israel pasca-konflik Timur Tengah.

Pada masa puncaknya, komunitas Yahudi Surabaya diyakini beranggotakan puluhan hingga ratusan orang, meski jumlah pastinya sulit dipastikan karena tidak ada sensus resmi.

Sinagoge Kayoon Dihancurkan Tahun 2013

Media lokal melaporkan bahwa bangunan sinagoge di Kayoon dihancurkan sekitar tahun 2013. Pemerintah kota menyebut alasan pembongkaran terkait penggunaan lahan, sementara beberapa pelestari warisan budaya menganggapnya sebagai hilangnya jejak sejarah komunitas Yahudi Surabaya.

Pada saat itu, pemerintah kota menyebut pembongkaran itu terkait penggunaan lahan, namun bagi sebagian kalangan, peristiwa itu menandai hilangnya salah satu jejak sejarah pluralisme Surabaya. Kini, di lokasi bekas sinagoge itu hanya tersisa puing dan nama “Kayoon Synagogue” tinggal dalam arsip digital.

Sementara, menurut laporan The Times of Israel (2014), disebutkan bahwa sebagian kecil warga Yahudi di Indonesia kini hidup di bayang-bayang. Mereka tidak lagi menampilkan identitas keagamaan secara terbuka. Ada yang menyimpan kippah di laci rumah, ada yang beribadah secara pribadi tanpa sinagoge.

Beberapa laporan internasional menyebut bahwa sebagian kecil warga Yahudi Indonesia kini memilih untuk tidak menampilkan identitas keagamaan mereka secara terbuka. ‘Kami tetap Yahudi, tetapi kami hidup sebagai orang biasa,’ ujar seorang narasumber anonim. Kesaksian ini menunjukkan bagaimana identitas Yahudi di Indonesia bertransformasi ke dalam bentuk yang lebih privat.

Banyak Keluarga Yahudi Aktif di Sektor Perdagangan

Sejumlah penelitian sejarah dan arsip kolonial menyebut beberapa nama keluarga seperti Mussry, Kattan dan Sassoon dikenal luas di kalangan pengusaha di Surabaya. Pada saat itu, komunitas Yahudi hidup berdampingan dengan komunitas Arab, Tionghoa, dan Eropa tanpa gesekan berarti. Ketegangan baru muncul kala politik global mulai memengaruhi wacana lokal.

Meski aktivitas kolektif sebagai komunitas Yahudi di Surabaya sudah nyaris berhenti sejak awal 2000-an, jejak fisik seperti pekuburan tua dan nisan dengan nama-nama seperti Mussry tetap ada dan menjadi salah satu bukti historis yang tersisa.

Menurut beberapa arsip sejarah dan penelitian sekunder, komunitas Yahudi di Surabaya mencapai jumlah yang lebih besar pada masa kolonial, satu estimasi menyebut ‘sekitar seribu orang’ dalam puncaknya, meskipun angka pasti berbeda-beda menurut sumber. Setelah kemerdekaan dan beberapa gelombang migrasi, jumlah anggota komunitas ini merosot ke kisaran puluhan keluarga.

Migrasi besar-besaran itu tidak hanya dipicu faktor politik, tapi juga faktor sosial, termasuk perasaan terasing dan ketidakpastian masa depan di negara baru yang tengah membangun identitas nasional.

Catatan sejarah yang disusun oleh sejarawan Leonard Blussé (Leiden University) menunjukkan bahwa pada 1950-an, sinagoge di Surabaya masih digunakan untuk upacara keagamaan seperti bar mitzvah dan Rosh Hashanah.

Komunitas Yahudi Perlahan Menyusut

Berdasarkan berbagai laporan dan kesaksian, pola yang tampak cukup jelas: komunitas Yahudi di Surabaya tidak lenyap karena satu peristiwa besar atau kekerasan terbuka, melainkan melalui proses panjang yang nyaris tanpa suara. Mereka menyusut perlahan—bukan karena perang atau pengusiran, tetapi karena perpaduan halus antara asimilasi, tekanan politik, dan arus migrasi yang mengalir seiring perubahan zaman.

