Kapal RI Tertahan di Selat Hormuz, Ini Penjelasan Pertamina

Kapal RI Milik Pertamina yang diduga tertahan di Selat Hormuz.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – PT Pertamina (Persero) membeberkan kondisi terbaru kapal pengangkut minyak milik anak usahanya, Pertamina International Shipping (PIS), yang sempat terjebak di kawasan Strait of Hormuz akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan blokade yang dilakukan Iran.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan saat ini dua dari empat kapal yang sempat terdampak telah berhasil melanjutkan operasional pelayaran mereka. Kedua kapal tersebut adalah Paragon dan Rinjani.

“Kemarin ada dua kapal yang memang sudah lanjut operasional yaitu Paragon dan Rinjani,” kata Simon dalam konferensi pers di kantor BPH Migas di Jakarta, Kamis (12/3).

BACA JUGA: Beras RI Akan Segera Ekspor ke Malaysia-Papua Nugini

Kapal RI Tak Mengangkut Pasokan

Simon menjelaskan bahwa kedua kapal tersebut tidak mengangkut pasokan yang diperuntukkan secara langsung bagi kebutuhan Pertamina. Kapal-kapal tersebut melayani pasar non-captive atau pasar umum, dengan tujuan pelayaran yang berbeda.

Menurutnya, kapal Paragon dijadwalkan menuju Kenya, sementara kapal Rinjani berlayar menuju India. Dengan berlanjutnya perjalanan kedua kapal tersebut, sebagian aktivitas pengiriman energi oleh PIS di kawasan tersebut mulai kembali berjalan.

Meski demikian, masih ada dua kapal lain milik Pertamina yang hingga kini berada di dalam wilayah Teluk dan belum dapat melanjutkan pelayaran. Kedua kapal tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro.

“Sementara yang masih berada di dalam teluk itu ada dua kapal, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro,” ujar Simon.

Perhatian Utama Merujuk pada Keselamatan Seluruh Kru Kapal

Ia menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, perhatian utama perusahaan adalah memastikan keselamatan seluruh kru kapal serta keamanan kargo energi yang diangkut. Pertamina pun terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak guna memantau perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut.

Selain itu, Pertamina juga berkomunikasi dengan pemerintah Indonesia, termasuk dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, untuk memastikan perlindungan terhadap awak kapal Indonesia yang berada di wilayah konflik.

“Dan kita juga mendorong supaya tentunya bersama-sama situasi di sana semakin baik sehingga kargo-kargo kita bisa kemudian beroperasi dan melewati lokasi itu dengan baik,” tutur Simon.

Ketegangan Selat Hormuz Berdampak pada Aktivitas Pelayaran

Ketegangan di Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir memang berdampak pada aktivitas pelayaran internasional. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute paling vital bagi perdagangan minyak dunia karena menjadi jalur utama distribusi energi dari kawasan Timur Tengah menuju berbagai negara.

Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan distribusi energi, Pertamina juga mulai melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak dan energi. Langkah ini dilakukan agar ketergantungan terhadap satu wilayah pemasok dapat dikurangi.

Simon menjelaskan bahwa pasokan energi untuk Indonesia tidak hanya bergantung pada kawasan Timur Tengah. Pertamina juga menjalin kerja sama dengan sejumlah negara di kawasan lain, seperti Afrika dan Amerika, untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

“Jadi kita tentunya terus dengan bantuan dukungan dari pemerintah, dengan bantuan dari berbagai pihak, kita tetap lakukan yang terbaik agar supaya pelayanan energi untuk masyarakat bisa berlangsung dengan lancar dan aman,” jelasnya.

Perusahaan Pertamina Terus Lakukan Pemantauan Intensif

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, juga memastikan bahwa pihak perusahaan terus melakukan pemantauan intensif terhadap seluruh armada yang beroperasi di kawasan tersebut.

Menurut Vega, PIS memantau posisi, kru, dan seluruh pekerja secara real-time selama 24 jam setiap hari untuk memastikan kondisi mereka tetap aman.

BACA JUGA: Enam Kapal Tanker di Selat Hormuz Diduga Diserang Iran

Selain itu, perusahaan juga menjalin koordinasi erat dengan otoritas maritim internasional serta pihak berwenang setempat guna menjaga keamanan jalur pelayaran dan keselamatan awak kapal.

“Di tengah situasi yang sangat dinamis dan sensitif ini, kami memohon doa serta dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia, termasuk rekan-rekan jurnalis, bagi keselamatan para kru dan pekerja kami yang tetap menjalankan tugasnya di kawasan Timur Tengah,” ujar Vega dalam keterangan tertulis.

Pertamina berharap situasi keamanan di Selat Hormuz dapat segera membaik sehingga beberapa awak yang masih berada di kawasan tersebut dapat kembali melanjutkan perjalanan dengan aman dan distribusi energi global tidak mengalami gangguan yang lebih besar.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like