NarayaPost – Pemerintah Indonesia dan Turki resmi menyepakati penguatan kerjasama pariwisata Indonesia Turki pada tahun 2025. Langkah ini mencakup sejumlah bidang strategis seperti pariwisata halal, wisata medis, promosi destinasi budaya, hingga peningkatan konektivitas penerbangan.
BACA JUGA : AC Milan Tumbangkan Udinese, Juventus Tertahan di Serie A Klasemen Liga Italia
Hubungan antara Indonesia dan Turki memiliki akar sejarah panjang, termasuk ikatan budaya dan keagamaan yang kuat. Kerjasama modern terjalin melalui forum internasional seperti PBB dan OKI. Dengan kesamaan nilai, kedua negara melihat sektor pariwisata sebagai peluang strategis untuk memperdalam hubungan bilateral.
Ada enam bidang utama dalam kerjasama pariwisata Indonesia Turki. Pertama, pariwisata halal, yang dianggap memiliki potensi pasar global sangat besar. Indonesia dan Turki sepakat menyelaraskan standar pelayanan halal, mulai dari hotel, restoran, hingga fasilitas pendukung.
Kedua, wisata medis atau medical tourism. Turki dikenal sebagai salah satu tujuan wisata medis terbaik dunia berkat biaya kompetitif dan layanan kesehatan berkualitas. Indonesia ingin belajar dari pengalaman tersebut untuk mengembangkan sektor wisata medis domestik.
Ketiga, promosi destinasi budaya. Turki berupaya memperkenalkan kota-kota bersejarah seperti Bursa, Konya, dan Kayseri, sementara Indonesia terus memperkuat destinasi alternatif di luar Bali, seperti Lombok, Labuan Bajo, dan Danau Toba.
Keempat, pertukaran pendidikan pariwisata. Institusi pendidikan di kedua negara akan menjalin program bersama, baik melalui beasiswa maupun pelatihan tenaga kerja. Kelima, peningkatan konektivitas penerbangan. Turkish Airlines berencana menambah frekuensi penerbangan langsung ke Jakarta, yang akan memperlancar arus wisatawan.
Keenam, pengembangan pariwisata berkelanjutan. Turki memperkenalkan konsep Green Star untuk hotel ramah lingkungan, Safe Tourism pasca pandemi, dan Zero Waste. Indonesia menyatakan kesiapan mengadopsi praktik tersebut agar pariwisata nasional lebih ramah lingkungan.
Turki mencatat 62 juta kunjungan wisatawan internasional sepanjang 2024 dengan pendapatan USD 61 miliar. Indonesia sendiri menargetkan lebih dari 14 juta kunjungan wisatawan asing pada 2025. Angka pertukaran wisatawan bilateral masih relatif kecil, sekitar 200 ribu warga Indonesia ke Turki dan 50 ribu warga Turki ke Indonesia. Dengan kerjasama pariwisata Indonesia Turki, jumlah ini diyakini bisa meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Kerjasama ini berpotensi mendatangkan sejumlah manfaat:
Selain itu, hubungan erat di sektor pariwisata diharapkan mendorong kerjasama di bidang lain seperti perdagangan, investasi, dan kebudayaan.
Meski potensial, kerjasama pariwisata Indonesia Turki tetap menghadapi tantangan. Pertama, standarisasi halal dan medis perlu disepakati jelas agar wisatawan merasa aman. Kedua, promosi dan branding destinasi harus konsisten di pasar internasional. Ketiga, infrastruktur destinasi baru harus dipersiapkan dengan matang agar wisatawan merasa nyaman.
Isu visa dan biaya perjalanan juga menjadi perhatian. Kedua negara diharapkan membuat kebijakan lebih ramah wisatawan untuk memperlancar mobilitas. Selain itu, aspek keberlanjutan lingkungan perlu diperhatikan agar tidak terjadi kerusakan destinasi akibat over-tourism.
Nota kesepahaman yang sudah ada sejak 1993 akan diperbarui agar lebih relevan dengan kebutuhan saat ini. Fokusnya adalah implementasi nyata di sektor pariwisata halal, wisata medis, konektivitas penerbangan, dan pendidikan pariwisata.
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk segera mengirim tenaga pariwisata ke Turki dalam program pelatihan bersama, sementara Turki berkomitmen mendukung promosi destinasi Indonesia di pasar Eropa dan Timur Tengah.
BACA JUGA : KPK Bongkar Uang Percepatan & Juru Simpan Kuota Haji
Penguatan kerjasama pariwisata Indonesia Turki menandai era baru hubungan bilateral kedua negara. Dengan fokus pada wisata halal, wisata medis, destinasi budaya, dan penerbangan, kerjasama ini berpotensi membawa keuntungan ekonomi, sosial, dan budaya.
Tantangan memang ada, tetapi dengan komitmen dan langkah nyata, Indonesia dan Turki dapat menjadi pusat pariwisata halal dan medis dunia. Kesepakatan ini bukan hanya agenda diplomasi, tetapi juga upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua negara melalui sektor pariwisata.