Asimilasi terjadi ketika generasi muda mulai melebur dalam kehidupan kota yang semakin modern, meninggalkan tradisi leluhur yang dulu menjadi bagian dari keseharian keluarga mereka. Tidak ada tanggal pasti kapan komunitas itu benar-benar berakhir. Tidak ada berita besar yang menandai kepergian mereka. Mereka menghilang seperti api lilin yang padam perlahan tanpa riuh, tanpa upacara perpisahan, hanya meninggalkan aroma samar dari sejarah yang pernah menyala terang.

Laporan Inside Indonesia menyebut, seorang penulis lokal menggambarkan sinagoge itu sebelum dihancurkan, bangunannya sederhana, bercat putih dengan jendela kaca patri. Di dalamnya terdapat Aron Hakodesh, tempat menyimpan gulungan Taurat. Tidak ada simbol megah atau arsitektur mencolok, namun kesederhanaan itu menyiratkan fungsi spiritual yang kuat.

“Bangunan itu lebih mirip rumah ibadah yang bersembunyi. Cermin bagaimana komunitas Yahudi di Indonesia menjalani iman dalam diam,” tulis laporan tersebut.

Sinagoge Lakukan Perayaan Keagamaan Terbuka

Menurut laporan Times of Israel, komunitas Yahudi terakhir kali diketahui mengadakan ibadah kolektif secara terbuka sekitar awal tahun 2000-an. Setelah masa itu, kegiatan peribadatan mereka dilakukan secara tertutup, berpindah ke rumah-rumah pribadi, jauh dari sorotan publik.

Dalam salah satu wawancara yang terekam di media internasional, seorang narasumber bahkan menolak difoto dan hanya bersedia berbicara melalui pesan singkat. “Saya sudah lama tidak ke sinagoge, karena sinagoge kami sudah tidak ada,” ujarnya singkat, seolah menyiratkan kesunyian panjang dari komunitas yang dahulu pernah hidup di tengah Surabaya yang ramai.

Jejak keberadaan mereka kini lebih banyak ditemukan di dunia digital ketimbang di dunia nyata. Dalam beberapa arsip daring, masih tersimpan potret hitam-putih bangunan sinagoge Surabaya dari masa kolonial, yang kini menjadi bagian dari koleksi Collectie Leiden University Libraries di Belanda.

Foto itu menampilkan sebuah bangunan bergaya Indische klasik dindingnya tebal, jendelanya besar, dan atapnya menjulang dengan ventilasi khas arsitektur tropis Hindia Belanda. Sinagoge itu berdiri di tepi Sungai Kayoon, sebuah lokasi yang kala itu menjadi pusat pertemuan warga dari berbagai bangsa dan keyakinan.

Dari halaman sinagoge itu, mungkin dahulu terdengar lantunan doa Shema Yisrael setiap Sabat, mengalun lembut di antara gemericik air sungai dan deru trem yang melintas. Kini, gema itu telah lama menghilang. Di peta Google, lokasi tersebut telah berubah menjadi deretan pertokoan dan lahan parkir sebuah ruang tanpa identitas sejarah. Tidak ada lagi tanda bahwa di sanalah dulu berdiri satu-satunya sinagoge di Indonesia, saksi bisu dari keberagaman yang pernah hidup di jantung Kota Surabaya.

Jejak Yahudi Jadi Bagian dari Sejarah

Satu hal yang menjadi jelas, jejak Yahudi di Surabaya bukan hanya soal agama, tetapi juga tentang sejarah sosial yang terlupakan. Mereka adalah bagian dari mosaik multikultural kota pelabuhan, datang bersama arus perdagangan global, hidup berdampingan, lalu perlahan tersingkir oleh arus politik dan sejarah yang lebih besar.

Menurut laporan Jewish Telegraphic Agency (1965), komunitas Yahudi di Surabaya pada masa itu tinggal segelintir keluarga yang masih beribadah di sinagoge, sembari mempersiapkan imigrasi.

