NarayaPost — Pemeriksaan kesehatan rutin atau checkup merupakan langkah penting untuk menjaga tubuh tetap dalam kondisi prima. Namun, masih banyak orang yang bertanya-tanya, kapan sebaiknya checkup ke dokter? Apakah perlu dilakukan setiap tahun, atau hanya saat tubuh mulai terasa tidak enak?
Pertanyaan ini sebenarnya tidak memiliki satu jawaban pasti. Pasalnya, frekuensi checkup tergantung pada usia, kondisi kesehatan, gaya hidup, serta riwayat penyakit pribadi maupun keluarga. Meski begitu, ada panduan umum yang bisa membantu Anda menentukan waktu terbaik untuk melakukan pemeriksaan medis secara rutin. Berikut uraiannya untuk Anda
BACA JUGA: Kanker Saluran Pencernaan Gen X dan Milenial Meningkat: Kenali Gejala dan Faktor Risikonya
Menyadur laman Healthline, melakukan checkup secara berkala memungkinkan dokter mendeteksi tanda-tanda awal penyakit sebelum berkembang menjadi kondisi serius. Banyak penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, hingga kanker bisa lebih mudah ditangani bila diketahui lebih dini.
Selain itu, checkup rutin juga membantu Anda memahami kondisi tubuh secara keseluruhan dan menjadi momentum untuk berdiskusi tentang pola hidup sehat, kebutuhan vaksinasi, hingga pemeriksaan tambahan sesuai risiko.
Waktu untuk checkup ke dokter biasanya bergantung pada kelompok usia. Berikut ini panduan umumnya:
Bagi individu sehat di rentang usia ini, disarankan untuk melakukan checkup setidaknya setiap 2–3 tahun sekali.
Namun, jika Anda memiliki faktor risiko seperti obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau riwayat keluarga dengan penyakit kronis, frekuensinya bisa ditingkatkan menjadi setahun sekali.
Checkup pada usia ini biasanya meliputi:
Memasuki usia 40-an, risiko terhadap penyakit kronis mulai meningkat. Maka dari itu, checkup setahun sekali sangat dianjurkan.
Di samping itu, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan tambahan, seperti:
Untuk lansia, pemeriksaan tahunan menjadi keharusan. Fokus utamanya adalah menjaga kualitas hidup, mobilitas, dan mencegah komplikasi dari penyakit kronis.
Checkup pada usia ini mencakup evaluasi fungsi kognitif, pemeriksaan tulang (osteoporosis), serta imunisasi rutin seperti vaksin flu, pneumonia, dan zoster.
Selain checkup rutin, ada beberapa gejala yang tidak boleh diabaikan dan perlu segera diperiksakan ke dokter, seperti demam tinggi yang berlangsung lebih dari tiga hari, sesak napas, nyeri dada, perubahan mendadak pada penglihatan atau pendengaran, serta pingsan atau kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
Agar checkup Anda efektif, sebaiknya catat terlebih dahulu gejala atau keluhan yang dirasakan, bawa daftar obat-obatan yang sedang dikonsumsi, tanyakan hasil laboratorium atau skrining sebelumnya, serta diskusikan gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari dengan dokter untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kondisi kesehatan Anda.
Mengetahui kapan sebaiknya checkup ke dokter adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Pemeriksaan rutin memungkinkan deteksi dini terhadap berbagai penyakit, terutama yang bersifat kronis dan sering tanpa gejala awal.
Frekuensi checkup sebaiknya disesuaikan dengan usia, riwayat kesehatan, serta gaya hidup masing-masing individu. Mulai dari usia muda hingga lanjut usia, pemeriksaan berkala memberikan manfaat besar dalam pencegahan, penanganan dini, dan peningkatan kualitas hidup.
BACA JUGA: Ini Batas Konsumsi Gula Harian, Jangan Berlebih!
Jangan menunggu sampai sakit parah untuk datang ke dokter. Jadikan checkup sebagai bagian dari rutinitas hidup sehat Anda, karena menjaga kesehatan adalah investasi terbaik yang bisa dilakukan untuk masa depan.