NarayaPost – Fenomena job hugging belakangan menjadi topik menarik untuk diperbincangkan. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk tetap bertahan di pekerjaan yang sudah tidak lagi memberikan kebahagiaan, produktivitas, maupun peluang berkembang.
Kondisi tersebut banyak dijumpai di kalangan pekerja dari berbagai sektor, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Dosen Ekonomi Ketenagakerjaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Achmad Sjafii, SE., ME., menilai bahwa job hugging sebenarnya bukan fenomena baru. Ia menjelaskan, istilah ini hanya mempertegas gejala lama yang kembali muncul seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
BACA JUGA: Poltracking: Publik Puas dengan Kinerja Prabowo-Gibran 78,1%
Menurut Sjafii, dinamika ekonomi yang cepat membuat pasar kerja semakin kompetitif, sehingga banyak pekerja memilih berhati-hati dalam mengambil keputusan karier meski merasa tidak puas di tempat kerja. “Sekarang mempertahankan pekerjaan saja sudah sulit, apalagi mencari yang baru. Jadi mereka berpikir sing penting iso mangan (yang penting bisa makan, red). Rasa aman itulah yang akhirnya membuat mereka bertahan,” ujarnya dilansir dari laman resmi Universitas Airlangga.
Lebih lanjut, Sjafii menuturkan bahwa keputusan untuk bertahan demi rasa aman dapat berdampak negatif, seperti hilangnya motivasi dan menurunnya semangat kerja. Dalam jangka panjang, hal ini tak hanya merugikan individu, tetapi juga menurunkan performa perusahaan.
“Kalau seseorang tidak bahagia di pekerjaannya, kinerjanya pasti menurun. Kalau sudah begitu, performa kerja menurun, dan perusahaan pun ikut terdampak,” tambahnya.
Menurut Sjafii, job hugging menunjukkan bahwa keputusan individu dapat memberi efek sistemik. Karena itu, ia menekankan perlunya tanggung jawab bersama antara pekerja, perusahaan, dan pemerintah.
Perusahaan, jelasnya, harus menyediakan pelatihan berkelanjutan agar karyawan bisa berkembang, sementara pemerintah berperan mendorong kebijakan penguatan sumber daya manusia. “Pelatihan itu mahal pemerintah juga punya keterbatasan,” ujarnya.
Meski demikian, Sjafii menegaskan bahwa perubahan tetap bergantung pada kesadaran individu.
“Individu perlu proaktif meningkatkan keterampilan. Perusahaan harus punya kebijakan pengembangan SDM yang jelas, dan pemerintah perlu memperkuat dukungan agar tenaga kerja tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang,” pungkasnya.
Fenomena job hugging mencerminkan tantangan besar yang dihadapi dunia kerja modern, khususnya di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Ketika rasa aman menjadi prioritas utama, banyak pekerja memilih bertahan di posisi yang tidak lagi memberikan kepuasan atau ruang berkembang.
Menurut Achmad Sjafii, SE., ME., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, situasi ini bukan hal baru, melainkan cerminan dari meningkatnya kehati-hatian pekerja dalam menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif.
BACA JUGA: Prabowo-Gibran Dinilai Gagal Paham Soal Isu Palestina
Namun, bertahan tanpa motivasi justru dapat menimbulkan dampak serius, baik bagi individu maupun perusahaan. Produktivitas yang menurun, stagnasi karier, dan hilangnya semangat kerja menjadi risiko nyata yang harus diantisipasi.
Karena itu, Sjafii menekankan pentingnya sinergi antara individu, perusahaan, dan pemerintah dalam mengatasi fenomena ini. Perusahaan diharapkan dapat menyediakan pelatihan dan ruang pengembangan, sementara pemerintah perlu memperkuat kebijakan dan dukungan terhadap peningkatan kompetensi tenaga kerja.
Pada akhirnya, keberhasilan mengatasi job hugging bergantung pada kesadaran bersama bahwa dunia kerja menuntut adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan. Seperti ditegaskan Sjafii, “Individu perlu proaktif meningkatkan keterampilan agar tenaga kerja tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.”