Melalui sejarah kota, hilangnya komunitas Yahudi Surabaya mengingatkan pada pentingnya dokumentasi minoritas. Banyak arsip lokal tidak mencatat kontribusi mereka. Padahal, dari catatan UGM, keluarga Yahudi ikut berperan dalam perdagangan ekspor-impor, bidang kesehatan, dan pendidikan. Mereka menjadi bagian dari jaringan ekonomi kolonial yang turut membentuk modernitas Surabaya.

Setelah satu abad lebih, kisah mereka nyaris hanya tersisa di arsip daring, di baris-baris yang jarang dibuka. Komunitas Yahudi di Surabaya mungkin telah menghilang secara fisik, tetapi kehadiran mereka masih berdenyut di dunia digital, dalam foto, riset, serta kesaksian yang tersebar di internet.

Jejak yang Hilang, Suara yang Masih Terdengar

Ketika jejak fisik sinagoge itu telah hilang dari peta kota, kisah komunitas Yahudi di Surabaya seakan menyisakan gema yang samar. Tidak lagi ada doa yang bergema di Jalan Kayoon, tidak ada lagi perayaan Sabat di bawah cahaya lilin, namun kenangan tentang keberadaan mereka masih hidup bukan dalam batu bata dan jendela kaca patri, melainkan di arsip-arsip digital, foto-foto tua, dan ingatan kolektif kota pelabuhan ini.

Melansir Inside Indonesia (2013), kehancuran sinagoge bukan hanya hilangnya bangunan fisik, tetapi juga simbol berakhirnya babak panjang pluralisme keagamaan yang pernah mewarnai Surabaya. Di masa kolonial, kota ini menjadi rumah bagi berbagai komunitas: Arab, Tionghoa, Eropa, dan Yahudi semuanya hidup berdampingan di bawah langit tropis yang sama. Kini, warisan itu perlahan memudar, tersisa dalam kisah yang diceritakan kembali oleh para sejarawan dan jurnalis.

Menurut Times of Israel (2014), sebagian kecil warga Yahudi yang masih ada di Indonesia memilih untuk hidup dalam kesunyian identitas. Mereka beribadah tanpa sinagoge, menyimpan simbol iman mereka di ruang pribadi, dan menjalani kehidupan tanpa tanda-tanda lahiriah keagamaan. Dalam sunyi itu, mereka masih menjaga keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sementara, laporan Jewish Telegraphic Agency (1965) mengingatkan bahwa Surabaya pernah menjadi simpul penting bagi komunitas Yahudi Asia Tenggara. Dari sinilah, jaringan dagang, pendidikan, dan sosial mereka tumbuh, meski kemudian perlahan tergerus arus sejarah. Tidak ada catatan besar tentang kepergian mereka hanya fragmen-fragmen kecil yang membentuk mosaik sejarah yang lebih luas.

BACA JUGA: Pakar UGM Sebut Masalah SPBU Swasta Berdampak pada Investasi

Kini, Surabaya telah berubah. Di tempat berdirinya sinagoge, telah menjulang bangunan baru, tanpa penanda masa lalu. Namun bagi mereka yang menelusuri sejarah, tanah itu masih menyimpan cerita. Tentang keluarga-keluarga yang datang dari Baghdad dan Aleppo, tentang doa yang dahulu bergema di ruang kecil bercat putih, dan tentang komunitas yang memilih diam ketika dunia di sekitarnya berubah.

Barangkali, inilah takdir sejarah kota-kota besar: selalu bergerak, selalu menelan ingatannya sendiri. Tapi selama masih ada yang menulis, meneliti, dan mengingat, jejak itu tak akan benar-benar hilang.

Komunitas Yahudi di Surabaya mungkin telah pergi, tapi keberadaan mereka tetap menjadi bagian penting dari narasi keindonesiaan sebuah pengingat bahwa pluralisme bukanlah anugerah yang abadi, melainkan warisan yang harus terus dijaga agar tidak terkubur oleh waktu.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like