NarayaPost – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berencana memperpanjang masa ketahanan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Jika saat ini cadangan energi Indonesia hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 23 hari, pemerintah menargetkan ke depan stok BBM bisa mencukupi kebutuhan hingga minimal tiga bulan dalam kondisi darurat.
Rencana tersebut disampaikan Bahlil dalam konferensi pers mengenai dampak situasi geopolitik Timur Tengah di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3). Ia menegaskan bahwa persoalan utama yang selama ini dihadapi Indonesia bukan semata pada pasokan, melainkan pada keterbatasan infrastruktur penyimpanan (storage).
“Terkait dengan persoalan minyak kita yang 20 hari, sekarang 23 hari, memang standar nasional kita, storage kita, kita harus bangun storage dulu. Kalau bikin 240 hari makanya kita sekarang mau bangun storage untuk minimal 3 bulan,” ujar Bahlil.
BACA JUGA: Gerhana Bulan Total Malam Ini Dimulai Pukul 18.03
Menurutnya, peningkatan volume impor tanpa kesiapan tangki penyimpanan justru akan menimbulkan persoalan baru. Selama ini, kapasitas penyimpanan menjadi faktor pembatas sehingga stok BBM nasional tidak bisa diperbanyak secara signifikan.
“Kalau kita impor sebanyak itu kita mau taruh di mana? Itu kira-kira problem kita. Ini terjadi bukan, kita tidak usah menyalahkan siapa-siapa, memang faktanya begitu negara kita dan kita harus perbaiki,” katanya.
Pernyataan ini sekaligus menjelaskan mengapa cadangan energi Indonesia relatif lebih pendek dibanding sejumlah negara lain yang memiliki strategic petroleum reserve (SPR) dengan daya tahan berbulan-bulan. Bahlil mengakui bahwa pembangunan infrastruktur penyimpanan menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera direalisasikan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Sebelumnya, Bahlil sempat mengungkapkan bahwa cadangan BBM nasional hanya cukup untuk 20 hari. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia hendak menghadiri rapat terkait kondisi geopolitik terkini di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3).
“(Cadangan BBM) masih cukup, 20 hari,” ucapnya singkat kala itu.
Kekhawatiran terhadap ketahanan stok energi mencuat setelah meningkatnya tensi di Timur Tengah. Serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat disebut memicu penutupan operasional Selat Hormuz oleh Iran. Selat tersebut merupakan jalur vital distribusi minyak dunia dari kawasan Timur Tengah menuju Asia, termasuk Indonesia.
Penutupan jalur strategis itu berpotensi mengganggu rantai pasok minyak global dan mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak tentu tidak terlepas dari risiko tersebut, terutama jika konflik berlangsung dalam waktu lama.
Meski demikian, Bahlil memastikan hingga saat ini belum ada dampak langsung terhadap distribusi maupun ketersediaan BBM bersubsidi di dalam negeri. Pemerintah masih memantau perkembangan situasi sembari menyiapkan langkah antisipatif.
“Sampai hari ini enggak ada masalah (BBM subsidi), tapi harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” tuturnya.
BACA JUGA: Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia
Ia tidak menampik bahwa fluktuasi harga minyak global merupakan konsekuensi logis dari ketegangan geopolitik. Karena itu, penguatan cadangan energi nasional dipandang sebagai langkah strategis jangka menengah dan panjang untuk meminimalkan risiko gangguan pasokan serta gejolak harga.
Rencana pembangunan storage BBM ini diharapkan menjadi fondasi kebijakan ketahanan energi nasional. Dengan kapasitas penyimpanan yang lebih memadai, pemerintah memiliki ruang manuver lebih besar dalam mengelola impor, menjaga stabilitas pasokan, serta meredam dampak gejolak global terhadap ekonomi domestik.
Ke depan, realisasi proyek infrastruktur penyimpanan akan menjadi kunci apakah target ketahanan tiga bulan dapat tercapai. Di tengah dinamika geopolitik yang kian tidak menentu, penguatan cadangan energi menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga stabilitas nasional.