Kemenag Ingin 1 Ramadhan Sama dengan Muhammadiyah!

Wakil Menteri Agama, Romo Syafi’i berharap pelaksanaan awal Ramadhan serentak antara Muhammadiyah dan pemerintah.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Syafi’i berharap penetapan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah dapat berlangsung serentak antara Muhammadiyah dan pemerintah melalui mekanisme sidang isbat. Harapan ini disampaikan menyusul perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah yang kerap memunculkan perbedaan tanggal awal puasa di Indonesia. Kemenag juga akan pastikan awal puasa dengan sidang isbat.

“Itu nanti sidang isbat. Kalau soal awal puasa kita membiasakan diri pakai sidang isbat,” ujar Romo Syafi’i kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (28/1).

Menurut Romo, sidang isbat merupakan mekanisme resmi yang selama ini digunakan pemerintah untuk menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Sidang ini mengombinasikan metode rukyatul hilal (pengamatan bulan secara langsung) dan hisab (perhitungan astronomi), serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari ormas Islam, pakar astronomi, hingga perwakilan lembaga terkait.

BACA JUGA: Survei Kepatuhan Ombudsman Diganti Opini, Sama dengan BPK

Kemenag Belum Pastikan Awal Pelaksanaan Sidang Isbat

Meski demikian, Romo belum mengungkapkan jadwal pasti pelaksanaan sidang isbat awal Ramadan 1447 H. Ia menyebut, Kementerian Agama masih akan menyesuaikan waktu pelaksanaan sidang dengan kalender hisab dan potensi visibilitas hilal di berbagai wilayah Indonesia.

“Mudah-mudahan bisa sama seperti tahun sebelumnya,” ungkapnya, merujuk pada harapan agar tidak terjadi perbedaan penetapan awal puasa di tengah masyarakat.

Seperti diketahui, perbedaan penentuan awal Ramadan kerap terjadi karena adanya perbedaan metode yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian organisasi kemasyarakatan Islam. Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal Ramadan berdasarkan hasil sidang isbat yang mengedepankan rukyatul hilal sebagai penentu akhir. Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yang berbasis perhitungan astronomi murni.

Muhammadiyah Tetapkan Ramadhan Lebih Dulu

Dalam konteks Ramadan 1447 H, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal puasa. Berdasarkan hasil hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan jatuh pada Selasa, 18 Februari 2026. Selain itu, Muhammadiyah juga menetapkan 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Penetapan lebih awal oleh Muhammadiyah ini bukan hal baru dan telah menjadi tradisi organisasi tersebut setiap tahun. Namun, kondisi ini kembali membuka ruang diskusi publik terkait potensi perbedaan awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah apabila hasil sidang isbat nantinya berbeda.

Romo Syafi’i menegaskan, pemerintah tetap menghormati perbedaan metode penetapan awal bulan hijriah yang dianut oleh masing-masing ormas Islam. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika keilmuan dan tradisi fiqh yang telah lama hidup di Indonesia.

Kesamaan Awal Ramadhan Punya Nilai Strategis Jaga Persatuan Umat

Meski demikian, ia menilai kesamaan penetapan awal Ramadan memiliki nilai strategis dalam menjaga persatuan umat. Keseragaman awal puasa dinilai dapat menciptakan suasana kebersamaan yang lebih kuat, terutama dalam pelaksanaan ibadah Ramadan yang bersifat komunal, seperti tarawih dan puasa bersama.

BACA JUGA: IHSG Rontok 7% di BEI, Bos BEI Ungkap Strategi Penanganan

Di sisi lain, Kementerian Agama (Kemenag) juga terus mendorong dialog dan komunikasi intensif dengan ormas-ormas Islam guna meminimalkan potensi perbedaan yang terlalu jauh. Upaya ini dilakukan dengan memperkuat kajian astronomi, meningkatkan kualitas rukyatul hilal, serta membuka ruang diskusi ilmiah yang inklusif.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap penetapan awal Ramadan 1447 H dapat diterima secara luas oleh masyarakat. Sidang isbat yang akan digelar nantinya diharapkan tidak hanya menjadi forum penetapan tanggal, tetapi juga sarana edukasi publik tentang pentingnya toleransi dalam menyikapi perbedaan penetapan hari besar keagamaan.

Keputusan akhir penetapan 1 Ramadan 1447 H oleh pemerintah akan diumumkan secara resmi setelah sidang isbat digelar. Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman tersebut sembari tetap menjaga sikap saling menghormati di tengah perbedaan yang mungkin terjadi.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like