NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sama sekali tak membantu negaranya perang melawan Iran.
Meski mengaku tak butuh bantuan NATO, Trump tetap kecewa aliansi pertahanan itu sama sekali tidak membantu AS menghadapi serangan balasan Iran, usai Washington-Israel melancarkan serangan awal ke Teheran pada 28 Februari lalu.
“AS tidak membutuhkan apa pun dari NATO, tetapi ‘jangan pernah lupakan’ momen yang sangat penting ini,” tulis Trump di Social Truth, Kamis (26/3/2026).
Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump juga menyampaikan AS sangat kecewa kepada NATO.
“Saya akan mengatakannya secara terbuka.”
“Kami sangat kecewa dengan NATO, karena NATO sama sekali tidak melakukan apa pun,” tegas Trump.
Dia juga berpendapat NATO tidak akan pernah datang untuk menyelamatkan mereka.
“Saya pernah mengatakan 25 tahun lalu, NATO adalah macan kertas.”
“Tetapi yang lebih penting, kita akan datang menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak akan pernah datang menyelamatkan kami,* tutur Trump, dikutip dari Anadolu Agency.
Trump sebelumnya menegaskan AS tidak membutuhkan NATO.
Ia bahkan mencaci sikap aliansi dan menyebutnya sebagai kesalahan yang sangat bodoh.
Pada Selasa (17/3/2026), Trump mengatakan AS tidak lagi membutuhkan dukungan angkatan laut Jepang dan sekutu lainnya, untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.
BACA JUGA: Kabar Pasukan Darat Amerika Bakal Invasi Iran Semakin Santer
Ia mengeklaim keberhasilan militer telah dicapai dalam perang melawan Iran.
Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap anggota NATO lainnya, Australia, Jepang, dan Korea Selatan, setelah mereka menunjukkan sedikit minat untuk menerima permintaannya yang berulang kali, untuk mengirim kapal perang ke koridor maritim penting tersebut, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia.
“Karena kita telah mencapai keberhasilan militer yang begitu besar, kita tidak lagi ‘membutuhkan,’ atau menginginkan, bantuan negara-negara NATO — KITA TIDAK PERNAH MEMBUTUHKANNYA! Demikian juga Jepang, Australia, atau Korea Selatan,” tulisnya di media sosial.
Trump menyatakan harapan Inggris, Cina, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan akan bekerja sama dengan AS untuk membantu menjaga jalur pelayaran tetap terbuka dan aman.
Jepang dan negara-negara Asia lainnya sangat bergantung pada Timur Tengah untuk energi.
Jepang bergantung pada kawasan tersebut untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya, yang sebagian besar melewati jalur air sempit antara Iran dan Oman.
Namun, sulit bagi Jepang mengirim Pasukan Bela Diri ke zona perang karena Konstitusi pasifisnya.
Trump mengatakan sebagian besar sekutu lain dari NATO telah memberi tahu AS, mereka tidak ingin bergabung dengan kampanye militer AS-Israel melawan Iran.
“Saya tidak terkejut dengan tindakan mereka, karena saya selalu menganggap NATO, di mana kita menghabiskan ratusan miliar dolar per tahun untuk melindungi negara-negara yang sama ini, sebagai jalan satu arah.”
“Mereka seharusnya sangat berterima kasih,” imbuh Trump.
Di masa jabatan pertamanya, Trump berulang kali mencela NATO.
Menurut beberapa laporan pejabat Gedung Putih, dia secara terbuka mempertimbangkan untuk menarik diri dari aliansi pertahanan itu.
Di masa perang ini, para pengamat menilai Trump putus asa dan frustrasi menghadapi serangan balasan Iran.
Iran membalas operasi brutal dengan menyerang Israel dan aset AS di negara Tekuk.
Mengaku Ditawari Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Presiden AS Donald Trump mengaku pernah ditawari jadi pemimpin tertinggi Iran.
Trump mengatakan, rakyat Iran sempat memintanya menjadi pemimpin tertinggi di negara tersebut, namun ia menolaknya.
Ia mengeklaim wacana soal dirinya menjadi pemimpin tertinggi di Iran, disampaikan secara tidak resmi oleh para pemimpin Teheran, setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan awal koalisi Amis (Amerika-Israel) pada 28 Februari 2026.
“Tidak pernah ada kepala negara yang menginginkan jabatan itu lebih sedikit daripada kepala negara Iran.”
“Kami mendengar mereka dengan sangat jelas.”
“Mereka berkata, ‘Saya tidak menginginkannya. Kami ingin menjadikan Anda pemimpin tertinggi berikutnya.'”
BACA JUGA: Iran Pilih Lanjutkan Perlawanan Ketimbang Negosiasi
“Tidak, terima kasih. Saya tidak menginginkannya,” ungkap Trump, saat makan malam penggalangan dana tahunan Komite Kongres Republik Nasional (NRCC).
Setelah Ali Khamenei meninggal dunia, Iran langsung memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi mereka.
Trump sebelumnya mengeklaim delegasi Iran sebenarnya sangat ingin mencapai kesepakatan dan sedang bernegosiasi dengan AS.
“Tapi mereka takut mengatakan, karena mereka menduga akan dibunuh orang-orang mereka sendiri.”
“Mereka juga takut akan dibunuh oleh kami (pihak AS),” tuturnya. (*)