NarayaPost – Kenaikan harga emas global dalam beberapa waktu terakhir turut memberikan dampak signifikan, seakan-akan menjadi kilau emas di pasar logam mulia di dalam negeri. Harga emas batangan di Indonesia terus bergerak naik mengikuti lonjakan harga emas dunia. Namun di tengah tren penguatan tersebut, masyarakat justru dihadapkan pada persoalan lain, yakni semakin terbatasnya stok emas fisik di berbagai gerai penjualan.
Pengamat Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai kondisi pasar emas saat ini tergolong unik sekaligus menantang, terutama bagi investor ritel. Ia menjelaskan, fenomena harga emas yang terus naik tetapi ketersediaan barang justru langka dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal, mulai dari lonjakan permintaan hingga persoalan distribusi.
Menurut Wahyu, ketika harga emas dunia mencetak rekor baru dan sempat menyentuh level USD 5.000 per troy ons pada awal Februari 2026, masyarakat cenderung bereaksi cepat dengan memborong emas. Dorongan ini muncul dari kekhawatiran harga akan semakin mahal, sekaligus keinginan mengamankan nilai kekayaan dari tekanan inflasi global. “Saat harga emas dunia menembus rekor, masyarakat berbondong-bondong membeli karena fear of missing out dan kebutuhan lindung nilai,” kata Wahyu, Minggu (15/2).
BACA JUGA: Dapur Haji Dipastikan Memiliki Standar yang Berkualitas
Di sisi lain, produsen emas batangan dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Wahyu mengungkapkan, kendala operasional serta terbatasnya modal kerja membuat produsen tidak sepenuhnya mampu menyerap bahan baku dan mengolahnya menjadi emas batangan dalam jumlah besar. Akibatnya, stok yang benar-benar dikuasai produsen hanya sekitar 30 persen, sementara sebagian besar lainnya berada di tangan grosir dan distributor besar.
Kondisi volatilitas harga yang sangat tinggi juga mendorong sebagian distributor dan butik emas menahan penjualan. Langkah ini diambil untuk menghindari potensi kerugian akibat perubahan harga yang ekstrem dalam waktu singkat. Selain itu, gangguan rantai pasok bahan baku turut memperlambat proses pengisian ulang stok di gerai fisik, sehingga kelangkaan emas batangan semakin terasa di tingkat konsumen.
Meski demikian, Wahyu menegaskan bahwa emas tetap relevan sebagai instrumen investasi jangka panjang. Perannya sebagai aset safe haven masih kuat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Namun untuk tujuan jangka pendek, emas fisik dinilai kurang ideal saat ini karena spread harga beli dan jual yang melebar, serta sulitnya mendapatkan barang di pasar.
BACA JUGA: Kirim Tentara ke Gaza, Bela Palestina Atau Legitimasi Genosida?
Sebagai alternatif diversifikasi, Wahyu menyarankan investor mempertimbangkan instrumen lain seperti obligasi negara dengan kupon stabil dan risiko rendah, saham blue chip sektor perbankan, emas digital yang lebih likuid dan bisa dibeli dalam nominal kecil, serta reksa dana pasar uang sebagai sarana parkir dana. Bagi investor berprofil risiko tinggi, fluktuasi harga emas bahkan dapat dimanfaatkan melalui pasar berjangka.
Sementara itu, Pengamat Emas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan kilau emas masih berpotensi melanjutkan tren kenaikan dalam beberapa pekan ke depan. Ia menilai penguatan harga emas dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta sentimen global. Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat, turut memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai.
Harga emas dunia dan domestik kini dinilai memasuki fase historis. Lonjakan harga global yang menembus USD 5.000 per troy ons mendorong harga emas batangan di Indonesia melampaui Rp 3 juta per gram. Ibrahim bahkan memproyeksikan harga emas domestik berpotensi menembus Rp 4,2 juta per gram pada 2026, seiring berlanjutnya ketidakpastian global dan tingginya minat masyarakat terhadap emas sebagai investasi jangka panjang.