NarayaPost – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan bahwa pemerintah terus memantau secara cermat perkembangan konflik yang tengah berlangsung di Republik Yaman, khususnya di wilayah timur Hadramout dan Al-Mahra yang menjadi episentrum eskalasi terbaru.
“Indonesia terus mengikuti dengan seksama perkembangan terkini di Republik Yaman dan mengapresiasi upaya lanjutan para pihak terkait untuk menjaga stabilitas dan keamanan, khususnya di wilayah Hadramout dan Al-Mahra,” bunyi pernyataan Kemlu RI di akun resmi X pada Rabu (31/12/2025).
Hadramout merupakan provinsi terbesar di Yaman dan memiliki nilai strategis tinggi, termasuk cadangan minyak serta peran sosial budaya yang penting. Bagi Indonesia, kawasan ini juga menjadi perhatian khusus karena Kota Tarim di Hadramout dikenal sebagai pusat pendidikan agama, tempat ribuan pelajar asal Indonesia menuntut ilmu dan hingga kini masih berada di sana.
BACA JUGA: OJK Telusuri Transaksi Keuangan Syariah Indonesia, Ada Apa?
Pernyataan Kemlu RI menggarisbawahi permintaan tegas pemerintah Indonesia agar seluruh pihak yang terlibat konflik menahan diri dan tidak melakukan tindakan sepihak yang berpotensi memperburuk kondisi keamanan. “Indonesia menegaskan kembali seruannya kepada semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan sepihak yang dapat berdampak pada kondisi keamanan,” tambah pernyataan tersebut.
Ketegangan di wilayah ini memuncak dalam beberapa pekan terakhir setelah militer Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap pelabuhan Mukalla di Hadramout pada 30 Desember 2025. Serangan itu dilaporkan menargetkan kiriman senjata dari Uni Emirat Arab (UEA) yang ditujukan untuk pasukan Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang beroperasi di selatan Yaman. Tindakan Riyadh ini kemudian memicu penarikan pasukan UEA dari sejumlah posisi di Yaman.
Reaksi terhadap serangan itu juga datang dari pemerintah Yaman yang akhirnya mencabut perjanjian pertahanan dengan UEA dan menuntut penarikan seluruh pasukan Emirat dalam 24 jam. Pemerintah Yaman menyatakan langkah ini sebagai respons atas dukungan UEA kepada STC yang dianggap mengancam kedaulatan nasional.
Selain konflik Saudi-UEA, pergerakan militer sepihak oleh STC di wilayah Hadramout dan Al-Mahra juga menjadi faktor meningkatnya ketegangan. Organisasi politik tersebut dilaporkan melakukan serangkaian aksi militer yang memperluas kontrolnya atas daerah timur Yaman, meningkatkan kekhawatiran akan ancaman terhadap keamanan nasional dan keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.
Dalam situasi yang makin kompleks ini, Kemlu RI kembali menegaskan bahwa Indonesia mendukung penyelesaian konflik melalui mekanisme damai. Pemerintah menekankan pentingnya dialog politik yang inklusif dan komprehensif di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan tetap menghormati pemerintahan Yaman yang sah serta integritas teritorialnya. Pendekatan diplomatik ini menjadi landasan kebijakan luar negeri Indonesia dalam merespons berbagai konflik internasional.
BACA JUGA: Gen Z Lebih Toleran Beragama Ketimbang Milenial dan Gen X
Pernyataan Indonesia selaras dengan seruan dunia internasional untuk mendorong de-eskalasi di Yaman. Uni Eropa, misalnya, baru-baru ini mengeluarkan peringatan bahwa perkembangan di Hadramout dan Al-Mahra dapat menimbulkan risiko bagi stabilitas kawasan Teluk secara lebih luas, menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menekan eskalasi.
Di tengah konflik yang terus bergolak, pemerintah Indonesia juga terus memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Yaman. Laporan dari organisasi diaspora menyebut bahwa meskipun ada insiden militer, pelajar Indonesia di Hadramout dilaporkan masih dalam kondisi aman dan aktivitas pendidikan tetap berjalan, meskipun dengan kewaspadaan dan arahan tertentu.
Dengan dinamika konflik yang terus berubah cepat, Kemlu RI menegaskan komitmen untuk terus mengawal isu ini di berbagai forum internasional serta menjaga keselamatan WNI di luar negeri, sembari mendorong solusi damai yang adil dan mengedepankan keamanan serta hak asasi manusia di Yaman.