Jerman Targetkan 2029 Bundeswehr Siap Perang Lawan Rusia

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Jerman menetapkan tahun 2029 sebagai batas waktu bagi Bundeswehr (militer Jerman) untuk siap terhadap potensi konflik dengan Rusia.

Moskow menganggap itu omong kosong.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov tahun lalu mengatakan, dengan para pemimpin mereka saat ini, Jerman modern dan seluruh Eropa sedang bertransformasi menjadi Reich Keempat.

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan, negara-negara Eropa harus menerima tatanan internasional berbasis aturan liberal pasca-Perang Dingin, sudah tidak ada lagi.

Berbicara pada Konferensi Keamanan Munich pada Jumat (13/2/2026), Merz menilai Uni Eropa dan anggotanya perlu beradaptasi dengan cepat terhadap realitas baru, dengan mempersenjatai diri.

Pernyataannya ini muncul ketika Berlin berupaya menghindari aturan Uni Eropa yang mengatur defisit anggaran dan persaingan, untuk menyelamatkan ekonomi Jerman yang lesu melalui program persenjataan kembali besar-besaran.

BACA JUGA: Jerman Tolak Ukraina Masuk Uni Eropa pada 1 Januari 2027

Ekonomi terbesar blok tersebut berencana menghabiskan USD582 miliar untuk pertahanan pada tahun 2029, di tengah resesi yang sedang berlangsung.

Bank sentral negara itu tahun lalu memperingatkan, pemerintah berada di jalur untuk defisit anggaran terbesar sejak awal tahun 1990-an.

“Tatanan internasional yang didasarkan pada hak dan aturan, tidak lagi ada.”

“Klaim Amerika Serikat atas kepemimpinan telah ditantang dan mungkin hilang,” ujar Merz di forum tersebut, menunjuk pada apa yang disebutnya sebagai revisionisme kekerasan Rusia dan keinginan Cina menjadi pemimpin dalam membentuk dunia.

Uni Eropa, lnjut Merz, perlu menerima realitas baru ini yang melibatkan perebutan wilayah pengaruh, di mana sumber daya alam, teknologi, dan rantai pasokan menjadi alat tawar-menawar dalam permainan zero-sum antara kekuatan-kekuatan besar.

“Prioritas terbesar kita adalah memperkuat Eropa di dalam NATO,” imbuhnya.

Merz berjanji menginvestasikan ratusan miliar euro ke dalam militer, selama beberapa tahun mendatang, dan terus mendukung Kiev dalam konfliknya dengan Moskow.

Merz juga mengulangi janjinya menjadikan militer Jerman sebagai tentara konvensional terkuat di Eropa, dan untuk melindungi tatanan demokrasi bebas Jerman dari musuh internal dan eksternal.

Ia juga mengumumkan pembicaraan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang pencegahan nuklir Uni Eropa.

Jerman secara aktif menggembar-gemborkan narasi ancaman Rusia untuk membenarkan peningkatan pengeluaran militer.

Kembangkan Penangkal Nuklir

Sejumlah negara Eropa yang berbatasan dengan Rusia, diam-diam membahas pengembangan kemampuan penangkal nuklir untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin.

Mengutip sumber yang mengetahui pembicaraan pemerintah dengan kalangan militer, Bloomberg melaporkan pembicaraan tersebut dilakukan secara bilateral atau trilateral antar-negara yang memiliki hubungan dekat.

Negara-negara yang terlibat umumnya adalah negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Menurut Bloomberg, mereka bertindak hati-hati, seraya memantau sinyal yang mungkin dikirimkan atas tindakan mereka kepada Rusia.

Diskusi tersebut diadakan pada tingkat militer yang sangat tinggi, sehingga bahkan para menteri pun mungkin tidak mengetahuinya.

Negara-negara yang berpartisipasi menyadari, pengembangan persenjataan nuklir akan membutuhkan biaya tinggi dan potensi pelanggaran perjanjian internasional, serta menerima kemungkinan diserang sebagai balasan atas persetujuan untuk membela sekutu.

BACA JUGA: Belgia dan Jerman Kerahkan Pasukan ke Perbatasan Rusia

Para pakar yang diwawancarai Bloomberg percaya, sebagian besar negara Eropa tidak akan mampu mengganti aset nuklir AS dengan aset mereka sendiri.

Inggris dan Prancis menghabiskan hampir 12 miliar dolar AS per tahun bersama-sama untuk memelihara persenjataan mereka, lebih dari setengah anggaran pertahanan tahunan Swedia.

Pada Maret 2025, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengklaim Rusia menjadi ancaman bagi Prancis dan Eropa.

Ia menyerukan diskusi tentang penggunaan senjata nuklir Prancis untuk membela seluruh Uni Eropa, menekankan AS telah mengubah posisinya terhadap Ukraina dan peran utama Washington di NATO.

Sementara, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyatakan Eropa harus memulai perlombaan senjata dengan Rusia.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut pernyataan Macron sangat konfrontatif.

Peskov mengatakan pernyataan itu mengandung banyak ketidakakuratan, termasuk tidak menyebutkan infrastruktur militer NATO yang merayap di perbatasan barat Rusia. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like