NarayaPost – Ketegangan meningkat di aksi protes Gen Z sejak 27 September 2025, sejumlah kota di Maroko diguncang oleh gelombang demonstrasi besar yang dipimpin oleh kaum muda, yang mengorganisir diri dengan nama GenZ 212. Protes ini dipicu oleh kemarahan publik terkait kematian delapan wanita dalam operasi sesar di sebuah rumah sakit pemerintah di Agadir, insiden yang menjadi simbol kegagalan sistem kesehatan nasional. Aksi ini dengan cepat menyebar ke minimal 11 kota besar, termasuk Rabat, Casablanca, Agadir, dan Marrakesh, dengan memanfaatkan platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Discord untuk mengkoordinasi dan memperluas gerakan.
Demonstrasi yang dipelopori oleh GenZ 212 ini menuntut reformasi menyeluruh dalam sistem pelayanan kesehatan dan akuntabilitas pemerintah atas insiden tragis tersebut. Selain fokus pada kesehatan, para pengunjuk rasa juga menyoroti isu-isu sosial dan ekonomi yang dirasakan kaum muda, seperti tingginya pengangguran dan kurangnya kesempatan. Pihak berwenang Maroko telah meningkatkan kehadiran polisi di beberapa titik panas demonstrasi, namun para peserta terus menuntut dialog terbuka dan perubahan nyata dalam kebijakan publik.
Para pengunjuk rasa menegaskan tuntutan mereka tidak hanya terbatas pada perbaikan sistem kesehatan yang selama ini dinilai buruk, tetapi juga meluas ke sektor pendidikan yang masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya fasilitas dan kualitas pengajar yang memadai. Selain itu, mereka menyerukan adanya peningkatan kesempatan kerja yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda yang menghadapi tingkat pengangguran tinggi di Maroko. Selain itu, transparansi dalam pengelolaan anggaran publik menjadi sorotan utama, karena banyak yang merasa dana negara lebih banyak dialokasikan untuk proyek-proyek megah yang tidak langsung menyentuh kebutuhan rakyat sehari-hari.
BACA JUGA: 52.400 Ton Jagung Disalurkan ke Peternak, Harga Stabil
Kritik keras juga diarahkan pada kebijakan pemerintah yang dinilai lebih fokus mengalokasikan dana besar untuk pembangunan stadion dan infrastruktur olahraga menjelang Piala Dunia 2030, ketimbang memperbaiki layanan dasar seperti rumah sakit dan sekolah. Slogan populer yang sering dilantangkan dalam demonstrasi, “Stadiumnya ada, tapi rumah sakit mana?” menggambarkan rasa frustrasi dan kemarahan masyarakat yang merasa prioritas pembangunan negara tidak berpihak pada kesejahteraan rakyatnya. Kondisi ini mempertegas ketidakpuasan yang meluas di kalangan kaum muda, khususnya generasi Z yang memandang kebijakan pemerintah tidak responsif terhadap apa yang dibutuhkan,
Pada Rabu (1/10) di Leqliaa, terjadi bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan yang berujung pada tewasnya sedikitnya 2 hingga 3 demonstran akibat insiden penembakan, sebuah kejadian yang langsung memicu kecaman luas dari berbagai kalangan serta tuduhan keras mengenai penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan Maroko meskipun demikian, pemerintah setempat membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan yang diambil adalah untuk meredam eskalasi yang berpotensi membahayakan ketertiban umum, dan bersedia untuk membuka dialog demi mencari solusi yang damai.
Laporan resmi menyebutkan bahwa lebih dari 409 orang telah ditahan selama demonstrasi, sementara jumlah korban luka cukup signifikan, termasuk sekitar 263 personel militer dan polisi yang juga mengalami cedera dalam bentrokan dengan pengunjuk rasa yang membuat situasi ini mendapat sorotan dari lembaga hak asasi manusia internasional seperti Amnesty International yang mendesak dilakukannya investigasi independen terkait kematian serta tindakan represif aparat keamanan, dengan penekanan bahwa penggunaan kekuatan mematikan harus benar-benar dibatasi hanya pada kondisi-kondisi yang sangat ekstrem dan tidak dapat dihindari.
BACA JUGA: Golongan Darah Bisa Melihat Risiko Kesehatan Manusia, Simak!
Di tengah meningkatnya eskalasi di berbagai kota, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengeluarkan imbauan resmi agar seluruh pihak menahan diri, menjaga agar aksi berlangsung damai, serta menghormati prinsip-prinsip hak asasi manusia. Ia menekankan pentingnya dialog sebagai jalan keluar dari ketegangan sosial yang berkembang di Maroko. Menanggapi seruan internasional tersebut, pemerintah Maroko menyatakan kesiapan untuk membuka ruang diskusi dengan generasi muda, termasuk Gen Z, dalam kerangka kelembagaan dan konstitusional. Meski demikian, otoritas setempat belum memberikan sinyal untuk mengubah secara signifikan agenda besar nasional seperti pembangunan stadion dan infrastruktur menjelang Piala Dunia 2030, yang selama ini dianggap oleh para demonstran sebagai simbol ketimpangan prioritas negara.
Ketegangan meningkat di aksi protes Gen Z Maroko menjadi salah satu protes sipil terbesar dalam beberapa tahun terakhir, menandai titik balik di mana generasi muda menuntut agar pemerintahan tidak hanya membangun citra global, tetapi juga memperhatikan kualitas hidup warga. Dalam konteks politik Maroko yang selama ini relatif stabil, lonjakan perlawanan dari kelompok muda memperlihatkan bahwa ketimpangan sosial, buruknya layanan dasar, dan ketidakpuasan terhadap prioritas anggaran negara telah menciptakan jurang kepercayaan yang makin dalam. Aksi ini tidak hanya mempersoalkan sistem kesehatan yang rapuh, tetapi juga menyuarakan krisis keadilan sosial yang lebih luas. Pemerintah kini menghadapi tekanan domestik yang nyata untuk membuka dialog serius dan menjalankan reformasi struktural, atau berisiko kehilangan legitimasi di mata generasi yang tumbuh dengan akses informasi global dan harapan akan masa depan yang lebih adil.