Kaderisasi Talk KAMMI: Satukan Arah, Kuatkan Kader pada Arus Zaman

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Malam itu layar-layar Zoom di berbagai penjuru Indonesia menyala. Dari Jambi, Jakarta, Mataram, hingga Yogyakarta, sebanyak 30 kader KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) berkumpul secara daring dalam sebuah agenda penting bertajuk Kaderisasi Talk: Menyatukan Arah, Menguatkan Pengkaderan KAMMI.

Diskusi ini bukan sekadar webinar biasa, melainkan ajang refleksi ideologis dan peneguhan kembali arah perjuangan organisasi kader muslim di tengah dinamika zaman yang kian kompleks.

Kabid Pembinaan Kader KAMMI Tegaskan Pentingnya Ruh Pengkaderan

Acara dibuka oleh Rais Yasin, Ketua Bidang Pembinaan Kader KAMMI, yang menegaskan pentingnya menjaga ruh pengkaderan sebagai “nafas perjuangan” organisasi. “Kaderisasi adalah jantung KAMMI. Di situlah kita merekrut, membina, dan melahirkan tokoh-tokoh negarawan yang akan memimpin bangsa,” ujarnya penuh semangat.

BACA JUGA: Perpres Tata Kelola BGN Selesai, BGN: Tinggal Bagi

Rais juga mengingatkan pada Kaderisasi Talk ini bahwa dinamika dan konflik yang sempat terjadi di tubuh organisasi tidak boleh melemahkan semangat kaderisasi, melainkan menjadi pemicu untuk memperkuat fondasi nilai dan arah perjuangan bersama.

Sejarah Panjang Pergerakan KAMMI

Narasumber utama, Adhe Nuansa Wibisono, Ph.D., Dosen Hubungan Internasional Universitas Paramadina sekaligus mantan pengurus KAMMI Turki, memaparkan sejarah panjang gerakan Islam dan posisi KAMMI dalam pusaran sejarah itu.

Ia menelusuri akar-akar gerakan tarbiyah yang terinspirasi dari pemikiran Syaikh Hasan Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang kemudian menyebar hingga ke Indonesia melalui para aktivis muda eks-Masyumi dan mahasiswa Timur Tengah pada 1980-an. “KAMMI harus memahami dirinya sebagai bagian dari mata rantai panjang perjuangan intelektual Islam,” tegasnya.

KAMMI Adalah Ruang Tumbuh

Menurut Adhe, KAMMI bukan sekadar organisasi kampus, melainkan “ruang tumbuh” bagi generasi intelektual muslim yang berpikir dan berkehendak merdeka. Ia menekankan bahwa kader KAMMI tidak boleh lupa akar sejarahnya. “Anak KAMMI tak boleh lupa akar sejarah, walaupun sudah ada di Gerindra, PKS, Golkar, atau Gelora. Secara nalar ikhwan, mereka tetap paham ruh perjuangan Islam,” katanya.

Lebih jauh, Kaderisasi Talk ini mengajak kader untuk memiliki jiwa korsa dan mental ekspansif, tidak hanya sibuk pada urusan internal organisasi. “Bangsa ini butuh anak muda yang berani mengisi pos-pos strategis di luar sana — di KNPI, HIPMI, KADIN, atau partai politik. Jangan hanya sibuk berdebat di dalam,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa kekuatan KAMMI terletak pada kemampuannya berdiaspora, mengisi berbagai ruang publik dengan nilai-nilai keislaman dan integritas moral.

Para Kader Antusias Berdiskusi

Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Pertanyaan-pertanyaan kritis muncul dari kader di berbagai daerah, mulai dari stagnasi gerakan Islam, relevansi ideologi dalam konteks politik nasional, hingga tantangan kaderisasi di kampus. Salah satu peserta, Muhammad Liputra, menyinggung mengapa dakwah Islam di Indonesia tidak secepat di Mesir, sementara peserta lain menyoroti perlunya KAMMI mengembangkan pendekatan intelektual dalam berdakwah.

Menanggapi hal ini, Adhe menjelaskan bahwa secara historis, kekuatan partai dan gerakan Islam di Indonesia memang terbatas pada sekitar 30 persen pemilih. Namun, hal itu bukan hambatan, melainkan peluang untuk melakukan ijtihad politik yang lebih luas.

BACA JUGA: Air Hujan Mikroplastik Berbahaya, BRIN Imbau Jangan Konsumsi

Ia mencontohkan strategi diaspora aktivis HMI dan tokoh seperti Anwar Ibrahim di Malaysia yang berhasil berjuang dalam partai nasionalis tanpa kehilangan identitas keislamannya. “Yang penting bukan bajunya, tapi nilainya. Nilai KAMMI harus tetap melekat ke mana pun kadernya pergi,” tegasnya.

Di penghujung acara, suasana diskusi bergeser dari ideologis menjadi reflektif. Para peserta menyadari bahwa kaderisasi bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang kualitas dan mentalitas. “Jangan takut berjuang di luar, tapi tetap jaga nilai KAMMI di dalam diri,” pesan Adhe sebelum sesi ditutup.

Momentum KAMMI Teguhkan Arah Pengkaderan

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi KAMMI untuk meneguhkan kembali arah pengkaderannya di tengah perubahan sosial-politik yang cepat. Seperti disimpulkan dalam forum, KAMMI diharapkan mampu melahirkan generasi muslim intelektual yang siap berdiaspora, berperan aktif di berbagai sektor, dan menjaga kesinambungan perjuangan umat Islam dari masa ke masa. Dengan semangat tauhid, keilmuan, dan persatuan, KAMMI terus berkomitmen melahirkan kader negarawan yang membawa pencerahan bagi Indonesia dan dunia.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like